This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Inilah Perbedaan Teroris Zaman Dulu dan Sekarang !

Inilah Perbedaan Teroris Zaman Dulu dan Sekarang !

Terorisme di Indonesia saat ini berbeda dengan terorisme zaman dahulu. Berbeda baik dari ideologi maupun modus serta kemampuannya. Tragedi Bom di Bali dimana pelaku teror didominasi oleh jaringan Jamaah Islamiyah (JI) yang berafiliasi dengan Al Qaeda. Dari yang Saya pelajari dalam course Defense and Strategic Studies & Politics of Terrorism di NDU Islamabad sekitar tahun 2014, Al Qaeda lebih mentargetkan representasi dari simbol-simbol Barat, tanpa ada minat untuk mengklaim suatu wilayah tertentu.

Al Qaeda adalah stateless organization. “It is nowhere yet everywhere” artinya tidak ada tempat namun ada dimana-mana. Jihad Warfare yang mereka gencarkan adalah melawan hegemoni barat. Bombing mereka terstruktur, terencana dan bersifat strategis. Tujuannya jelas untuk menghancurkan dan memberi pesan kepada yang mereka anggap musuh. Terlihat dari target yang menjadi sasaran adalah representasi dari simbol-simbol barat. Bahan peledak yang digunakan untuk merakit bom juga termasuk jenis bom konvensional dengan skala besar yaitu TNT dan RDX yang biasa digunakan dalam perang.  Afghani style…

Sementara itu, terorisme zaman sekarang yang akhir-akhir ini merupakan ancaman nyata bagi keamanan Indonesia, memiliki perbedaan yang mencolok. Ideologi teroris saat ini mayoritas adalah kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), baik itu grup Bahrumsyah, Aman Abdurrahman, Bahrun Naim maupun kelompok lain yang terpengaruh oleh ideologi yang disebarkan oleh para pentolan ISIS di Suriah dan Iraq.

Al Qaeda dan ISIS berseberangan pendapat setelah Al Bahgdadi membelot dari Al Nusra dengan menyelewengkan dana dan personelnya untuk mendirikan ISIS di Iraq. Narasi yang dominan di ISIS adalah bahwa saat ini merupakan akhir zaman (apocalyptic prophecy). Di akhir zaman, Suriah adalah daerah yang diberkahi karena akan muncul kekhalifahan yang diberkahi Allah SWT setelah runtuhnya Mulkan Jabariyyan, negara para diktator.

Narasi yang tersebar sebagai ideologi itu ditambahkan dengan narasi lain jika suatu saat nanti akan adanya pasukan berpanji hitam yang akan muncul dari Khurrasan. ISIS mengklaim bahwa merekalah khilafah dan pasukan berpanji hitam itu. Kedua narasi ini ditambahi dengan paham takfiri yang mengkafirkan mereka yang tidak setuju dengan pemikirannya. Hal ini sangat berbahaya, karena target bisa siapa saja bahkan kelompok muslim lain. Halal. Aksi terror mereka cenderung “noob” secara praktek.

Improvised Explosive Devices (IED) khas yang biasanya dipakai para pemberontak dan insurjen, karena mereka didikan ISIS yang mendapat kemampuan dari Al Nusra, pemberontak Suriah. Bom tersebut bersifat membunuh, anti personel. Digunakan untuk membunuh orang, berbeda dengan teroris zaman dulu yang menggunakan TNT dan RDX, yaitu untuk menghancurkan secara strategis.

Apa yang menjadikan teroris zaman sekarang lebih berbahaya? Pertama, pelaku tidak perlu lama merencanakan aksi. Kedua, target bisa siapa saja meskipun saat ini yang disasar mayoritas adalah Polisi. Ketiga, proses radikalisasi berlangsung cepat dan remote. Keempat, secara intensitas, serangan dapat bersifat massif dimana-mana, karena ada fatwa dari pentolannya yaitu Al Adnani, bahwa jika mereka tidak dapat ber “amaliah” dengan hijrah ke Suriah, mereka harus melakukan “amaliah” di negara masing masing. Kelakar si Al Adnani inilah yang menjadi inspirasi para pelaku teror di Indonesia akhir-akhir ini.

Tidak ada faktor atau background khusus bagi teroris zaman sekarang. They can be anyone from any background. Jika para “pengantin” yang telah meledakkan diri atau ditangkap dari generasi zaman dulu didominasi oleh mereka dengan background sosial dan ekonomi “bermasalah”, maka teroris zaman sekarang ini justru secara mengejutkan tidak demikian. Mereka diketahui adalah yang berasal dari keluarga kaya, mantan pejabat, bahkan mantan polisi.

Secara Pendidikan, there is no single education background. Jika ada yang mengatakan bahwa pasti anak keluaran pesantren , maka hal tersebut bisa saya pastikan salah besar. Mereka berasal dari latar belakang pendidikan yang umum, yang terdiri dari siswa/i SMA, Dosen, bahkan ada yang tidak sekolah. Maka, sekali lagi “they can be anyone”.

Menghadapi kenyataan yang demikian justru lebih sulit dan merupakan PR besar bagi Penegak hukum di negara kita. Jumlah simpatisan ISIS yang ada saat ini sudah pada skala jutaan, serta kecepatan proses radikalisme dari nol sampai siap meledakkan diri yang hanya memakan waktu beberapa minggu, juga merupakan PR bagi kita bersama. Mengapa penetrasi paham radikal zaman sekarang berbeda targetnya dengan zaman dulu? Jawabannya sedang Anda gunakan untuk membaca tulisan ini, yaitu Media Sosial.

Zaman dulu, perekrutan lebih kepada perkumpulan dan kopdar (kopi darat) sehingga para aktor intelektual dibalik aksi teror dapat memilih targetnya yang berpotensi untuk bisa dilamar menjadi “pengantin” dan biasanya dari yang memiliki trouble background.

Ada penelitian tentang hal tersebut yang ditulis oleh Irjen Pol. Totoy Hirawan sebelum menjabat sebagai Kapolda Bali. Dengan adanya media sosial, perekrutan mejadi lebih massif. Aktor intelektual cukup membuat konten yang berisi propaganda dan ideologinya, lalu sebarkan. Spekulasi dari perhitungan jumlah konten yang dibagikan tentunya ada beberapa yang pasti nyangkut, bahkan para penebar tadi tidak perlu tahu siapa “pengantinnya”.

Sementara, teroris zaman dulu berbeda. Sebelum melakukan aksi, mereka akan mendapat pembinaan, karantina, penggemblengan dan ritual khusus dari para pembimbingnya. Kalau teroris zaman sekarang, mereka cukup melihat video tutorial dan membaca postingan yang telah diunggah melalui media sosial. kemudian mereka dapat beraksi bahkan tanpa komando. Setiap momentum atau event yang potensial bisa menjadi percikan yang membakar mesiu di kepala mereka untuk melakukan “amaliah”. Ibarat berburu, teroris zaman dulu memakai bedil untuk membidik “pengantin”, sedangkan teroris zaman sekarang menggunakan apotas atau jaring, tebar jaring tebar racun.

Stay alert, be wise!

Saudara kalian dalam kemanusiaan,
Ridwan Miftakhul Rochman
Prodi Damai dan Resolusi Konflik
Fakultas Keamanan Nasional, Universitas Pertahanan

Facebook Comments

About Redaksi Ruang Rakyat

RuangRakyat memberikan ruang bagi kamu yang ingin menuangkan gagasan ke seluruh rakyat Indonesia.