This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Kata Siapa Isu Agama Tidak Laku ?

Kata Siapa Isu Agama Tidak Laku ?

Beberapa tahun lalu ada kerabat yang mengatakan bahwa agama tidak terlalu penting untuk dipelajari. Jalankan saja yang sudah ada, sesuai Al-Qur’an dan Sunnah. Tidak usah dikritisi apalagi didekonstruksi.

Dan datanglah Pemilu 2014. Jederrr! Kemudian Pilkada DKI 2017. Boom!

Isu agama dan etnisitas berhamburan di timeline media sosial. Tak jarang beberapa rekan harus unfriend kawan yang tidak sejalan dengan pilihannya. Label ditempelkan di mana-mana. Kafir, liberal, kaum otak 2D, penista agama, PKI, rasis, fundamentalis, dan lain-lain.

Sebenarnya isu agama bukan hal yang baru. Setelah Indonesia merdeka, ada beberapa pergolakan di dalam negeri yang mengusung isu etnisitas dan agama, seperti Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin Kartosuwiryo yang pada awalnya didirikan untuk melawan Belanda. Kemudian ada Pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang ingin mempertahankan bentuk Negara Federal.

Sedangkan pada era Orba, hal-hal yang berkaitan dengan suku, agama, ras, dan antargolongan tidak diperkenankan untuk dibicarakan secara terbuka, walaupun akhirnya pada akhir 1990, Soeharto menggaet Habibie dan kelompok Islam sehingga menyebabkan Islam sebagai sumber kekuatan politik yang mendukung rezim. Hal yang sama pun dilakukan Habibie saat menjabat sebagai Presiden. Ia menjadikan kelompok Islam sebagai basis dukungan; mayoritas menteri-menteri muslim.

Makin ke sini, isu agama dan etnisitas semakin seru untuk diangkat. Brand yang diusung pun tak jauh-jauh dari tesis atau anti-tesis dari hal tersebut. Yang satu berkoar “mari pilih pemimpin Muslim”, yang satu berteriak “ayo dukung ke-bhinekaan bangsa tanpa pandang agama”. Vis a vis.

Di era internet dewasa ini, advokasi politik banyak dilakukan via internet oleh kandidat, partai atau kelompok-kelompok yang berkepentingan. Karena internet bersifat source control, maka keuntungannya jelas; distribusi yang luas, murah, dan dapat diakses semua kalangan. Publik, yang mengatasnamakan diri sebagai netizen, menjadi marketing tak berbayar (atau bahkan dibayar) untuk menyebarkan brand dan isu yang diangkat dari masing-masing pasangan calon. Tanpa menimbang apakah itu black campaign atau bukan, hoax atau kenyataan, netizen mendapatkan ruang untuk mentasbihkan posisi kebijakannya, siapa jati dirinya dan informasi lain yang bersifat “gue banget nih”. Maka isu agama dan etnisitas bertebaran di timeline media sosial kita.

Jadi, kata siapa isu agama gak laku?

 

Ditulis oleh Ummi Fatia Alumni Sastra UI, General Affairs Manager at Benua Institute

Facebook Comments

About Redaksi Ruang Rakyat

RuangRakyat memberikan ruang bagi kamu yang ingin menuangkan gagasan ke seluruh rakyat Indonesia.