This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Inilah Resolusi Konflik Persija-Persib Agar Tidak Jatuh Lagi Korban Jiwa

Inilah Resolusi Konflik Persija-Persib Agar Tidak Jatuh Lagi Korban Jiwa

Terhitung sudah lima nyawa suporter yang menghilang diatas nama hiburan laga pertandingan sepakbola antara Persib dan Persija, pertandingan yang bersifat sebuah tontonan hiburan masyarakat berubah menjadi arena gladiator bagi penikmatnya sendiri.

Padahal tidak dipungkiri bahwa peran suporter adalah sebagai pemain kedua belas, beberapa pemain sepakbola bahkan merasa betah di klubnya karena mereka mendapatkan banyak energi positif dari pendukungnya. Rasa kecintaan terhadap klub menjadi tercoreng akibat fanatisme yang berlebih hingga di luar akal manusia yang mampu membuat mereka melakukan tindakan apa saja, termasuk yang biasa dikatakan mereka dengan penuh pride demi membela serta mempertahankan harga diri dari klub kebanggaannya. Mirisnya rasa kecintaan itu seringkali dituangkan dalam bentuk yang menyimpang oleh para supporter sepakbola tanah air.

Kerusuhan yang kerap terjadi seakan menjadi peristiwa yang biasa saja, baru kembali menghangat ketika kematian Haringga Sirilla yang berhasil diabadikan dalam rekaman video dan tersebar di media sosial. Bahkan PSSI sendiri sebagai lembaga yang memiliki otoritas tertinggi di dunia sepakbola lokal sudah mengatakan ini merupakan High Risk Match, lalu kalau memang resiko tinggi bagaimana keamanannya? Muncul lagi dalam pertanyaan saya menyangkut dengan kejadian terakhir yang menewaskan suporter Persija, mengapa tidak ada pihak keamanan yang berjaga sepanjang jalur kedatangan suporter menuju stadion?

Mirisnya lagi kejadian yang membuat terbunuhnya salah seorang suporter  sebelum pertandingan itu tidak terdengar kepada pihak penyelenggara kompetisi. Padahal ribuan mata menyaksikan kejadian itu dan tidak ada rasa simpati kepada sesama pecinta bola. Pemandangan yang bisa dikatakan tidak manusiawi dan tidak berkeprimanusiaan terjadi di ruang publik kota Bandung.

Pertanyaan lainnya yang selalu sama dalam setiap kejadian “bagaimana hukum mengatur kasus ini? mengapa bisa terulang lagi? Seberapa serius para pemangku kepentingan terhadap konflik ini?”.

Pasalnya beberapa upaya perdamaian yang dilakukan terlihat nihil, upaya hanya sebatas permukaan saja dan tidak berkelanjutan. Setiap ada korban yang jatuh membuat eskalasi konflik ini menjadi tinggi, perilaku kekerasan hadir akibat dari menyatunya individu ke dalam collective group, ketika seorang suporter masuk ke dalam collective group maka individu akan lenyap dan mengalami deindividuasi sehingga menyatu dengan collective group.

Seperti konsep self dalam interaksionisme simbolik bahwa adanya perefleksian diri sendiri dari sudut pandang orang lain, atau berupa mirroring pada suporter yang berlandaskan “perilaku kami berdasarkan dengan apa yang kalian lakukan pada kami” dengan kata lain aksi balas dendam masih ada.

Faktor dalam konflik ini terbagi menjadi tiga. Pertama akar konflilk yang berupa masih terpeliharanya memori kolektif dari masing-masing kelompok suporter, adanya usaha untuk mempertahankan gengsi dan harga diri kelompok maupun daerah, terpeliharanya woundedness atau rasa penderitaan yang menyakitkan sehingga terpeliharanya perasaan terluka dan perasaan perlakuan tidak adil di masa lalu, dan transformasi trauma yang diturunkan dari generasi ke generasi layaknya lingkaran setan.

Kedua adalah akselerator yaitu terjadi kesalahpahaman atau miskomunikasi mengenai arahan oleh Ayi Beutik, Panglima Viking dengan anggotanya sehingga menyebabkan kedua kubu suporter saling berkonflik, keributan atas isu viral di media sosial yang menyangkut kedua suporter. Terakhir adalah pemicu konflik yaitu masih terjadi pembiaran terhadap nyanyian-nyanyian provokatif, perkelahian, pengeroyokan, pembunuhan, sweeping plat kendaraan, pelemparan terhadap bus pemain. Ketiga faktor itu  yang menjadi penyebab konflik itu terus terjadi dan terjaga sehingga berkepanjangan. Generasi lama mungkin memang sudah mulai melupakan kejadian terdahulu namun generasi baru yang justru tidak mengalami konflik awal yang terlibat konflik hingga saat ini.

Bisa saja konflik ini dihentikan dengan syarat upaya perdamaian terus dilakukan, pada kenyataannya upaya perdamaian hanya terdengar nanggung. Mengenai konflik ini bukan hanya tugas pihak keamanan saja melainkan butuh banyak kerjasama dari semua pihak.

Pemerintah Bandung, Jawa Barat maupun DKI Jakarta, PSSI, Kepolisian, para kepala redaksi media massa dan stakeholder lainnya harus bisa bekerjasama serta juga bekerja keras agar tidak  ada lagi korban kematian diatas kompetisi sepakbola. Harus diketahui jika konflik ini dibiarkan bisa merembet bukan soal suporter Persib dan Persija saja tapi soal anak Bandung dan Jakarta, itu terbukti dengan adanya sweeping plat kendaraan yang pernah terjadi dengan kata lain lahirnya permusuhan antar wilayah yang menjadi sebuah ancaman akan terjadinya disintegrasi bangsa.

Kerangka Resolusi Konflik Persija-Persib

Jika semua kelompok sudah berperan dengan sebagaimanamestinya maka dapat dilaksanakannya rekonsiliasi dan tercapainya empat hal utama yaitu :

  1. Mengembalikan martabat atau hakikat kemanusiaan korban dan semua kelompok, bahkan pelakunya sekalipun. Harus adanya rasa ketersediaan untuk menata kembali identitas dan hubungan antar kelompok
  2. Penataan ulang terhadap moral baru, mengutamakan nilai-nilai kerjasama
  3. Adanya perubahan sikap dan keyakinan agar bisa mengatasi rasa ketakutan, rasa marah, dan dendam yang membuat konflik berkepanjangan
  4. Mengubah pola komunikasi yang bertujuan untuk membuat interaksi dengan kelompok musuh ke arah hubungan saling tergantung yang menguntungkan. Harus adanya rasa berani untuk  mengambil resiko dengan cara memulai kontak baru hingga  timbulnya rasa percaya satu sama lain.

Harus diingat juga apa artinya jika pengusutan tuntas kekerasan jika tidak ada tindakan pencegahan atau solusi yang bisa menghentikan kejadian tersebut agar tidak berulang. Karena kita sebagai penikmat sepakbola seharusnya dapat menumbuhkan rasa suportifitas dan persatuan yang tinggi diantara suporter.

Ditulis oleh : Amalia Ulfah – Peneliti Peace and Conflict Resolution yang telah menulis tesis berjudul Resolusi Konflik Supporter Persija dan Persib dari Perspektif Sosiokultural.

Editor : Fahmy Yusuf – Peneliti Peperangan Asimetris Indonesia

Featured Image : Brilio.net

Facebook Comments

About Redaksi Ruang Rakyat

RuangRakyat memberikan ruang bagi kamu yang ingin menuangkan gagasan ke seluruh rakyat Indonesia.