This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

(CATATAN JURNALIS) : AWAL PERJALANAN (Part 1)

(CATATAN JURNALIS) : AWAL PERJALANAN (Part 1)

DESEMBER 2018

Sebuah buku catatan ditemani bolpoin, terpangku cantik di pahaku. Gelas kosong yang tadinya berisi kopi kemasan, berdiri diam di sebelah laptop-ku. Pengeras suara portable, dengan syahdu memainkan musik kesukaanku. Disinilah… sendiri… aku mengingat perjalanan hidup yang telah aku tempuh. Kadang kesendirian memang menjadi sumber inspirasi mendadak.

Kegalauan tiba-tiba meresap seiring dengan lagu sedih yang otomatis melantun. Kerinduan akan masa itu tidak bisa aku pungkiri hingga sekarang. Aku masih menyandang status jurnalis. Tapi rasa bangga yang dulu pernah aku rasakan, perlahan meresap ke dalam bumi. Mungkin sedikit lagi rasa itu akan hilang tak berbekas.

***

***

AGUSTUS 2016

“Selamat ya, Luna!” Ria, salah satu teman kantor, tiba-tiba menepuk pundakku dari belakang. Aku menoleh dan terheran.

“Hah? Selamat buat apa? Ulang tahun gue masih lama kok.”

“Iiiih bukan itu!!! Selamat karena lo di rolling ke Tanah Airku! Cocok banget lo di program itu. Sesuai lah sama hobi lo naik gunung. Tanah Airku kan liputannya ke daerah-daerah terpencil gitu.” Aku melongo dibuatnya.

“Cem-macem lu candanya. Mana mungkin gue ke program itu. Itu kan salah satu program andalan di news. Daku mah apa atuh.”

“Yeee, gak percaya. Liat sana di papan. Ada kertas rolling-an baru di tempel.”

Cepat-cepat aku melihat papan yang sudah terisi dengan berbagai kertas permberitahuan. Seperti kata Ria, namaku terpampang jelas di program Tanah Airku. Seketika, perasaanku bercampur aduk. Antara senang, bangga, sedih, dan takut. Hari itu, hampir semua temanku memberikan selamat. Mereka pikir aku pantas di program Tanah Airku. Aku mengamini. Tapi hati kecilku tidak bisa berbohong. Aku merasa sangat tidak pantas diberikan kepercayaan di program seberat ini.

***

Hatiku panas mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut atasanku, Rian. Tapi seperti biasa, anak buah harus menurut. Aku mengangguk-angguk.

“Lo tau gak alasan kenapa lo bisa di rollilng kesini? Kita emang lagi butuh reporter cewek yang tough. Waktu itu Dion rekomendasiin lo. Katanya, kalo dari instagram, lo suka naik gunung. Tapi kan feed instagram bisa aja cuma buat pencitraan. Tapi kita coba dulu lah. Minggu depan lo liputan tandem sama Tari dan Josi ke Lombok Timur. Mulai hari ini lo riset untuk liputan satu episode. Pesen gue, jangan kecewain gue sama Dion. Sebenernya banyak yang nentang keputusan lo di rolling kesini karena lo masih anak baru. Tapi gue sama Dion berusaha ngeyakinin yang lain. Sekarang karena lo udah disini, cuma lo yang bisa buktiin kalo omongan mereka tuh salah. Buktiin kalo lo pantes di program Tanah Airku.”

Ya… walaupun kata-kata Rian cukup membuatku kesal, tapi ada benarnya juga. Aku berusaha untuk menjadikannya motivasi. Hari itu pun aku berusaha untuk riset materi liputan sesuai dengan segmentasi Tanah Airku.

Meriset materi liputan Tanah Airku sama sekali berbeda dengan meriset program lamaku yang hanya seputar kuliner dan hal unik yang terjadi di masyarakat perkotaan. Google tidak mempunyai akses hingga daerah terpencil. Karena kebanyakan daerahnya tidak mempunyai sinyal dan jarang terjamah masyarakat milenial. Setelah bertanya ke para senior, aku pun mendapat satu daerah yang berpotensi untuk diliput.

Pitching (pertemuan untuk mengajukan dan mendiskusikan hasil riset) pertamaku pun tiba. Dengan sedikit keraguan aku pun menyampaikan materi yang telah aku dapatkan. Ketika semua setuju, aku bisa bernapas lega dan berharap semua akan berjalan lancar di lapangan.

***

***

SEPTEMBER 2016

Aku berusaha dekat dengan Tari. Reporter senior yang menurutku, selain cantik tapi juga sangat keren. Dibalik sosoknya yang kecil mungil, dia bisa bertahan di program Tanah Airku selama lebih dari dua tahun. Tapi aku bukan tipe orang yang senang berbasa-basi dan cepat dekat dengan seseorang. Apalagi dengan sifat Tari yang cukup pendiam dan tidak banyak omong. Aku bingung dibuatnya.

“Yah, tempat duduknya yang satu misah. Luna, kamu gapapa duduk misah sendiri?” Tanya Tari setelah menukar tiket pesawat di konter penerbangan.

“Oh, gapapa, mbak. Santai aja.” Jawabku sambil tersenyum.

Aku, Tari, dan Josi, juru kamera kami pun bersama menuju ke pesawat dengan tujuan bandara Zainuddin Abdul Madjid di Lombok Tengah.

Setelah dua jam perjalanan, kami pun sampai. Bram, seorang sopir yang telah di kontak Tari beberapa hari sebelumnya telah menunggu. Bram lah yang akan menemani kami selama 15 hari di Lombok.

Dengan mobil minibus berkapasitas 6 orang, kami pun membelah kota Lombok Tengah yang gersang. Lokasi liputan kali ini ada di Lombok Timur.

***

Kami tiba di Lombok Timur sekitar 3 jam perjalanan. Selesai check in di hotel dan mandi, kami kembali ke luar untuk bertemu dengan narasumber Tari. Mulai dari sini, Ovan mulai menemani. Dia adalah seorang fixer (warga setempat yang menjadi informan dan membantu tim selama liputan).

Narasumber Tari sudah menunggu di rumah kepala desa dengan berbagai camilan lokal. Aku yang masih belajar, hanya bisa melihat para senior berkomunikasi dengan narasumber. Sebagai seorang juru kamera, Josi ternyata sangat pandai berkomunikasi. Dia beberapa kali membantu Tari menjelaskan berbagai hal kepada narasumber.

***

Hari pertama liputan di Desa Perigi, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, aku sangat bersemangat. Ternyata liputan kali ini masih di daerah yang ada sinyal. Walaupun dengan status edge, tapi aku masih bisa mengirim sms atau menelepon keluarga dan pacarku di Jakarta.

Episode pertama Tari menggarap tentang pekerjaan ekstrim yang dilakukan warga setempat untuk mencari nafkah. Satu episode biasanya membutuhkan dua hingga tiga item. Item pertamanya adalah para petani yang harus mempertaruhkan nyawa dengan naik di atas kereta gantung yang sangat rapuh.

Josi mengambil gambar Tari berjalan dengan dua orang narasumbernya. Aku memperhatikan betapa kerennya Tari ketika dia melakukan PTC (piece to camera), atau berbicara ke kamera.

“Kok Mbak Tari keren sih. One take ok banget!” Pujiku di sela-sela perjalanan.

Tari tersenyum. “Gak kok. Kadang juga suka salah, terus ngulang.” Aku tersenyum mendengar jawabannya. Ternyata Tari tidak sombong. Meskipun dia keren.

Bersama dengan para narasumber, kami berjalan membelah bukit di kaki gunung rinjani. Bagaimana tidak bersemangat, mendaki gunung rinjani menjadi salah satu targetku. Untuk sementara, bisa berjalan di kakinya pun sudah membuatku senang.

Tidak sampai satu jam berjalan, kami tiba di titik utama.

“Jadi ini kereta gantungnya, mbak. Kita biasanya ngangkut hasil panen pakai ini. Karna kalo manggul ngelewatin jalan tadi, capek banget. Tau sendiri kan jalanannya terjal banget.” Salah satu narasumber, Pak Firas menjelaskan.

Di dataran terendah bukit ini, terdapat para petani yang sedang bekerja, dan sebuah kotak kayu, tanpa penutup. Para petani mengangkat hasil panennya, dan meletakkannya ke dalam kotak itu. Perlahan, kotak kayu yang bertumpu pada seutas tali itu bergerak ke atas, menuju ke atas bukit. Di atas bukit sana, sudah ada warga yang siap membantu. Ketika kotak sudah kosong, mereka yang di atas pun mengembalikan kotaknya ke bawah bukit. Proses tersebut berulang hingga hasil panen warga di bawah habis.

“Katanya petaninya ikut naik di kotaknya juga, Pak?” Tanya Tari setelah memperhatikan proses pengangkutan hasil panen.

“Iya, kadang-kadang, mbak.”

“Tapi aman kan, Pak?” Josi menimpali.

“InsyaAllah aman, mas. Kita udah biasa begitu kok.”

“Yaudah, kita ambil gambar Bapak jalan sama Tari, terus ngangkut-ngangkutin karung-karung padinya, terus Bapak sama Tari ikut naik ke kotaknya, ya.” Jelas Josi.

Proses peliputan pun kembali berjalan. Karena merasa tidak ada kerjaan, aku pun memotret setiap momen dengan kamera dslr-ku. Tentu saja sambil terus memperhatikan PTC yang dilakukan Tari. Dia juga kerap melakukan chit chat atau wawancara singkat dengan narasumber.

Ketika Tari sudah diangkut ke atas, aku pun ikut mencoba kereta gantung itu. Senyum tidak lepas dari bibirku. I love this kinda thing!!!

Liputan hari pertama kami pun selesai dengan lancar.

***

Hari berikutnya kami liputan mencari madu. Pemandangan sekitar membuatku terpana. Tanaman tembakau dengan suburnya tumbuh di kiri dan kanan kami. Sapi-sapi sehat yang berbadan besar dengan khusyuknya berkeliaran, duduk, bahkan tiduran di tengah jalan. Perjalanan kali ini cukup panjang. Setelah hampir dua jam mendaki perbukitan yang terjal, kami pun sampai di sebuah pohon besar. Ada sebuah sarang lebah yang sangat besar menggantung di salah satu batang pohon tertinggi.

Sebelum memanjat, para narasumber yang merupakan pencari madu, dengan sigap membakar dedaunan, untuk melindungi kami dari sengatan. Karena lebah takut asap.

Setelah itu, salah satu pencari madu dengan lincahnya memanjat pohon. Tidak sampai 10 menit, dia tiba di atas sarang lebah. Kami yang di bawah telah bersiap menutupi seluruh badan dengan sarung, jaket, dan apa saja yang bisa digunakan, untuk mengantisipasi sengatan.

Benar saja. Puluhan lebah yang geram, terbang tidak beraturan. Untung ada asap yang mengebul. Jadi tidak ada satu lebah pun yang berani mendekat.

“Miris sekali. Setelah berjalan mendaki bukit yang terjal, dan mengambil sarang lebah di pohon yang sangat tinggi, ternyata mereka tidak mendapatkan hasil. Madu yang dihasilkan sangat sedikit. Tapi masih ada satu tempat lagi. Semoga disana kami bisa mendapatkan hasil yang banyak.” PTC Tari melantun dengan lancarnya.

Dari situ, kami pun melanjutkan perjalanan ke titik kedua. Kali ini bukan pohon yang menjadi target, melainkan tebing. Di atas tebing yang berbatasan langsung dengan jurang, terdapat sebuah sarang lebah. Tari, Josi, dan dua narasumber pencari lebah, lanjut shooting. Sedangkan aku, Ovan, dan warga lain yang ikut menemani, menunggu sekitar 100 meter dari titik shooting.

Lokasi kali itu sangat terjal. Benar-benar di pinggir jurang dengan jalur yang hanya muat untuk satu orang. Jadi kami harus berjalan dengan cara berbaris.

Sarang lebah kedua juga ternyata lebih sedikit madunya daripada yang pertama. Ya… apa boleh buat. Kami pun berjalan kembali ke desa karena hari beranjak sore. Aku, Ovan, dan warga lain yang menemani berjalan di depan Tari, Josi, dan dua narasumber. Karena mereka masih shooting. Ketika sedang asyik meniti tapak di jalur terjal itu, tiba-tiba Tari berteriak. Kami yang di depan otomatis menoleh ke belakang.

“AAARRGGGHHH!!!” Kejadian itu begitu cepat. Bahkan aku pun tidak sempat berteriak. Tari menginjak tanah lembek yang menyebabkannya hilang keseimbangan. Tepat ketika dia merosot kebawah jurang, Pak Heri dengan sigap meraih tangan kiri Tari. Alhasil, mereka berdua pun merosot bersama kebawah. Mungkin kalau Pak Heri masih muda dan tampan, itu akan menjadi momen romantis.

“TARIII???!!!” Teriakan Josi membuyarkan lamunanku. Dia menjulurkan lehernya untuk melihat ke bawah, tempat Tari terjatuh. “TARIIII???!!!”

“MBAK TARIIII!!!” Aku pun ikut berteriak khawatir. Tidak ada suara Tari terdengar sama sekali.

“Suaranya masih kedengeran di clip on.” Josi berkata lemah sambil terus membidikkan kameranya ke bawah, berharap dapat menangkap Tari dengan lensa kameranya. “TARI! KALO DENGER, COBA NGOMONG. GUE MASIH DENGER SUARA DI CLIP ON!” Josi berteriak lagi. Beberapa menit yang menegangkan terus berjalan.

“Gimana mas???” Tanyaku pelan tapi mendesak.

“ADA! Ada suaranya! Dia lagi usaha ke atas.” Josi terlihat lega, tapi tidak berhenti merekam setiap momen.

Hampir setengah jam berlalu. Akhirnya, salah satu tangan Tari terlihat menjulur ke atas. Pak Kas, salah satu pencari madu yang berada di sebelah Josi pun menarik Tari ke atas.

Tari tersenyum, tapi tidak bisa menyembunyikan air mata yang mengalir di pipinya. Sambil terisak, dia menghadap kamera dan berbicara.

“Jalur kali ini benar-benar di tepi jurang. Tadi gak sengaja saya menginjak tanah yang terlalu gembur, dan terperosok ke bawah. Untung ada Pak Heri yang sigap nolongin. Kalo engga, gak tau nasib saya akan seperti apa. Gak kebayang ya, warga harus ngelewatin trek seperti ini setiap hari untuk cari nafkah…”

Kamera terus merekam. Setelah keadaan Tari sudah stabil, Josi menyampirkan kameranya di bahu dan menepuk pundak Tari.

“Gapapa, kan? Gak luka kan???” Tanya Josi. Terlihat sekali di wajahnya bahwa dia sangat khawatir. Tari menggeleng lemah. Josi mengusap-usap punggung Tari, menenangkannya. Ini baru adegan romantis… Josi yang berwajah manis dan berbadan tinggi-besar, terlihat gagah. Sangat cocok dengan Tari. Tapi sayang, Josi sudah beristri dan punya satu anak.

Setelah beberapa menit pasca terjatuhnya Tari, kami pun melanjutkan perjalanan dengan lebih berhati-hati, dan tiba di desa dengan selamat.

Show must go on. Sesampainya di desa, Josi dan Tari masih harus shooting adegan lanjutan. Yaitu memeras sarang lebah dan memasukkan madunya ke dalam botol. Menjelang petang, kami baru bisa pulang ke hotel.

 

***

Episode pertama selesai sudah. Pagi itu kami check out dari hotel pertama. Selanjutnya, kami akan menginap di rumah warga. Tujuan kali itu adalah Pulau Maringkik.

Di dermaga penyeberangan terdapat beberapa perahu yang terparkir asal. Sudah ada belasan anggota puskesmas yang menunggu Tari. Setelah berbincang sebentar, liputan pun dimulai.

Kami harus menyeberang dengan perahu kecil selama kurang lebih setengah jam. Mengapa anggota puskesmas ikut serta? Karena di dalam pulau tidak ada tenaga medis yang bertugas. Hari itu, puskesmas mengadakan posko kesehatan demi kebutuhan liputan.

Sesampainya di Pulau Maringkik, deretan rumah warga melintang di seluruh pulau. Dari dermaga terlihat bahwa pulau itu sangat padat dan banyak penduduknya.

Anggota puskesmas menggelar posko kesehatan di aula yang telah disediakan. Warga berbondong-bondong memeriksakan kesehatannya. Dari wajah mereka, tersirat ekspresi ‘ogah-ogahan’. Aku tahu kenapa. Karena puskesmas jarang sekali ke Pulau Maringkik. Sekalinya datang, karena ada liputan. Pencitraan. Ya, itulah yang sering dilakukan tenaga kerja negeri sosial. No hard feeling. Inilah hasil pengamatanku di lapangan.

Liputan posko kesehatan memakan waktu tidak lebih dari 2 jam. Setelah beristirahat beberapa saat, kami meliput item selanjutnya tentang pendidika. Disana terdapat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Tapi untuk kelas satu SD, tidak ada kelas seperti kelas lainnya. Ruangan untuk kelas satu seadanya. Yang tertutup hanya atapnya. Sehingga binatang dari mulai kambing, ayam, dan teman-temannya bisa ikut belajar kapan saja.

Setelah hari yang lumayan panjang, akhirnya kami bisa pulang ke rumah kepala desa. Josi tidur di teras, sedangkan aku dan Tari tidur di lantai ruang tamu.

***

Hari kedua di Pulau Maringkik, Tari dan Josi meliput tentang air bersih. Di Pulau itu, air bersih memang sangat susah. Warga harus mengambil air di pulau seberang atau menampung air hujan. Sedangkan hujan sangat jarang turun di daerah tandus seperti itu.

Untuk mandi saja, warga berendam di laut, sabunan, sikat gigi, dan lain-lain disana. Jika sudah selesai, barulah mereka bilas dengan air bersih. Tapi dengan jumlah yang sangat irit.

“Luna, kamu tunggu sini aja ya. Kita mau shoot ambil air di pulau seberang. Perahunya kecil, gak muat kalo orangnya banyak.” Ucap Tari. Sedikit kecewa, aku pun mengiyakan. Padahal aku sangat ingin ikut dengan mereka. Aku ingin melihat seperti apa cara mereka mengambil air. Karena itu adalah hal baru buatku. Akhirnya aku hanya bisa menunggu di pinggir dermaga bersama dengan dua orang warga yang sedang bersantai di gubuk.

Tidak adanya sinyal membuatku mati gaya. Mungkin dua orang bapak-bapak melihat kecanggunganku, dan akhirnya mengajak ngobrol.

“Kenapa gak ikut shooting?” Tanya salah seorang bapak-bapak.

“Perahunya gak muat, Pak.” Jawabku sambil tersenyum. “Emang kayak gimana sih pulau yang untuk ambil air itu? Jauh gak dari sini?”

“Ya lumayan jauh. Kurang lebih satu jam. Mungkin temanmu balik kesini lagi pas magrib.”

Aku melihat jam tangan, masih jam 3 sore. Harus berapa lama aku menunggu mereka? Kalau aku pulang kerumah kepala desa sendiri, iseng juga. Akhirnya aku pun melanjutkan perbincangan dengan dua bapak-bapak itu.

Tidak terasa, perbincangan dengan warga setempat menjadi sangat menyenangkan. Hingga matahari pun terbenam perlahan.

“Ih apa itu, Pak?!” Tanyaku, ketika melihat dua orang anak kecil sedang mengayuh sebuah perahu. Disebut perahu juga sebenarnya tidak pantas. Itu hanyalah kotak persegi panjang yang terbuat dari gabus dan dijadikan perahu oleh anak-anak.

“Oh itu perahu kecil. Biasa untuk mainan. Tapi orang dewasa juga sering pakai untuk nyebrang ke tempat yang deket-deket dari sini. Mau coba?” Tanpa ditanya dua kali, aku mengangguk keras.

Matahari terbenam saat itu menjadi saksi kegembiraanku. Seperti dua anak kecil yang baru aku lihat. Aku pun tertawa lepas seperti mereka. I love it! I love the sea! I love the sunset! Saat itu aku berharap Josi dan Tari tidak segera pulang.

Semilir angin pantai yang sejuk memeluk tubuhku. Sunset yang hangat membungkus jiwaku. Kumainkan lagu faforitku untuk melengkapi suasana senja itu.

Setelah beberapa menit berkeliling, aku dan Pak Diman pun kembali menepi. Detik-detik terakhir matahari menghilang di balik lautan, aku nikmati sambil duduk di dermaga.

Tidak lama setelah langit berubah gelap, Josi dan Tari muncul di atas perahu. Akhirnya setelah menunggu lama, kami pun bisa kembali ke rumah kepala desa bersama.

Setelah hari yang panjang, kami pun berniat untuk mandi. Giliran pertama jatuh kepada Josi. Kemudian Tari menyuruhku duluan. Disana tidak ada kamar mandi yang layak. Ditambah tidak adanya lampu di bagian belakang, aku pun mandi dalam keadaan gelap. Untung ada telepon genggam, jadi aku memutar musik untuk meramaikan ritual mandiku. Setelah aku mandi, Tari pun bersiap ke belakang.

“Gelap ya?” Tanyanya.

“Iya, mbak. Gelap banget. Harus pake headlamp.

“Duh mau pup lagi. Josi, temenin dong…”

Dengan sigap, seperti disuruh kekasih, Josi pun beranjak bangun dan menemani Tari ke belakang. Aku terdiam.

‘Kekasih’? Hmmm… Kenapa Tari gak minta temenin gue? Josi kan laki. Kalo gue di posisi Tari, gue pasti minta temeninnya cewek juga. Selama ada cewek, untuk hal yang kayak gitu kan, pasti nyarinya cewek juga…

Aku menggelengkan kepala.

Ah, mungkin emang Tari nyamannya sama Josi. Pikirku. Aku pun beranjak duduk di atas gubuk dan bergabung dengan Ovan yang sejak pagi menunggu dan menjaga barang-barang kami di rumah kepala desa.

***

“Saya pulang dulu ya…” Ucap Ovan setelah menyantap sarapan. Aku, Tari, dan Josi seketika menatap ke arahnya.

“Maksudnya?” Tanya Tari.

“Iya, saya ada urusan sebentar di kota. Mau nyebrang dulu. Nanti kesini lagi.”

“Bener kesini lagi, mas?” Tanyaku sedikit ragu dan was was. Aku tidak mau jadi sendirian. Apalagi setelah merasa bahwa Tari dan Josi ternyata sangat ‘dekat’. Dari ekspresinya, Ovan sudah tidak betah berada di Pulau Maringkik.

“Iya, bener.” Ovan pun beranjak ke dermaga sendiri.

“Yah, mau gak mau Luna harus disini jaga barang. Bram juga ga mau ikut kesini kemarin, alesannya jaga mobil di sebrang. Gak recommended banget tuh driver. Gak pernah bantuin liputan. Selalu nunggu di mobil. Nanti gue laporin ke bosnya, Pak Edi, ah.” Josi mengeluh.

Dengan terpaksa, aku menurut. Padahal aku ingin ikut liputan. Masih banyak ilmu yang harus aku serap. Tapi yasudahlah, ambil hikmahnya. Aku jadi tidak panas-panasan dan bisa menonton film di laptop.

Menjelang siang hari, rasa jenuh mulai menggerogotiku. Aku terdiam melihat sekeliling.

Mbeeekkkk…

Ya, di Pulau ini memang banyak sekali kambing yang berkeliaran. Tidak ada yang dikandangi satu pun. Aku heran kenapa mereka bisa bertahan hidup di pulau gersang itu. Tidak ada rumput, tidak ada air bersih.

Tunggu! Aku memperhatikan gelagat kambing-kambing itu.

Oh my…!!! Ternyata mereka dengan asyiknya sedang memakan kardus, kertas, dan sejenisnya yang berceceran di tanah. Untuk meyakinkan, aku pun merobek kardus air mineral di sebelahku, dan menjulurkannya ke salah satu kambing.

Dengan lahap, kambing itu memakannya hingga habis. Aku terkesiap. Belum pernah aku melihat kambing memakan kardus. Benar-benar kasihan. Bagaimana nasibnya manusia yang memakan daging kambing yang mengkonsumsi kardus? Iyuh…

Jenuh bermain dengan kambing, aku kembali bengong. Seketika itu juga aku mendengar musik dari kejauhan. Tidak mungkin ada yang menyalakan musik tengah hari seperti itu. Karena listrik dimatikan sejak pukul 7 pagi hingga 5 sore hari disana.

Aku mencari sumber suara. Beberapa menit kemudian seorang laki-laki tua berjalan sambil menggendong kotak alumunium. Kotak-kotak itu tersampir rapi di depan perutnya. Ternyata suara musik itu datang dari tabuhan tangan lelaki tua itu ke kotak alumuniumnya. Lagi-lagi aku terkejut. Kenapa kotak-kotak itu mengeluarkan nada yang berbeda-beda hingga mengeluarkan irama? Aku pun memanggil bapak itu.

“Pak, beli!” Si bapak menghampiriku. “Jual apa, Pak?”

“Ini gulali” Jawab si bapak sopan.

“Oh yaudah beli 10 ribu, Pak.” Aku memperhatikan si bapak yang sedang menyiapkan gulali yang biasa aku sebut rambut orang asing. “Pak, punya nomor HP gak? Saya kan dari TV, saya mau liput bapak. Karena jualan bapak unik banget.” Tanyaku tanpa banyak basa-basi.

“Yah, gak ada, mbak. Saya gak punya HP…”

“Yaaahhh… tapi bapak selalu jualan disini, kan?”

“Iya. Saya tinggal di seberang. Tiap siang jualan kesini.”

“Oh, yaudah, Pak. Berarti nanti saya tinggal kesini aja kalo mau liput bapak ya?”

Setelah berbincang sebentar, bapak itu pergi sambil memainkan musiknya lagi. Jualan bapak itu benar-benar unik. Sangat cocok untuk program lamaku yang item liputannya adalah hal-hal unik dan menggelitik. Mungkin jika temanku yang masih di program itu mau ke Lombok, aku bisa memberikat risetannya ke dia. Ovan bisa membantu survey dan janjian dengan bapak itu.

Josi dan Tari selesai liputan menjelang jam 3 sore. Hari itu, episode dua pun telah selesai. Setelah makan siang, kami semua bersiap untuk menyeberang kembali ke kota.

***

Destinasi selanjutnya masih di area Lombok Timur. Tapi kali ini, giliran aku yang liputan. Setelah menyeberang dari Pulau Maringkik, kami mencari penginapan yang dekat dari lokasi. Berada di pinggiran kota, tempat kami menginap tidak sebagus hotel kemarin. Sekarang lebih mirip hotel tempat ‘mesum’.

>>> To be continued

Facebook Comments

About Dinda Tahier

I'm an ordinary human being who just wants to share stories