This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Catatan Jurnalis, Desa Tertinggi Di Rimba Kalimantan: Part 2

Catatan Jurnalis, Desa Tertinggi Di Rimba Kalimantan: Part 2

Pukul 6 satu persatu dari kami bangun. Seperti biasa, pagi hari seperti ini, perut yang semalam sudah diisi, minta untuk dibersihkan. Beruntung Isnah juga ingin mencuci mukanya. Kami berdua berjalan ke arah sungai kecil di dekat pondok. Tanpa banyak basa basi, aku langsung buang air besar. Setelah itu, aku dan Isnah menggosok gigi dan mencuci muka. Tenang saja, sungai ini mengalir, jadi aman.

Setelah sarapan seadanya, kami kembali melanjutkan perjalanan. Keadaan hutan disini semakin lebat dan belum terjamah sama sekali oleh tangan-tangan nakal. Lumut semakin tebal menyelimuti pepohonan. Jalan semakin terjal.

Setelah mendaki terus-menerus selama enam jam, kami tiba di puncak gunung Kilai. Ketinggiannya hampir 2000 meter di atas permukaan laut. Disini, kami harus melakukan ritual. Bagi para pendatang seperti aku, Rian, Dion, dan Jani, kami harus ‘meminta ijin’. Di puncak ini ada sebuah lubang yang terbentuk alami dari batang pohon yang mati. Di dalam lubang aku bisa melihat ada remah-remah makanan dan beberapa uang koin maupun kertas.

Sekdes meraih batang kayu dan menggoreskan ujungnya ke tanah di dalam lubang. Kemudian ujung kayu yang sudah terkena tanah itu, digoreskan membentuk tanda plus ke keningku, Rian, Dion, dan Jani. Tidak lupa, sekdes meminta masing-masing dari kami meletakkan uang seikhlasnya ke dalam lubang. Aku tanpa disuruh, melakukan PTC tentang ritual ini. Tapi sepertinya hal seperti ini tidak menjadi konsentrasi alur liputan Tanah Airku. Padahal menurutku ini sangat menarik. Entahlah… serba salah. Kadang bagi bawahan menarik, tapi bagi atasan tidak sama sekali.

Selesai melakukan ritual, Rian memintaku mewawancarai salah satu warga tentang keadaan hutan ini. Kelebatannya tidak terlepas dari statusnya yang masih perawan. Tentu saja ini hasil usaha warga setempat yang terus menjaganya. Mereka membagi hutan menjadi beberapa kawasan. Yang pertama, hutan katuan yang merupakan hutan yang belum dijamah oleh perusahaan dan apa pun. Hutan julungan adalah bagian yang bisa dijadikan ladang. Lalu hutan keramat, hutan pamali, dan lain sebagainya.

“Pada tahun 2015, ada perusahaan sawit yang mau menguasai hutan Kilai ini. Tapi kami secara tegas menolaknya. Kalo hutan ini dikuasai perusahaan sawit, kami otomatis akan kehilangan obat tradisional. Selain itu budaya kami seperti berladang dan berburu juga akan hilang. Bukan cuma itu, Mbak. Kalo hutan habis ditebang, pasti akan terjadi banjir besar di kalimantan selatan, khususnya kabupaten Hulu Sungai Tengah. Soalnya, setengah dari seluruh kawasan pegunungan meratus adalah sumber mata air bagi sungai-sungai yang ada di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan sebagian Kalimantan Timur. Nggak kebayang deh.” Jelas Ardi yang merupakan suami dari Isnah.

Setelah sesi wawancara, kami pun melanjutkan perjalanan. Medannya dari sini sudah menurun. Kami juga melintasi beberapa sungai dan anak sungai. Beberapa kali aku mengisi botol dengan air sungai yang jernih.

“Ih jorok banget lo jadi cewek.” Ucap Rian ketika aku selesai minum.

“Kenapa Mas?” Tanyaku heran.

“Masa minum air sungai begitu? Kan banyak bakterinya. Nanti sakit perut lu.”

“Ini enak tau, Mas. Seger. Kapan lagi bisa minum air pegunungan. Air bersih gini nggak mungkin bikin sakit perut. Lagian air matengnya kan udah abis. Masa aku harus nahan haus.” Jawabku sekenanya. Rian mengangkat bahu dan kembali berjalan. Apa salahnya minum air sungai yang bersih?

***

Entah sudah berapa jam kami berjalan tanpa henti. Hari sudah semakin gelap. Ternyata mendung, dan benar saja, hujan turun tanpa bisa ditahan. Beruntung aku dan yang lain membawa jas hujan plastik, yang murah itu. Walaupun hujan, aku tersenyum. Karena jika hujan, liputan akan semakin seru. Akan semakin terlihat sulitnya perjuangan kami untuk sampai tujuan. Dengan hati-hati takut terpeleset, Rian mengambil gambar dengan kamera aksi anti air.

Hampir satu jam berjalan ditemani air hujan, akhirnya dari kejauhan aku melihat atap-atap rumah. Rian memanggilku dan berkata, “Luna, coba lo tunjuk-tunjuk kesana. Biar gue ambil gambarnya.” Aku menurut.

Kaki terus melangkah. Kami pun sampai di kawasan ladang warga. Kakiku semakin cepat melangkah. Sudah tidak sabar ingin melihat pemukiman itu. Akhirnya, sekitar pukul 5 sore, kami pun sampai di ujung desa. Ada papan kayu bertuliskan DESA JUHU.

Ya… inilah tujuan kami. Desa tertinggi yang pernah aku kunjungi. Sambil tersenyum terharu, aku merangkul Isnah menuju ke rumah sekdes.

***

Rumah Rusdi, sekretaris desa, berupa rumah kayu panggung yang tidak besar. Hanya ada 3 ruangan dan satu dapur kecil. Ini adalah rumah singgah bagi Rusdi saat mengunjungi Desa Juhu. Karena dia punya rumah lagi di Desa Hinas Kiri, di bawah sana. Rombonganku yang berjumlah 15 orang langsung menyebar ke rumahnya masing-masing. Isnah juga langusng ke rumah Ibunya yang tepat berada di sebelah rumah sekdes. Kini, tersisa aku, Rian, Dion, Jani, Rudi, dan Rusdi. Kami duduk di teras rumah sekdes yang tidak besar, sambil melepas jas hujan.

Hujan rintik masih mengguyur. Badan yang basah oleh keringat dan air hujan, membuatku merasa lebih pegal. Setelah meluruskan kaki sejenak di teras, kami pun masuk dan segera membereskan isi tas masing-masing. Beruntung carrier-ku tidak terlalu basah. Daun pohon di hutan meghalangi air hujan, dan kecepatan Kai berjalan juga sangat mempengaruhi. Aku salut dibuatnya. Kai sudah berumur hampir atau lebih dari 70 tahun, tapi dia masih kuat bolak-balik ke Desa Juhu. Bahkan dengan keadaan kaki telanjang atau nyeker.

Aku pun teringat Isnah yang juga terus berjalan sambil menggendong anaknya yang sudah berumur lima tahun. Anak umur segitu sudah termasuk besar. Tentu saja berat badannya tidak ringan lagi. Akamsi alias anak kampung sini memang selalu penuh kejutan.

Malam itu, kami tidur lagi-lagi bak ikan teri. Di ruangan yang hanya sebesar empat kali tiga meter ini, aku, Rian, Dion, dan jani berjajar merebahkan diri. Sedangkan Rudi dan sekdes, tidur di lorong ruangan. Sebenarnya ada satu kamar disini, tapi di dalam sana penuh dengan barang-barang, jadi tidak bisa untuk ditiduri. Ruangan itu lebih pantas disebut sebagai gudang.

***

PAAAGIIII!!!

Matahari menyembul malu dari balik pepohonan di bukit sana. Kabut seperti selimut di atas atap rumah warga dan merambat hingga menutupi sebagian rerumputan. Embun seperti kristal bersiap menetes dari tiap dedaunan. Pagi yang sungguh indah. Desa ini bak surga dunia yang tersembunyi di balik rimba hutan Kalimantan, dan bersemayan cantik di atas pegunungan Meratus.

Hawa dingin yang sejuk menemani tiap langkahku menuju sungai pagi ini. Isnah yang setia menemaniku, ikut berjalan di depanku dengan anaknya. Ada seorang warga lagi bernama Murniati yang ikut. Aku memanggilnya Ibu Guru, karena dia bekerja sebagai guru di SD Juhu. Kami bersiap ingin mandi. Seperti di kebanyakan desa terpencil, tidak ada kamar mandi untuk buang hajat maupun mandi. Sungai adalah satu-satunya kamar mandi mereka.

Sungai disini tidak besar. Lebarnya tidak lebih dari lima meter. Bentuknya seperti sungai yang berasal dari air terjun. Bebatuan di sepanjang sungai, memudahkan kami untuk berpijak. Ada 2 orang warga yang sedang mandi. Sepertinya mereka adalah sepasang suami istri. Aku menatap Isnah bingung.

“Kita mandi dimana, Mbak?”

“Disini, Mbak.”

“Mandi bareng?” Tanyaku setengah berbisik.

“Iya. Pakai kainnya dulu, Mbak.”

Isnah dan Murniati pun mengajarkanku mengenakan kain ala wanita setempat. Tapi tetap saja, satu bahuku terbuka, dan bebas bisa dilihat. Lelaki yang lebih dulu mandi itu sepertinya tahu kegelisahanku. Dengan segera, dia pun mengakhiri mandinya, lalu meninggalkan area sungai. Aku bernapas lega, dan langsung mengguyurkan air sungai ke badan dengan ember yang dipinjamkan Isnah.

Di tengah-tengah mandiku yang khusyuk, Rian, Dion dan Jani datang ke pinggir sungai.

Setengah berteriak dan sambil menutup bagian atas tubuhku, aku berkata, “Eh nanti dulu!!! Mandinya gantian dong!”

“Yailah, udah siang nih. Kan mau liputan.”

“Ya udah tunggu sebentar. Bentar lagi selesai.”

“Ya udah sih lanjut aja. Pake kain ini. Gue juga nggak bakal nafsu sama lo.” Ucap Rian. Kata-katanya sedikit menusuk tapi ya sudahlah. Aku pun buru-buru melanjutkan mandiku yang tadinya berlangsung tenang.

***

Kami tinggal selama 4 hari 3 malam di Desa Juhu. Jujur aku betah, jika saja aku tidak sedang bekerja seperti ini. Bukannya aku tidak menyukai pekerjaanku. Tapi Rian dan Dion sering membuatku tidak nyaman. Secara tidak langsung di beberapa kesempatan, mereka seperti meremehkanku. Mungkin hanya perasaanku saja. Tapi aku tidak bisa membuangnya.

Selama liputan, kami mengambil kegiatan warga berkebun di ladangnya. Tidak seperti ladang atau sawah pada umumnya. Karena terletak di ketinggian 560 meter di atas permukaan laut, Desa Juhu hampir tidak memiliki lahan datar. Jadi perladangan dan persawahan terletak di tanah dengan kemiringan sekitar 75 derajat.

Selain kegiatan menanam padi, kami juga meliput kegiatan warga bergotong-royong. Jumlah penduduk Desa Juhu yang tidak lebih dari 150 jiwa ini memudahkan kami mengumpulkan orang untuk shooting. Ini sebenarnya adalah rekonstruksi. Kadang untuk menghasilkan liputan yang bagus, wartawan memang harus merekonstruksi sebuah kejadian. Tapi bukan men-settingMen-setting adalah mengadakan yang tidak ada. Lain halnya dengan merekonstruksi, yaitu mengadakan yang memang ada, hanya waktunya saja dipercepat atau diperlambat.

Selain itu kami juga meliput warga yang tinggal di rumah kebun seadanya. Juga mengikuti warga mencari obat herbal di hutan untuk mengobati anaknya yang sakit gatal-gatal. Di Desa Juhu tidak ada puskesmas pembantu. Ada sebuah bangunan yang seharusnya dijadikan pustu. Tapi hingga sekarang terlantar begitu saja. Tidak ada dokter maupun perawat yang mau tinggal di desa terpencil seperti ini. Ketiadaan sinyal dan listrik, membuat siapa saja tidak betah berlama-lama. Miris sebenarnya. Tapi beruntung warga memiliki pengetahuan tentang obat-obatan herbal dari nenek moyang. Terlebih, fisik warga lokal memang lebih kuat dibanding warga yang tinggal di kota.

***

Hari terakhir di Desa Juhu.

Aku, Rian, Dion, Jani dan yang lain sedang mengemas barang-barang untuk turun ke Desa Kiyu, saat salah seorang warga berteriak. Aku kira ada yang bertengkar. Penasaran, aku pun menyembulkan kepala keluar jendela rumah sekdes. Ada seorang warga yang bertubuh gemuk, sedang berjalan kesini sambil membawa karung besar yang sepertinya berat.

Lelaki itu tersenyum dan berkata sambil mengangkat karung, “Rusaaa!!!”

Aku tidak mengerti maksudnya. Lalu Jani menjawab kebingunganku. “Wah enak tuh makan daging rusa. Yuk, Mbak kita lihat.”

“Rusa?” Tanyaku sambil mengikuti langkah Jani.

Di depan teras rumah sekdes, lelaki gemuk itu membuka bagian atas karung sambil tersenyum bangga. Aku melihat isi di dalam karung dan meringis.

“Kasiaaaannn…” Ucapku yang hanya disambut gelak tawa lelaki gemuk itu. Di dalam karung terdapat seekor anak rusa yang diam tak berdaya. Dia hanya bisa mendongak memperhatikan kepala-kepala yang melihat ke dirinya. Matanya berkaca-kaca menghiasi wajahnya yang memelas seakan minta belas kasihan.

“Ini mau diapain?” Tanyaku.

“Biasanya sih dijual hidup-hidup. Kalo diluar banyak orang yang mau pelihara. Tapi kalo mau, kita makan aja nih. Dijadiin sate atau sop.” Jawab lelaki gemuk.

“Kalo dijual harganya berapa?” Rasa penasaranku bercampur dengan rasa kasihan terhadap rusa kecil itu.

“Tiga ratus ribu.”

“Hah? Tiga ratus ribu doang?!” Seruku kaget. Tiga ratus ribu bukanlah sesuatu yang berharga di Jakarta, dibanding dengan kelestarian Rusa.

“Iya. Udah mahal itu. Biasanya lebih murah lagi. Disini kan banyak. Jadi nggak masalah.” Lelaki gemuk itu menjawab tidak peduli. Saat itu rasanya aku ingin membawa kabur rusa kecil itu dan melepaskannya kembali ke hutan, ke orang tuanya. Tapi apa daya…

Hari itu, rusa kecilnya tidak dijual. Tapi lebih mengenaskan. Dia berakhir di penggorengan. Dan betapa munafiknya aku saat mencicipi rasa dagingnya yang sungguh nikmat. Daging ternikmat yang pernah aku rasakan. Tapi jika aku pikir sekarang, aku sangat bodoh. Aku berjanji tidak akan memakan daging rusa lagi. Karena rusa adalah hewan yang dilindungi. Walaupun pada saat itu belum ada peraturannya yang jelas.

Setelah selesai makan dan selesai berkemas, kami pun turun dari Desa Juhu dan menuju Desa Kiyu. Isnah dan Murniati dengan sedih melepasku seraya berkata, “Main-main lagi kesini ya, Mbak.”

Sambil berpelukan aku menjawab, “Iya, Mbak. Jangan lupain aku ya. Aku bakal kesini lagi buat liburan, bukan buat kerja.”

“Jangan sombong ya, Mbak. Bales kalo aku sms dan telepon. Jangan kaya tentara-tentara yang dulu pada latihan disini. Bilangnya nggak bakal sombong. Tapi abis keluar dari sini, di sms sama telepon nggak pernah dibales. Padahal aku yang bikinin mereka makanan selama mereka disini.”

Aku tertawa. Wanita yang berumur dua tahun lebih muda dariku ini memang sangat polos. “Iya, mbak. Aku nggak bakal kaya gitu kok.”

***

Facebook Comments

About Dinda Tahier

I'm an ordinary human being who just wants to share stories