This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

(CATATAN JURNALIS) : Penjaga Hutan

(CATATAN JURNALIS) : Penjaga Hutan

Ooh... driving my youth to the house full of you
And I knew
I knew that I shouldn’t
Why can’t you see it
Why can’t you?

Lirik lagu Cry Little Heart yang dinyanyikan Stars and Rabbit terus berputar di kepalaku. Entah mengapa aku merasa sangat nelangsa tiap kali mendengar lagu ini. Hari-hari kelam itu terus berputar di otakku bagai sebuah refleksi film abadi.

Aku heran kenapa seseorang bisa dengan mudahnya mematahkan hati seseorang. Padahal awalnya begitu manis dan selalu mengucap cinta. Tapi lama kelamaan, cinta itu pudar dengan bermacam alasan. Bahkan yang tidak jelas sekalipun.

Ayahku pergi meninggalkan aku dan Ibuku. Pada umurnya yang menginjak usia 40 tahun, karir ayah melejit tinggi. Kesibukan pun menghampirinya. Rapat ini, dinas itu, selalu menjadi masalah yang membuat waktu berkumpul keluarga kami hilang. Satu tahun pertama Ibuku masih memaklumi. Tapi lewat dari setahun, Ibuku mulai mempermasalahkan. Perdebatan-perdebatan pun bermunculan. Aku yang berusia 14 tahun hanya bisa duduk di pojok kamar sambil menutup telinga.

Tapi ternyata protes Ibu bukannya membuat Ayah sadar, justru membuatnya jengah. Aku ingat sekali malam itu. Ayah pulang dengan langkah limbung. Ibu yang sedang menunggu di ruang tamu, kalap melihatnya. Disitulah aku tahu arti kata ‘mabuk’.

Sejak malam itu, Ayah jadi jarang sekali pulang. Hingga tiba saatnya dia tidak pernah pulang. Saat Ibu mendatangi kantornya, ternyata Ayah sudah resign sejak 2 bulan lalu. Rekan kantornya yang dulu, mengatakan Ayah pindah ke tempat yang lebih baik dengan gaji dua kali lipatHasil bertanya sana sini, aku dan Ibu pun berakhir di depan sebuah rumah mewah di kawasan Pantai Indah Kapuk. Itulah rumah baru Ayah.

Pagi itu, aku melihat langsung arti sebuah pengkhianatan. Ayah keluar dengan seorang wanita yang tidak lebih cantik dari ibuku. Ayah merangkul dan mencium wanita itu dengan mesra. Sesuatu yang dulu aku lihat setiap hari dirumah. Aku dan Ibu hanya bisa memandangi mereka dari luar pagar yang menganga terbuka. Satpam yang sudah sekuat tenaga berusaha mengusir kami, kalah dengan pelototan galak Ibu.

Beberapa saat kemudian, Ayah menyadari kedatangan kami. Wajahnya langsung berubah kikuk. Aku memperhatikan Ibu. Dia hanya tersenyum. Tapi aku tahu hatinya hancur berkeping-keping. Aku tahu betapa Ibu mencintai Ayah. Aku tahu setiap malam Ibu menangis menanti Ayah pulang. Tapi inikah balasan yang Ayah berikan? Ibu pun meraih tanganku dan mengajakku pulang.

***

Perselingkuhan Ayah membuatku membenci laki-laki dan tidak percaya dengan ‘cinta’. Hingga aku menemukan seorang tambatan hati. Di usiaku yang menginjak 23 tahun, aku dan Raihan bertunangan. Tapi lagi-lagi, kebahagiaan itu musnah hanya dalam sekejap. Seperti naik roller coaster. Aku dibumbung tinggi, lalu dihempas ke bawah dengan cepat.

Hari itu, dua minggu sebelum pernikahan kami, Raihan datang ke rumahku. Dia bilang dia tidak bisa meneruskan rencana kami. Dia berkata jujur, bahwa ternyata hatinya lebih memilih mantan kekasihnya yang kembali datang. Aku hanya mengangguk dan menyerahkan cincin pertunangan kami ke tangannya. Lalu aku masuk ke dalam rumah dan bercerita ke Ibuku. Dialah orang yang paling shock. Sebulan kemudian, Ibu menghembuskan napas terakhirnya. Gema lagu dari Stars and The Rabbit menguasai kesedihanku.

And we danced in the room, grew our heart a bloom

I stop right there

You’ve found a new home, and I should be happy

I should be happy, mom…

***

Sejak Ibu meninggal, aku mengumpulkan uang dan pergi meninggalkan Jakarta. Sebenarnya aku ingin sekalian ke luar negeri. Tapi apa daya, perekonomianku anjlok setelah ditinggal ayah. Alhasil, keluar Jakarta menjadi pilihan terbaik. Sudah tiga tahun aku merantau. Aku tidak menetap di satu kota. Semua tergantung ‘panggilan’.

Sekarang aku bekerja sebagai seorang fixer, atau kasarnya, pembantu wartawan, baik lokal maupun mancanegara. Tugasku adalah memastikan materi liputan yang sudah di riset para wartawan berjalan lancar tanpat hambatan. Untuk itu, aku harus melakukan survey langsung, mencari narasumber, dan menemani selama proses peliputan.

Sebenarnya aku benci sekali panas-panasan. Kulitku yang tadinya  putih bersih, sekarang kecokelatan karena terus terpapar sinar matahari. Tapi demi meninggalkan masa lalu kelam, aku rela meninggalkan ruangan ber-AC yang nyaman. Sekarang, ruang kerjaku adalah alam bebas. Tidak banyak yang tahu profesi fixer – jika itu memang pantas disebut profesi. Tapi itu bagus. Tidak ada orang yang tahu keberadaanku.

Sudah lima hari ini aku menemani tiga orang wartawan dari Amerika yang sedang meliput kebudayaan suku dayak di Kalimantan Timur. Evans, Tom, dan Kiko – seorang blasteran Amerika-Jepang, merupakan wartawan salah satu stasiun televisi di Washington D.C. Evans dan Tom adalah juru kamera, sedangkan Kiko merupakan reporter. Ini kali ketiga aku bertemu dengan Evans. Awalnya Evans membaca blog yang aku tulis tentang Desa Juhu, salah satu desa terpencil di rimba pegunungan meratus, Kalimantan Selatan. Dari situlah hubungan profesional antara kami terjalin.

Are you outta your mind?!” Teriakan Evans membuyarkan lamunanku.

Aku yang bingung hanya bisa berkata. “What?”

“Kamu nggak lihat tadi ada babi hutan gede banget hampir menerkam kamu dari belakang?! Untung ada Olan. Kalo enggak, tinggal 30 senti lagi kamu habis tercabik-cabik. Bisa-bisanya kamu bengong di tengah liputan.”

Aku menengok ke belakang. Disana terkapar seekor babi hutan berukuran besar. Bergidik aku melihatnya.

See? What IS wrong with you?” Tanya Evans gemas.

Aku hanya bisa nyengir dan berkata, “Sorry…”

Itu hanya awal kecerobohanku. Di dalam kawasan kars Sangkulirang ini, tiga kali aku tersandung batu yang bertebaran di sepanjang jalan setapak, dan dua kali mendapatkan kotoran burung mendarat di kepalaku. Evans, Tom, Kiko, dan Olan – narasumber kami – hanya bisa memperhatikanku sambil tertawa.

I admit that you’re being stupid today. Tapi itu cukup menghibur.” Ucap Evans sambil menyodorkan sapu tangan. Sambil tersungut-sungut aku menerimanya dan langsung membersihkan sedikit darah yang mencuat dari lutut dan siku, juga kotoran burung.

Selesai liputan, kami kembali ke rumah Olan untuk bermalam. Setelah membersihkan diri dan menyantap makan malam, kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Aku sibuk melakukan ritual malamku. Mendengarkan musik sambil menatap bintang.

Daijoubu?” Tanya Kiko yang beranjak duduk di sebelahku.

Sambil melepaskan headset dari telinga, aku balik bertanya. “Nani? Kikoenakatta…” Tidak terdengar maksudku. Aku dan Kiko sering berkomunikasi dalam bahasa jepang. Dia sangat senang ketika tahu aku menguasai sedikit bahasanya.

Daijoubu? Kamu baik-baik aja? Hari ini kamu nggak seperti biasanya.”

Un, daijoubu da yo. Aku baik-baik aja.” Jawabku sambil tersenyum.

HontouMondai ga attara, hanashite ne. Supaya kamu nggak sial lagi seperti tadi.”

Aku mengangguk. “Iya, kalau ada masalah, aku ngomong.”

Kiko mengangguk, lalu beranjak pergi. Aku menghela napas. Tentu saja ada masalah. Tapi aku tidak terbiasa mengumbar. Aku rindu ibuku. Hari ini adalah hari ulang tahunnya…

***

Hari keenam, kami kembali memasuki hutan Sangkulirang. Kami meliput keseharian warga suku dayak basap yang merupakan penghuni pertama kabupaten Berau, Kecamatan Sangkulirang Kutai Timur. Tapi jumlahnya yang minoritas, membuat mereka semakin terdesak oleh migrasi suku Kayan dan suku Kenyah. Karena semakin terasing, banyak dari mereka memilih tinggal di pedalaman hutan dan goa-goa.

Tapi sekarang, tentu saja, sudah tidak ada lagi yang tinggal di hutan dan goa. Pemerintah sudah menyediakan bantuan rumah untuk mereka. Awalnya mereka tidak mau, tapi kian hari, persediaan makanan di hutan semakin menipis karena pembalakan liar. Sulitnya mencari makanan, membuat mereka terpaksa menempati rumah yang disediakan pemerintah. Meskipun sekarang makanan sudah bisa mereka beli di toko, tapi mereka tidak pernah melupakan budaya mereka mencari makan di hutan.

Evans dan Tom sibuk merekam segala gerak gerik yang dilakukan empat orang suku dayak yang menjadi narasumbernya. Bersama, kami membelah hutan – berburu. Sumpit, senjata suku dayak, yang berbentuk seperti tombak, tergenggam kokoh di tangan-tangan berwarna sawo matang itu. Mata mereka jeli menatap sekitar, siap meniup racun yang tersimpan di dalamnyaMereka semua sibuk. Hanya aku yang merasa tidak ada kerjaan. Aku berjalan paling belakang dengan headset di telinga dan tripod di tangan kananku. Selain seorang fixer, aku juga merangkap asprod, alias asisten tripod. Jika Evans atau Tom membutuhkannya, mereka hanya perlu mengangkat tangan, dan aku senantiasa akan berlari menyerahkan tripod seberat hampir dua kilogram ini.

This is super delicious!” Seru Tom saat menyantap burung hasil buruan.

I’ve never tasted something like this before.” Balas Kiko. Evans yang sudah beberapa kali mencoba, hanya tertawa melihat kelahapan dua temannya. Aku yang sudah cukup sering, tersenyum, menatap mereka. Ya, memang enak sekali. Walaupun hanya di bakar dengan bumbu seadanya, tapi makan di tengah hutan selalu menghasilkan sensasi yang berbeda. Nuansa sejuk di sekeliling senantiasa membuat makanan apa pun menjadi berkali lipat lebih enak.

***

Matahari semakin tenggelam di balik pepohonan. Kami pun beranjak pulang kembali. Tapi di tengah perjalanan, aku tidak bisa menahan keinginan untuk buang air kecil.

Evans, I need to pee. Y’all can go. I’ll catch up.” Ucapku kepada Evans, yang berjalan tepat di belakangku.

You sure? It’s getting dark. We can wait, or you can ask Kiko to go with you.

Nah. I’ll be fine. I know this woods more than anyone.” Aku pun menghilang di balik pepohonan, meninggalkan Evans yang kebingungan. Puluhan kali bekerja di dalam hutan membuatku tidak takut lagi. Jadi, pipis sebentar tidak menjadi masalah. Aku hanya benci pacet yang setiap saat bisa loncat, mencari kulit terbuka untuk bisa menyedot darah.

Demi mendapatkan tempat aman bebas pacet, aku berjalan semakin dalam, mencari tanah tidak berumput. Tapi di hutan Kalimantan, tentu sulit mendapatkannya. Rumput tinggi mendominasi. Apalagi ini bukan jalur setapak yang biasa dilintasi manusia.

You’ve gone too far!” Aku menoleh dan mendapatkan Evans sibuk menyibak semak belukar, dua ratus meter di belakangku.

What are you doing?” Tanyaku bingung.

“Kamu pikir aku bisa meninggalkanmu sendirian di tengah hutan begini?”

I’m fine. Dan aku mau pipis, masa kamu yang nemenin?”

“Pipis aja. Aku nggak nafsu melihat. Aku hanya memastikan anggota timku baik-baik aja.” Begitulah. Meskipun aku dan Evans sudah beberapa kali bekerja sama, sebenarnya aku agak kesal dengan sikapnya yang kadang terlalu bossy. Tidak aku pungkiri, bahwa Evans sangat baik dan cenderung humoris. Tipe lelaki idamanku. Tapi justru itulah, aku berusaha keras menghindarinya.

Where are you going exactly? Kenapa nggak berhenti aja? Ini udah cukup jauh. Nggak ada orang disini yang akan melihat!” seru Evans lagi.

“AAARGGHHH!!!” Aku refleks berteriak saat melihat pacet di telapak tanganku. Pacet itu seperti memiliki kekuatan magis. Tiba-tiba dia datang, dan hinggap tanpa permisi. Sekuat tenaga aku menggoyang-goyangkan tanganku. Tapi pacet yang sudah menempel, tidak bisa lepas, kecuali dicabut paksa.

What happened?!” Evans berlari ke arahku. Aku menyodorkan tanganku ke arah Evans sambil menutup mata. Aku tidak sanggup melihat hewan kecil hitam itu. Beruntung evans cukup cerdas untuk segera melepasnya. Lalu dia tertawa terbahak. “Ternyata seorang Luna yang terkenal kuat, takluk karena seekor pacet!”

Aku mendelik mendengar Evans yang sibuk menggodaku. “Jangan-jangan, itu sebabnya kamu terus berjalan. Kamu cari tempat yang aman dari pacet, kan?!”

Tanpa mempedulikan Evans, aku berjalan kembali. Aku telah mengurungkan niatku untuk buang air kecil. Lebih baik aku tahan saja selama dua jam kedepan, hingga sampai di rumah Olan.

***

Hari kedelapan. Aku dan Evans resmi tersesat di hutan. Evans benar, aku terlalu jauh berjalan, hingga lupa arah. Kini, kami hanya bisa pasrah bertahan hidup menanti bantuan. Aku menyesal. Tidak seharusnya aku sombong. Apalah arti pengetahuan dan pengalamanku di tengah kuasa Tuhan di Sangkulirang. Ternyata perkataan orang-orang ‘jangan bicara macam-macam di hutan’ itu terbukti.

I’m sorry…” Ucapku pelan. Evans sedang membakar kelelawar untuk makan, di hadapanku.

You’ve said it a thousand times, Luna. Sudahlah. Sabar aja. Aku yakin kita bisa keluar dari sini. Yang lain juga nggak akan tinggal diam.”

Aku mengangguk. Sebenarnya aku tidak takut. Aku justru merasa damai. Aku hanya tidak enak kepada Evans. Kenapa aku tidak tersesat sendirian saja. Itu lebih baik. Keinginanku akan terkabul. Aku bisa benar-benar jauh dari apa pun. Dan lihatlah… di atas langit sana, ribuan bintang bertebaran, mengelilingi bulan yang sedang dalam keadaan bulat sempurna. Gemericik api unggun yang kami buat, dan alunan serangga hutan, menyempurnakan suasana. Di Jakarta, aku tidak akan bisa menemukan pemandangan ini. Aku pun bersenandung kecil.

Dan kawan, bawaku tersesat ke entah berantah

Tersaru antara nikmat atau lara

Berpeganglah erat, bersiap terhempas ke tanda tanya

– Ke Entah Berantah – Banda Neira –

***

Hari kesembilan. Aku dan Evans terus berusaha mencari jalan keluar. Tapi semakin berjalan, pohon di sekitar kami justru semakin besar. Kami semakin tersesat. Yang kami bisa lakukan sekarang hanya berdoa, dan bertahan hidup dengan makan-makanan hutan. Untuk minum, kami mengandalkan sungai atau batang pohon yang jika dibelah, akan mengeluarkan air.

“Luna, watch out!!!” Seruan Evans membuatku menoleh kebelakang. Tapi seketika pandanganku berubah hitam.

***

Mataku membuka perlahan. Berat. Kepalaku pusing setengah mati. Lidahku kelu. Bibirku sulit digerakkan. Tubuhku mati rasa. Dunia terdengar berdenging. Sedikit, aku bisa merasakan ada tangan seseorang di atas tangan kiriku. Evans? Pikirku. Samar-samar aku mendengar, “Luna, are you okay?” Kesadaranku kembali hilang.

***

Sinar matahari menyilaukan, membangunkanku. Mataku sudah tidak berat. Perlahan aku berusaha duduk. Pusing di kepalaku masih terasa. Tapi tidak separah kemarin. Aku berada di atas tempat tidur rotan, beralaskan tikar pandan, di dalam bilik bambu.

Pelan-pelan, aku mencoba berdiri. Dengan langkah terseret, aku berjalan keluar. Sambil mengerjap-ngerjapkan mata, aku perlahan melihat Evans. Dia sedang dikelilingi oleh orang-orang yang berpakaian seadanya. Yang laki-laki bertelanjang dada, dengan selembar kain pendek dililit, menutupi pinggang hingga ujung paha. Sedangkan perempuan mengenakan selembar kain yang menutupi bahu hingga setengah pahanya. Masing-masing dari mereka mengenakan sejenis headband di kepala. Pakaian mereka semuanya berwarna serba cokelat. Mereka tertawa sambil mendengarkan Evans yang terus berbicara bahasa inggris campur sedikit Indonesia.

“Luna!” Seru Evans menyadari kehadiranku. Dia beranjak berdiri dan menuju ke arahku. “You’re awake!” Awalnya aku pikir dia akan memelukku. Tapi dia hanya memandangiku dari atas sampai bawah. Evans memutar-mutar tubuhku, memeriksa tiap jengkalnya.

Stop it, Evans!” Ucapku kesal.

Dia tersenyum senang. “Finally! Kamu tidak sadarkan diri selama 3 hari! I thought you were dead already!”

Evans menjelaskan bahwa aku telah terkena ito, atau getah beracun, yang melesat dari sumpit dayak. Salah satu warga setempat salah mengira aku buruannya. Beruntung, mereka segera memberikan penawar.

Wait! Ini berarti kita sudah keluar hutan?” Tanyaku.

No. We’re still in the woods. You know what?! Mereka adalah suku dayak basap asli yang masih tinggal nomaden!” Melihat mukaku yang kebingungan, Evans pun menggiringku duduk bersama yang lain. “I’ll explain it to you later.” Puluhan warga suku dayak, wanita, lelaki, kecil, dewasa, tersenyum lebar saat Evans kembali duduk di tempatnya tadi.

Saat Evans kembali asyik bercerita, tiba-tiba mata warga yang lain teralihkan. Aku mengikuti pandangan mereka. Disana, seorang laki-laki paruh baya berjalan, sambil menggenggam senjata sumpitnyaSalah seorang pemuda mendekati laki-laki itu. Walaupun aku tidak mengerti bahasanya, tapi aku rasa, dia sedang menjelaskan tentang aku dan Evans. Dilihat dari gerak-geriknya, aku yakin laki-laki paruh baya itu adalah pemimpin di kelompok ini.

Dengan tatapan tajam, pemimpin yang dipanggil Simpei itu melihat ke arahku. Entah kenapa pandangannya terasa sangat menusuk. Bola mataku langsung beralih memandang tanah. Dari ujung mata, aku bisa melihat dia mendekatiku. Aku semakin gelisah. Simpei berjongkok di hadapanku sambil menggeram-geram. Aku tidak tahu apa maksudnya. Evans yang merasakan kegelisahanku, hanya bisa mengusap punggungku.

“AHIIIUUUU!!!” Teriak Simpei tiba-tiba. Aku hampir lompat dari dudukku mendengar lengkingan itu. Apakah ini buruk? Pikirku. Tapi setelah seruan itu, aku mendengar tepuk tangan. Mereka semua bertepuk tangan sambil berseru-seru. “Tidak usah khawatir. Aku hanya menandakan kepada alam semesta, bahwa kalian diterima disini.”

Aku mendongak mendengar ucapan Simpei. Ternyata dia bisa bahasa Indonesia, walaupun dengan logat dayak yang kental.

“Maafkan anakku yang telah meniup racun itu ke arahmu. Sebagai permintaan maaf, kami akan menobatkan kalian, sebagai bagian dari keluarga kami.”

Aku tersenyum dan melirik ke arah Evans, yang tidak mengerti ucapan Simpei. Aku pun menerjemahkannya. Evans terkesiap senang, lalu berkata dengan bahasa Indonesia yang kebule-bulean, “Tapi kami ingin pulang. Kami sudah hilang lima hari.”

Simpei mengangguk. “Saya sendiri yang akan mengantar kalian besok lusa. Perjalanan ke pemukiman terdekat cukup jauh. Untuk itu, bekal harus dipersiapkan. Selain itu, besok kami ingin merayakan sesuatu.”

Aku menjelaskan kepada Evans untuk bersabar. Masih untung kami sudah diterima dengan hangat.

***

Hari ketiga belas. Kasak-kusuk warga membangunkanku. Dari dalam bilik tempat aku tidur, terlihat warga sibuk mondar-mandir. Aku pun keluar bilik. Betapa terkejutnya aku menyaksikan warna merah putih bertebaran dimana-mana.

“Kamu sudah bangun. Ayo ikut upacara.” Ucap Simpei. Ternyata, hari ini adalah tanggal 17 Agustus. Takzim, aku mengikuti warga berbaris. Biasanya, aku tidak menyukai upacara. Tidak terhitung berapa kali aku pingsan, karena berdiri berjam-jam.

Tapi disini, entah kenapa upacara ini menjadi begitu sakral. Bahasa dayak yang digunakan para pengibar bendera terasa menyentuh hatiku. Tiang yang mereka gunakan, hanyalah bambu sepanjang 10 meter. Mereka telah sedemikian rupa membuat tiang itu menjadi tiang bendera. Saat merah putih menyentuh puncak tiang, hatiku terasa damai. Saat lagu mengheningkan cipta dilantunkan para peserta upacara – tentunya dengan bahasa dayak – aku tidak kuasa menahan setetes air mata yang mengalir ke pipiku. Kerinduan tiba-tiba menyesap ke dalam jiwaku. Entah rindu apa. Mungkin aku rindu kedamaian, dan disinilah aku mendapatkannya.

Selesai upacara, aku menghampiri Simpei. “Sejak kapan kalian begini?” Tanyaku tanpa basa basi.

“Begini bagaimana? Oh… upacara? Walaupun kami tinggal di hutan, tidak berarti kami melupakan tanah air. Kami melakukannya untuk menghormati pahlawan dan semesta, yang membebaskan negeri dari perang. Tapi sekaligus, untuk berdoa meminta kemerdekaan.”

“Tapi kita kan sudah merdeka.”

“Belum sepenuhnya.” Aku tidak mengerti maksud Simpei. Tapi berapa kalipun mendesak, Simpei tetap menjawab ‘belum sepenuhnya’.

Belum menyerah, aku pun bertanya lagi. “Kenapa Simpei dan yang lain masih tinggal di hutan? Pemerintah kan sudah menyediakan rumah tinggal yang layak?”

Simpei tersenyum. “Jika kami tinggal disana, siapa yang akan menjaga hutan? Jika hutan kosong, pembalakan liar akan terjadi dimana-mana. Hutan akan dimanfaatkan. Banyak hutan Kalimantan yang sudah gundul. Dari luarnya saja terlihat masih lebat. Tapi di dalamnya pohon bertumbangan. Kalimantan adalah jantung dunia. Saya bertekad akan menjaganya. Jika tidak bisa seluruhnya, saya harap sangkulirang bisa bertahan, hingga cucu dari cucunya cucuku, bisa menikmatinya nanti.”

Aku terkesiap mendengar jawaban Simpei. “Kita santap makanan yang sudah disiapkan dulu.” Simpei pun pergi meninggalkanku, yang masih mencerna kata-katanya.

***

“Bisakah aku tinggal disini?” Ucapku memohon. Simpei sedang duduk di depan biliknya sambil menghisap tembakau. Malam ini adalah malam terakhirku, sebelum besok aku dan Evans pulang.

“Aku sudah menduga kamu akan mengatakan itu. Tapi tidak bisa, Luna. Tempatmu bukan disini.”

“Bukankah kamu sudah menobatkanku menjadi bagian dari keluarga?”

“Kamu bisa kesini kapan saja. Tapi, kamu tidak bisa tinggal disini.”

“Kalian hidup nomaden. Bagaimana aku bisa menemukan kalian nanti?”

“Kalimantan memiliki kekuatan magis diluar batas nalar kita. Gunakan hatimu. Maka kamu akan menemukan kami. Seperti sekarang. Semestalah yang membawa kalian bertemu kampung kecil kami.” Ketenangan Simpei saat berkata membuatku percaya. Aku pun beranjak menuju ke lapangan kecil, dimana warga berkumpul mengelilingi api unggun. Aku duduk di antara kumpulan para perempuan. Mereka semua sedang bernyanyi, diiringi alat musik tradisional. Evans yang duduk di seberangku memegang sampek, gitarnya suku dayak. Evans sudah lama belajar cara memainkannya. Kecintaannya kepada Indonesia, membuat Evans lebih Indonesia dibanding aku.

Aku mendengar lantunan lagu, sambil menatap api di hadapanku. Satu lagu selesai, diganti yang lain. Kali ini, hanya suara Evans yang terdengar.

Yeah I’m still on my way to get to where you are

Try to let go the things I knew

We’ll forget Jakarta, promise that we’ll never look behind

Tonight, we’re gone to where this journey ends

Aku terperangah. Kenapa dia bisa tahu lagu ini? Forget Jakarta karya Adhitia Sofyan merupakan salah satu lagu faforitku. Aku tak kuasa untuk tidak melihat ke arah Evans. Rambut cokelat keritingnya yang hampir menyentuh bahu, dikuncir rapi. Wajahnya yang dibingkai kumis dan cambang, berhasil membuatnya terlihat sangat tangguh. Kulitnya yang sawo matang kemerahan, menjadi bukti bahwa dia bersahabat dengan matahari. Tangannya yang berotot karena beban kamera, membuatnya makin mempesona. Mata kami pun tidak sengaja bertemu. Dia tersenyum sambil terus memetik senar sampek. Aku mengalihkan pandangku kembali ke api unggun.

***

Hari keempat belas. Aku berjalan membelah rimba bersama Evans, Simpei Dan 3 orang warga. Entah dimana aku sekarang. Tapi hutan di sekeliling mampu menghipnotisku. Ribuan pohon menjulang tinggi, menutupi sinar matahari. Lumut tebal yang menyelimuti pepohonan, membuat suasana menjadi sangat teduh dan sendu sekaligus. Tepat ketika matahari berada di atas kepala, Simpei berhenti. “Cepat kemari!”

Aku dan Evans berlari menyusul. Kami langsung terkesiap melihat pemandangan di depan kami. Terdapat sebuah danau yang sangat indah. Airnya begitu bening, memperlihatkan dasarnya yang berupa pasir putih. Mataku tidak bisa berkedip melihatnya. Indonesia selalu bisa mengejutkanku dengan segala kecantikan alamnya.

“Selamat datang di Labuan Cermin.” Ucap Simpei.

“WHOOOOO!!!” Tiga orang warga yang ikut kami, berlari dan langsung terjun bebas ke dalam air danau.

“Aku boleh juga?” Tanya Evans semangat.

Simpei tertawa. “Tentu saja. Kamu akan menyesal jika tidak.”

Tanpa babibu, Evans melepaskan bajunya. Dengan hanya mengenakan celana pendek, dia terjun bebas menyusul yang lain. Aku tersenyum dan ikut meluncur. Tubuhku langsung segar seketika. Saat aku mencoba menyelam ke dalam, airnya terasa asin. Sedangkan air di permukaan terasa tawar. Tidak heran Simpei menyebutnya danau dua warna. Setelah satu jam bermain air, kami berlima duduk di pinggir danau sambil menyantap makan siang.

“Danau ini merupakan tempat istirahat nelayan setempat. Sebentar lagi ada yang singgah. Kalian bisa menumpang hingga ke Desa terdekat.” Ucapan Simpei membuat makan siangku menjadi tidak enak. Aku belum siap pergi dari surga ini.

Satu jam kemudian, perahu kelotok itu datang. Ada dua orang nelayan di atasnya. Perahu itu semakin dekat. Ketika aku ingin berterima kasih kepada Simpei dan yang lain, mereka sudah tidak terlihat lagi. Evans yang berada di sebelahku juga kebingungan.

It’s okay. I think they don’t wanna be found by the others.” Hibur Evans, ketika melihat wajahku yang terus memandang hutan, dengan ekspresi seperti seorang bayi yang ditinggal ibunya. Evans meraih tanganku. Bergandengan, kami menghampiri para nelayan.

***

Facebook Comments

About Dinda Tahier

I'm an ordinary human being who just wants to share stories