This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Inilah Perbandingan Sampah Yang Dihasilkan Si Kaya dan Si Miskin

Inilah Perbandingan Sampah Yang Dihasilkan Si Kaya dan Si Miskin

Sampah di Indonesia telah menjadi masalah nasional, jika tidak segera diatasi masalah ini dapat menjadi petaka di masa depan. Berdasarkan data statistik persampahan Indonesia tahun 2015, estimasi total timbulan sampah dari sumber asalnya (permukiman dan non permukiman) totalnya mencapai 64 juta ton per tahun dan diprediksi meningkat 2-4% setiap tahun jika tidak ada pengurangan di sumbernya.

Salah satu kota yang mengalami permasalahan sampah yaitu Kota Depok. Setiap harinya, rata-rata timbulan sampah di Depok mencapai 1.286 ton, dengan jumlah yang terkelola mencapai 146 ton, ditimbun di TPA sebesar 600 ton, dan sampah yang tidak terkelola mencapai 551 ton.

Berdasarkan kondisi tersebut memberi gambaran bahwa penanganan sampah tidak cukup hanya di TPA (hilir) namun harus di tingkat rumah tangga (hulu). Penanganan pada tingkat rumah tangga sangat penting menimbang bahwa 62,7% sumber penghasil sampah di Depok adalah rumah tangga.

Jumlah timbulan sampah ternyata memiliki hubungan dengan tingkat pendapatan keluarga. Secara umum, pada tingkat pendapatan tinggi dan sedang, timbulan sampah yang paling banyak dihasilkan masyarakat secara berurutan adalah anorganik, organik, dan residu. Pada tingkat pendapatan rendah, timbulan sampah yang paling banyak dihasilkan secara berurutan adalah organik, anorganik, dan residu.

Sampah organik adalah sampah yang bisa mengalami pelapukan (dekomposisi) dan terurai menjadi bahan yang lebih kecil dan tidak berbau (sering disebut dengan kompos). Sedangkan sampah Sampah anorganik ialah sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan non hayati baik berupa produk sinterik maupun hasil prosses teknology pengelolahan bahan tambang atau sumber daya alam dan tidak dapat diuraikan oleh alam, Contohnya: botol plastik, tas plastik, kaleng.

Semakin tinggi tingkat pendapatan maka jumlah timbulan sampah organik rata-rata per orang semakin rendah. Sementara itu, semakin tinggi tingkat pendapatan maka jumlah timbulan sampah anorganik dan residu rata-rata per orang semakin tinggi pula.

Sumber: Harnita, 2017

Berdasarkan Gambar di atas, timbulan sampah organik per orang paling banyak dihasilkan orang yang berasal dari keluarga dengan tingkat pendapatan rendah dan sampah anorganik paling banyak dihasilkan oleh keluarga dengan tingkat pendapatan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa persentase relatif sampah organik secara umum akan semakin tinggi pada status sosio-ekonomi (pendapatan) yang semakin menurun. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan pola/jenis konsumsi makanan, standar hidup, derajat aktivitas komersial, musim, dan lain-lain.

 

 

 

Referensi:

Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok. (2016). Timbulan   Sampah Kota Depok. DKP.

Harnita, N. (2017). Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Rumah Tangga. Tesis Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia.

Kardono (2007) Integrated solid waste management in Indonesia. Proceedings of International Symposium on Eco Topia Science 7: 629–633.

KLHK. (2015). Penutupan pekan lingkungan dan kehutanan Indonesia 2015: Rangkaian Hari Lingkungan Hidup 2015. Dialog, 1–5.

Kolekar, K.A., Hazra, T., & Chakrabarty, S.N. (2016). A review on prediction of municipal solid waste generation model. Procedia Environmental Sciences, 35, 238-244.

Sumber Gambar : Tempo

Facebook Comments