This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Inilah Dampak Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan

Inilah Dampak Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan

RuangRakyat — Lapisan minyak akibat tumpahan crude oil yang berasal dari Pertamina masih menggenangi tiang dan kolong rumah pasang surut penduduk di Kelurahan Margasari, Kelurahan Kampung Baru Hulu dan Kelurahan Kampung Baru Hilir dan Kelurahan Kariangau RT 01 dan RT 02, Kecamatan Balikpapan Barat.

Genangan Minyak di Tiang dan Kolong Rumah Pasang Surut Penduduk

Ledakan Pasca Tumpahnya Minyak

Sebelumnya, Pertamina telah berupaya menangani dampak melalui pengamanan minyak dengan oil boom membawa ke pinggir pantai dan diberi dispersant untuk menetralisasi ceceran minyak. Upaya ini kemudian dihentikan sampai terdeteksi lebih banyak tumpahan dan dilakukan penyelidikan.

Hasil analisis citra satelit oleh LAPAN tanggal perekaman 1 April  2018 dengan menggunakan data Landsat 8 dan Radar Sentinel 1A menunjukkan estimasi total luasan tumpahan minyak di perairan di perairan Teluk Balikpapan, Propinsi Kalimantan Timur ini seluas 12.987,2 Ha.

Berdasarkan Laporan Tim Penanganan (KLHK, 2018), pada 3 April 2018, pemerintah melakukan ground check (pemeriksaan lapangan) di pesisir dan sepanjang garis pantai Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Pasir Utara. Tim terdiri atas perwakilan Ditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Ditjen Penegakan Hukum, Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Kalimantan (P3EK), Balai KSDA Provinsi Kalimantan TImur Unit Balikpapan, Dinas LHK Kota Balikpapan dan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pontianak Satker Balikpapan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Saat ini, penanganan yang bersifat reaktif dilakukan melalui pembersihan ceceran minyak dengan menggunakan kapal penarik guna melokalisasi cemaran minyak di tengah laut, dan vacum truck untuk menyedot minyak. Adapun di wilayah perkampungan, pembersihan dilakukan dengan oil spill dispersant (OSD) dan cara manual. Pertamina juga memberikan masker dan mendukung bagi masyarakat yang ingin melakukan pembersihan secara cepat.

Masyarakat mengeluhkan dampak terkait gangguan kesehatan yang mereka alami, yakni mereka mengalami mual dan pusing akibat bau minyak menyengat selama beberapa hari, khususnya di area yang permukimannya masih terpapar tumpahan minyak.

Hasil pemeriksaan tim menunjukkan bahwa luasan area terdampak akibat tumpahan minyak diperkirakan mencapai sekitar 7.000 Ha dengan panjang pantai terdampak di sisi Kota Balikpapan dan Kabupaten  Penajam Pasir Utara mencapai sekitar 60 km.

Terancamnya Habitat Pesisir

Penanganan yang penting dilakukan adalah mencegah dampak minyak agar penyebaran tidak semakin meluas. Pasalnya, tumpahan minyak telah menyebar ke pemukiman masyarakat, hutan mangrove dan wilayah itu menjadi habitat kepiting, mamalia seperti pesut, lumba-lumba hidung botol, dan lumba-lumba tanpa sirip belakang.

Kepiting yang Terdampak dan Mati

Secara spesifik, berdasarkan Laporan Tim Penanganan (KLHK, 2018), hutan mangrove yang terdampak memiliki luasan sekitar 34 Ha di Kelurahan Kariangau RT 01 dan RT 02, 6.000 tanaman mangrove di Kampung Atas Air Margasari, 2.000 bibit mangrove warga Kampung Atas Air Margasari dan biota laut jenis kepiting mati di Pantai Banua Patra.

Tumpahan minyak mentah dapat menimbulkan dampak sistemik dan meluas pada lingkungan laut serta makhluk hidup lainnya. Oleh karena itu, penanggulangan tumpahan minyak bukan hanya meliputi cara pemantauan dan pembersihan yang menuntut teknologi canggih.

Lebih dari itu, cara penanggulangan tumpahan minyak memerlukan penggunaan teknologi yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak menimbulkan opportunity cost yang lebih besar/dampak negatif lain bagi lingkungan. Perlu dilakukan kajian mendalam atas dampak tumpahan minyak tersebut serta dilakukannya upaya rehabilitasi lingkungan yang tercemar baik hewan, tumbuhan, maupun estetika laut dan pantai, serta hal terkait perlindungan kesehatan masyarakat.

Memang, secara alami lingkungan memiliki daya lenting untuk dapat kembali pulih apabila mengalami gangguan dari luar, namun daya lenting tersebut memiliki batasan. Kasus tumpahan minyak mentah yang telah mengacaukan keseimbangan ekosistem di perairan Teluk Balikpapan dan sekitarnya.

Wilayah ini dapat mencapai homeostatis apabila dilakukan upaya penanganan rehabilitatif yang komprehensif. Kondisi homeostatis atau sifat ekosistem akan mencari keseimbangan (ekuilibrium) baru yang dinamik. Artinya, jika ada gangguan, selama gangguan tersebut tidak melampaui daya lentingnya, maka ekosistem akan mampu pulih kembali.

Tumpahan minyak dapat merusak mangrove dan habitat yang berada di dalamnya dalam jangka panjang. Tingkat kerusakan yang ditimbulkan dari tumpahan minyak terhadap lingkungan perlu dikaji secara mendalam sebagai bentuk perlindungan dan pemulihan lingkungan.

Keberadaan dan keutuhan hutan mangrove, serta biota-biota lain di perairan akan sangat mempengaruhi kelestarian kawasan pantai beserta sistem kehidupan  manusia di kawasan tersebut.

 

Sumber Gambar : Tim Penanganan KLHK, Merdeka, BBC

 

Facebook Comments