This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

(CATATAN JURNALIS) : AWAL PERJALANAN (PART 2)

(CATATAN JURNALIS) : AWAL PERJALANAN (PART 2)

>>>

Esok harinya, kami berangkat menuju tempat liputan yang telah aku riset. Tepatnya berada di Desa Penyisuk, Lombok Timur. Daerah itu lebih gersang dibanding tempat liputan sebelum-sebelumnya. Karena risetanku masih sangat mentah, aku, Tari, Josi, Ovan, dan Bram pun melakukan survey. Kata Ovan, risetanku benar adanya. Desa Sekaroh merupakan wilayah yang menjadi sengketa. Status tanahnya merupakan hutan lindung, tapi masih banyak warga yang tinggal dan mencari nafkah disana. Warga tidak mau pindah dari desa itu karena mereka sudah tinggal disana jauh sebelum lahannya dijadikan hutan lindung.

Dari gelagat Ovan, dia hanya sekedar tau informasinya, tapi tidak benar-benar survey dulu. Aku jadi was was. Apakah risetanku berubah zonk?

“Woles aja, Lun. Biasa begini kok. Nanti juga dapet pencerahan di lapangan.” Ucap Josi berusaha menenangkanku.

Daerah yang kami lintasi semakin tandus seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tapi aku melihat beberapa warga negara asing melintas dengan motor. Aku yakin mereka sedang menuju ke pantai Penyisuk. Berdasarkan risetku, pantai Penyisuk merupakan pantai perawan tersembunyi yang terkenal dengan keindahannya.

Tapi semakin ke dalam, rumah warga semakin sedikit. Berlandaskan ketidakyakinan, kami pun berhenti di salah satu rumah paling ujung. Ovan turun ingin bertanya kepada siapa pun yang bisa di ajak bicara. Dari dalam mobil, kami melihat Ovan berbicara dengan seorang bapak-bapak.

Selang beberapa menit, Ovan dan bapak itu berjalan ke arah mobil.

“Kenalin nih, Pak Jumaah. Dia mau anterin kita ke lokasi.” Ucap Ovan. Kami pun satu-satu bersalaman.

“Tapi beneran ada desa penyisuk, Pak?” Tanyaku penasaran.

“Penyisuk itu nama pantainya. Kalo nama desanya itu Desa Sekaroh.” Jelas Pak Jumaah sambil tersenyum.

“Oh iya, Desa Sekaroh. Itu seriusan hutan lindung, Pak? Masih banyak warga yang tinggal disana?”

“Iya. Warganya gak mau pindah karena mereka gak punya tempat tinggal lagi. Lahan pertaniannya kan disana semua. Kalo pindah, mereka kerja apa? Yaudah yuk saya antar. Soalnya jalannya agak ngebingungin. Nanti saya tunjukkin juga pantai Penyisuknya.” Pak Jumaah pun mengendarai motornya dan memandu kami.

Sepanjang perjalanan, mataku tidak bisa lepas melihat keluar jendela. Meskipun gersang, tapi daerah ini punya daya tariknya sendiri. Jajaran pohon kering yang tetap bertahan di atas tanah yang retak-retak, justru memberikan pesona yang menyegarkan mata. Jika tidak sedang kerja, mungkin aku sudah minta turun dan foto-foto daritadi.

Kurang dari satu jam, Pak Jumaah berhenti dan melambaikan tangannya ke arah mobil. Kami pun berhenti dan turun satu persatu.

“Ada apa, Pak?” Tanya Josi.

“Ini pantai Penyisuk.”

Setengah berlari, aku menuju ke pantai. Seketika tubuhku berhenti secara otomatis. Mataku setengah melotot memandang pantai yang ada di hadapanku. Bibirku kelu tidak bisa berkata apa-apa. Pantai itu adalah salah satu tempat terindah yang pernah aku lihat.

Sebenarnya banyak pantai yang lebih bagus dari pantai Penyisuk. Tapi bagi orang yang tidak suka keramaian, ini adalah pantai yang paling tepat. Tidak ada orang sama sekali disana. Hanya aku, Josi, Tari, Ovan, Pak Bram, dan Pak Jumaah.

Pantai Penyisuk tersembunyi di balik bukit-bukit gersang khas daerah Timur. Pasir pantainya putih dengan beberapa sampah kayu di pinggirannya. Banyak karang tinggi yang mencuat dari permukaan laut. Suasana pantai semakin syahdu ketika ombak menyambar karang.

Keindahan semakin lengkap ketika seorang penggembala kerbau melintas. Kerbau-kerbau itu sangat besar dan terlihat sangat sehat. Jangan-jangan makan kardus juga seperti kambing di Pulau Maringkik. Pikirku asal.

“Disini banyak pantai bagus. Ini mah belum seberapa.” Kata Pak Jumaah.

Setelah mengambil beberapa foto untuk data pribadi, kami pun melanjutkan perjalanan ke Desa Sekaroh. Ternyata, perjalalanan masih cukup jauh dan rumah Pak Rudi tadi, benar-benar bangunan terakhir yang kami temui. Sisanya hanyalah padang gersang.

Setelah lebih dari dua jam perjalanan, kami pun sampai. Tapi harapan kami runtuh ketika melihat keadaan desa. Memang terdapat beberapa rumah. Tapi jaraknya berjauhan satu sama lain. Tanpa Pak Jumaah, mungkin kami akan menganggapnya hanyalah gubuk petani.

“Waduh… rumahnya jauh-jauhan ya…” Ucap Josi pelan.

“Emang kalo jauhan gak bisa ya, Mas?” Tanyaku was was.

“Susah ngambil gambarnya. Kalo rumahnya satu doang, gak keliatan kalo ini desa.”

“Yah, terus gimana, Mas?” Tanyaku memelas.

“Tapi bisa diakalin kok. Tenang aja. Tinggal cari kegiatan apa yang bisa kita lakuin disini.”

Aku pun bernapas lega. Untung Josi baik. Semoga dia memaklumi bahwa aku masih dalam proses beradaptasi.

Akhirnya setelah mengobrol dengan satu-dua orang warga dan melihat situasi, kami pun memutuskan untuk mengambil kegiatan warga bertani di lahan yang kering, mencari kayu bakar, membuat atap rumah dari dedaunan, buang air besar di tanah karena ketiadaan kamar mandi, mengambil air pahit dari sumur yang digali warga, dan mengambil air bersih di bawah tebing.

Item terakhir adalah yang paling aku tunggu. Mengambil air bersih di bawah tebing. Terdengar sangat menantang. Ovan bilang, item itu sudah pernah diliput tim program Petualang. Dia menunjukkan videonya padaku. Tidak apalah memiliki item yang sama. Asal alur dan ceritanya berbeda. Program Petualang kan nuansanya lebih ceria. Sedangkan Tanah Airku lebih menunjukkan kemirisannya.

***

Hari pertama liputan, aku dan Josi meliput tentang ketiadaan air bersih. Karena sudah janjian di hari sebelumnya, *Inak Hikmah dan Pak Jumaah sudah menunggu. Inak Hikmah tinggal di sebuah rumah kayu seadanya dengan suami dan satu orang anak kecil yang merupakan cucunya. Tubuhnya kurus kering. Tapi senyum tidak pernah lepas dari wajahnya.

Meskipun Inak Hikmah tidak bisa bahasa Indonesia, dan aku tidak mengerti bahasanya, tapi wanita itu tetap mengajakku bicara. Alhasil, aku hanya bisa menanggapinya dengan ‘ya’ atau ‘tidak’ disertai cengiran.

“Mbak Tari, aku masih bingung harus ngomong apa untuk PTC opening?” Keluhku bingung.

“Gini aja. ‘Dusun Ketangga, Desa Sekaroh merupakan lahan konservasi. Namun dengan berbagai alasan, masih banyak warga yang tetap bertahan hidup disini. Meskipun dengan resiko tidak mendapatkan fasilitas publik, yang seharusnya dirasakan oleh setiap warga Negara Indonesia. Lalu bagaimana kehidupan warga di dusun ini? Selengkapnya di Indonesiaku’.”

Aku pun berusaha menghapal kata-kata Tari sebelum liputan dimulai.

Pagi itu kami bersiap berjalan ke titik air bersih dengan membawa ember plastik yang berbentuk bulat seperti kendi. Josi merekam sekuen aku berjalan dengan Inak Hikmah dan Pak Jumaah. Kemudian tibalah saat untukku melakukan PTC.

Percobaan pertama, gagal. Aku lupa isi PTC-nya.

Percobaan kedua, gagal.

Percobaan ketiga, hampir berhasil.

“Jangan diapalin, Luna. Ambil intinya aja. Kalo ngapalin, keliatan banget di kamera.” Saran Josi. Aku menelan ludah dan berusaha menuruti saran Josi.

Percobaan keempat, berhasil!

Kami pun melanjutkan perjalanan ke titik ambil air. Sudah lama sekali aku tidak PTC. Di program sebelumnya aku bukanlah reporter on cam. Selama satu tahun, aku tidak usah repot-repot memikirkan kata-kata untuk bicara ke kamera. Tapi ketika di rolling ke Tanah Airku, aku harus beradaptasi lagi dengan lensa kamera. Tidak heran kan, kenapa aku masih gugup.

Setelah berjalan sekitar 30 menit, kami pun sampai di pinggir tebing. Pemandangan disana sungguh menakjubkan. Air laut yang sangat biru seakan beradu dengan langit yang juga sangat cerah. Ombak besar yang menggulung dan menabrak karang, menghasilkan buih-buih putih yang sangat indah.

“Inak Hikmah, dimana air bersihnya?” Tanyaku. Inak Hikmah menjawab dengan bahasanya, yang lalu segera diterjemahkan oleh Pak Jumaah.

“Disini, Luna. Tuh timbaannya. Air bersihnya ada di bawah sana. Jadi nanti embernya di ikat pake tali, terus di geret ke bawah.”

Yang disebut dengan timbaan oleh Pak Jumaah adalah dua kayu horizontal yang menopang satu kayu vertikal. Di bawahnya terdapat lilitan tali yang berguna untuk menarik ulur ember ke bawah tebing.

Aku melongok ke bawah, dan seketika itu juga, bulu kudukku langsung berdiri. Bagaimana tidak. Ketinggian tebing mencapai lebih dari 20 meter. Terdapat tangga tali yang menempel di dinding tebing. Besarnya angin dari arah laut, membuat tangga itu bergoyang.

“Itu tangganya buat apa, Pak?” Tanyaku ke Pak Jumaah.

“Kadang air di bawah sana sedikit banget. Kalo lagi sedikit, Inak Hikmah turun ke bawah, terus nyerokin airnya. Terus ember yang udah ada airnya, baru deh di tarik ke atas.”

“Inak Hikmah yang turun? Kenapa gak anak atau suaminya?”

“Anaknya gak tinggal disini. Suaminya udah tua dan sakit-sakitan. Jadi Inak Hikmah sendiri yang ambil air.”

Aku terpana mendengar jawaban Pak Jumaah. Ternyata di balik perawakannya yang terlihat lemah, Inak Hikmah merupakan wanita yang sangat tangguh. Setelah membicarakan alur liputannya seperti apa, Josi pun mulai mengambil gambar.

Aku, Inak Hikmah, dan Pak Jumaah mengikatkan tali ke ember. Perlahan, ember dilemparkan ke bawah.

“Karena sekarang sedang musim kemarau, air di bawah sana jadi sedikit. Jika sudah begini, mau tidak mau, Inah Hikmah harus turun kebawah untuk mengambil air dengan tangannya sendiri.” Ucapku ke kamera.

Inak Hikmah pun dengan lincahnya turun ke bawah dengan tangga.

“INAK! TUNGGU DULU!” Teriak Josi, melawan suara ombak di bawah sana. Inak berhenti dan melongokkan kepalanya ke atas. “Nanti dulu turunnya. Tunggu aba-aba dari saya, ya!”

Pak Jumaah membantu menjelaskan perintah Josi. Inak Hikmah mengangguk dan kembali naik ke atas. Josi tidak ingin melewatkan momen itu. Dia mengambil gambar Inak Hikmah turun dari berbagai angle. Wanita tangguh itu pun tidak protes ketika beberapa kali Josi memintanya untuk naik turun tangga. Tubuhnya terbukti sudah terlatih melakukan itu setiap hari.

“Gambar Inak Hikmah turun udah selesai. Sekarang giliran lo, Lun. Berani gak?” Ucap Josi. Aku mengangguk cepat. Ini adalah saat yang aku tunggu-tunggu. Aku suka tantangan dan sepertinya tidak begitu sulit untuk turun ke bawah. “Gak usah dipaksain. Safety first.”

“Gapapa, mas. InsyaAllah bisa kok. Kan pelan-pelan turunnya.” Setelah Josi merasa yakin, dia pun turun duluan untuk merekamku dari bawah. Kamera aksi sudah terpasang rapi di kepalaku.

Dengan membaca doa, aku pun turun. Karena tidak mempersiapkan item turun tebing seperti ini, kami pun tidak sempat bekerja sama dengan tim SAR atau sejenisnya. Demi keamanan, dan karena atasan di kantor sering protes jika reporter-nya tidak memperhatikan keselamatan, Josi pun meminta Pak Jumaah untuk melilitkan tali ke pinggangku.

“Pak Jumaah gak ikut turun?” Tanyaku.

“Enggak ah. Gak berani…” Jawabnya sambil nyengir.

“Ah, masa kalah sama Inak Hikmah, Pak.” Godaku.

Ketika siap, aku pun turun pelan-pelan. Tebing ini benar-benar miring 90 derajat. Bahkan cenderung melengkung ke dalam. Itu membuatku kesulitan untuk memijakkan kaki di anak tangga kayu pertama. Jantungku berdegup kencang. Tidak bisa dipungkiri bahwa aku takut. Tapi perasaan semangatku bisa mengalahkannya.

Kayu yang menjadi pijakan kedua kaki telanjangku terasa licin. Tali yang aku genggam pun juga licin. Aku melihat ke bawah, Inak Hikmah sudah duduk santai disana sambil melihat ke arahku. Berada di tangga ini, angin terasa lebih kencang. Beberapa kali, tangga rapuh itu juga ikut miring tertiup angin.

Aku ingin tersenyum karena merasa sangat senang. Tapi penonton butuh suasana dramatis. Aku pun memperlihatkan wajah kesulitan. Sebenarnya memang sangat sulit, tapi ini seperti naik wahana di dunia fantasi. Jadi, senang saja aku dibuatnya.

Detik-detik yang berlalu ketika aku berada di tangga, terasa berjalan sangat lambat. Napasku berburu dan melebur dengan detakan jantung. Tali yang terikat di pinggangku terasa tidak berguna. Jika aku jatuh, tulang punggungku justru akan patah menjadi dua karena tertahan talinya.

Selang lebih dari 15 menit, akhirnya aku sampai di bawah. Kakiku bergetar tanpa komando ketika menapak di permukaan karang yang kasar. Inak Hikmah tertawa geli melihat ekspresi wajahku yang masih melongo. Aku tidak percaya bisa sampai di bawah sini. Aku melihat ke atas lagi dan menemukan julangan tebing yang sangat tinggi. Terlihat kepala Pak Jumaah yang hanya setitik.

Liputan pun kami teruskan. Bersama Inak Hikmah, aku memasukkan air bersih dengan gayung yang sudah tersedia. Aku kira air bersih yang selama ini diandalkan warga berbentuk sumur yang dalam. Tapi ini hanyalah kolam kecil dengan genangan air yang hanya semata kaki. Ketika aku rasakan, airnya memang tawar. Ternyata sumbernya berasal dari celah-celah tebing.

Tidak hanya di titik ini, beberapa kolam kecil rupanya tersebar di sepanjang tebing. Tapi dengan trek yang lebih terjal. Setelah mengambil air, aku pun mewawancarai Inak Hikmah. Bahasa adalah salah satu kendala ketika wawancara. Beruntung, salah satu warga yang masih remaja, ikut turun ke bawah. Dia lah yang membantuku menerjemahkan pertanyaan untuk Inak Hikmah.

Selesai wawancara, kami bersiap naik ke atas lagi. Tapi untuk naik, ternyata lebih sulit dibandingkan turun.

“Kalo mau ke atas harus lewat tangga lagi ya?” Tanya Josi ke remaja laki-laki itu.

“Iya, bang. Tapi ada jalan lain sih. Tapi lebih jauh. Lewat karang-karang gitu.”

“Lebih bahaya mana? Lewat tangga, apa muter lewat jalan lain itu?”

“Lebih aman muter sih, bang.”

“Yaudah, ayo jangan kelamaan mikir. Kita jalan aja.”

Kami bertiga pun berjalan. Inak Hikmah yang sudah terbiasa tetap memilih jalur tangga. Tidak sampai 5 menit, dia sudah berada di atas lagi. Sebenarnya aku ingin lewat tangga lagi. Karena ternyata asyik. Tapi lebih baik aku menuruti Josi.

Kami melangkah melintasi karang-karang tajam. Karena aku bertelanjang kaki, aku pun tidak bisa berjalan dengan cepat. Telapak kakiku seperti di refleksi secara paksa. Dengan baik hati, pemuda itu pun meminjamkan sandalnya kepadaku, dan dengan senang hati, aku menerimanya.

Batu karang ini berbatasan langsung dengan lautan. Pemandangannya begitu menakjubkan. Lagi-lagi… jika tidak sedang bekerja, aku bisa duduk berlama-lama, menikmati suasana disana. Tapi sayang, liputan masih panjang.

Di tengah perjalanan, aku mendengar Josi berteriak. Ternyata sandalnya putus. Mau tidak mau, dia melanjutkan perjalanannya dengan kaki telanjang.

Kemudian, kami tiba di penghujung karang. Terdapat kayu yang dirakit hingga menjadi tangga.

“Disini kita naik, bang.” Ucap permuda itu. Josi mengiyakan. Sepertinya tidak sulit. Karena tingginya hanya sekitar 5 meter. Satu persatu, kami pun naik. Pertama pemuda itu. Dia naik dengan lancar. Aku pun menyusul, sedikit terseok-seok. Pijakan di tangganya banyak yang hilang. Jadi agak sulit untuk mencari sanggahan kaki. Tapi aku berhasil sampai ke atas dengan selamat.

Selanjutnya, Josi menyusul. Dia menyerahkan kameranya padaku. Dengan usaha yang cukup besar, Josi mampu mengangkat badannya ke atas.

“Tau gini lewat tangga aja deh. Lewat sini lebih nyiksa.” Keluh Josi dan disambut cekikikan pemuda yang menemani kami.

Kami pun tiba di sisi lain bukit. Inak Hikmah, Pak Jumaah, dan yang lain sudah menunggu. Kami beranjak pulang ke rumah Inak Hikmah lagi untuk melanjutkan proses liputan.

Sesampainya dirumah Inak Hikmah, kami melanjutkan sekuen menuang air ke kendi di halaman rumah untuk mandi. Setelah itu, stok gambar Inak Hikmah dan suaminya bekerja di ladang.

Menjelang sore hari, liputan pun selesai. Kami pulang ditemani matahari yang sedang terbenam. Ah, sunset… kenapa kamu selalu indah…

***

Hari berikutnya, kami masih melanjutkan liputan di Dusun Ketangga, Desa Sekaroh. Dengan narasumber yang berbeda, aku membuat atap rumah dari dedaunan. Tidak benar-benar membuat dari awal. Karena akan memakan waktu yang sangat lama. Jadi kami hanya memasang daun di celah yang terlihat, agar atap bebas bocor.

Setelah membuat atap, kami mengambil gambar ambil air di sumur yang digali warga. Ketiadaan air bersih tidak semata-mata membuat warga putus asa. Entah sudah berapa kali mereka mencoba menggali sumur. Entah sudah berapa juta uang yang mereka habiskan. Tapi hasil yang didapat begitu mengecewakan. Air yang keluar di sumur tetap keruh dan terasa asin cenderung pahit. Alhasil, warga hanya menggunakannya untuk memberi minum ke hewan ternak dengan cara dicampur dengan air yang bersih. Sungguh kasihan hewan-hewan ternak itu. Tapi apa boleh buat. Untuk minum sendiri saja sulit, apalagi untuk memberi minum kepada hewan ternak yang jumlahnya puluhan?

Selesai membahas air, kami pun pindah ke wilayah yang lebih banyak rumahnya. Disana, kami meliput tentang cara warga mengambil kayu bakar dan juga buang air besar dengan menggali lubang di tanah.

“Tidak terbayang jika saya harus tinggal disini. Untuk mandi, cuci, kakus saja, seperti itu…”

Ucapku ke kamera.

“Yak, selesai juga liputannya. Tinggal wawancara pemda nih.” Josi berkata sambil membereskan peralatan liputan.

“Oh, pake gitu-gituan ya, Mas?”

“Iya, biar beritanya berimbang, harus selalu minta konfirmasi dari pemerintah setempat. Kalo untuk kasus Desa Sekaroh ini, kita kayaknya butuh wawancara perhutani deh. Ovan! Ada kontak perhutani gak?”

Ovan terkejut dengan pertanyaan Josi yang tiba-tiba. “Oh ada, Mas. Coba saya hubungi ya.” Ovan mengeluarkan telepon genggamnya dan menelepon seseorang. Beberapa menit kemudian Ovan berkata, “Ada, Mas. Kita langsung ke kantornya aja besok pagi.”

***

Pagi berikutnya kami ke kantor perhutani. Ovan kembali menelepon narasumber yang dia telepon kemarin. Tapi narasumbernya  tidak kunjung mengangkat telepon. Mau tidak mau, aku dan Josi pun langsung masuk ke kantor perhutani, menemui siapa saja yang bisa ditemui.

“Yuk kita masuk aja. Gue record aja nih kameranya. Buat jaga-jaga kalo mereka gak mau di wawancara.” Josi menyampirkan kameranya dan menekan tombol rec.

Pagi itu, kantor perhutani masih sepi. Hanya ada satu-dua orang yang terlihat. Akhirnya kami menemui seorang wanita yang mengenakan baju PNS.

“Misi, Bu. Kami dari media televisi nasional Jakarta. Kemarin kami baru liputan di Desa Sekaroh tentang kehidupan masyarakat disana. Kabarnya, status lahannya itu hutan lindung ya? Kalo mau Tanya seputar itu ke siapa ya, Bu?” Tanyaku sopan.

Wanita itu terkejut dan agak tergagap, memintaku menunggu. Dia pun menelepon rekannya. “Kepalanya lagi gak disini, Mbak. Dadakan sih. Lagi gak ada orang. Pada meeting semua di luar kantor.”

Aku melirik ke arah Josi, bingung harus menanggapi apa.

“Masa gak ada orang sama sekali, Bu? Harusnya ada yang standby kan? Kita wawancaranya gak lama kok. Cuma sepuluh menit aja.” Akhirnya Josi berkata sopan tapi sedikit mendesak.

“Coba saya telepon lagi ya.” Wanita itu kembali berkutat dengan telepon genggamnya. “Kata rekan saya tunggu sebentar. Nanti dia telepon kesini.”

Aku dan Josi pun menunggu canggung.

“Tapi emang Desa Sekaroh itu beneran masuk hutan lindung, Bu?” Tanya Josi memecah keheningan. Aku memperhatikan wajah wanita itu. Terlihat dari ekspresinya bahwa dia sedang mencari jawaban.

“Hmmm… setau saya sih, iya, Mas.”

“Tapi kenapa masih ada warga yang tinggal disana?”

“Kayaknya mereka gak mau pindah.”

“Emang status hutan lindungnya itu ada sebelum atau sesudah warga tinggal disana?”

“Duh, Mas… saya gak tahu menau. Nanti aja tanya sama yang berwenang ya.”

Josi melirikku. Aku hanya bisa nyengir. Beberapa menit kemudian suara telepon berbunyi. Wanita itu mengangkat dan tidak sampai lima menit, dia menutup teleponnya lagi.

“Ayo ikut saya, Mas, Mbak.”

Kami berjalan melintasi lorong, dan berhenti di ruangan yang cukup besar. Mungkin ruang rapat. Di dalam terdapat empat orang laki-laki berseragam. Tanpa menungguku, Josi menjelaskan maksud dan tujuan kami. Tapi tidak ada yang bersedia untuk di wawancara dengan alasan hanya kepala perhutani yang bisa menjawab pertanyaan kami.

“Bener nih, Pak, ga ada yang bisa di wawancara?” Tanya Josi sekali lagi. Empat lelaki di ruangan itu mengiyakan. “Yaudah, berarti jangan salahin kami kalo beritanya sesuai sama yang kami dapet di lapangan ya, Pak. Yang kami dapet kan, warga bilangnya pemerintah main bikin hutan lindung aja di Sekaroh, tanpa mikirin rakyat. Mereka juga bilang mereka gak dapet apa-apa. Bahkan jadi lebih susah hidupnya karena gak diperhatiin.”

Empat orang laki-laki itu saling berpandangan. Tapi seperti tidak peduli, mereka mengiyakan. Aku dan Josi pun pulang tanpa membawa hasil wawancara pihak pemerintah. Tapi memori kamera menyimpan hasil candid selama kami berada di kantor perhutani. Itulah yang kami tayangkan di kemudian hari.

***

Masih ada waktu 4 hari setelah liputan selesai, kami pun memutuskan untuk memanfaatkan sisa hari untuk menghibur diri, setelah bekerja cukup keras. Karena sedang berada di Lombok, aku, Tari, Josi, dan Pak Bram menuju ke Gili Trawangan.

GILI TRAWANGAN?!

Wow! Ini akan menjadi liburan yang sangat berkesan untukku. Pertama kali ke Lombok, pertama kali liputan di program blusukan, tapi sudah beruntung bisa pertama kali ke Gili Trawangan.

Tapi itu semua berubah. Liburan kali itu tidak seperti yang aku bayangkan…

>>> To be continued

Facebook Comments

About Dinda Tahier

I'm an ordinary human being who just wants to share stories