This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Belajar dari Kepemimpinan Soedirman

Belajar dari Kepemimpinan Soedirman

Sudah lebih dari 67 tahun sejak Jendral Soedirman menghelakan nafas terakhirnya, Indonesia tidak pernah menemukan sosok pejuang sekaliber Jendral Soedirman. Ia yang dahulu melakukan perang gerilya dengan kondisi kesehatan yang buruk dimana hanya memiliki paru-paru tunggal, ia tidak pernah menyerah pada keadaan dalam merebut kemerdekaan bangsa. Sebagai seorang pemimpin tertinggi angkatan bersenjata ia memegang mandat penuh ketika situasi negara dibawah keadaan darurat perang seperti pada saat agresi Belanda, namun ia tidak serta merta memanfaatkan kesempatan-kesempatan itu untuk melegitimasi dirinya dalam merengkup kekuasaan sebagai pemimpin negara.

Soedirman telah mengorbankan perjuangannya semata-mata untuk kedaulatan dan kemerdekaan secara utuh. Dikala ia krisis dalam menghadapi penyakitnya sendiri ia tidak mau menyerah. Ketulusan itu nampak dengan pola kehidupan yang dihadapi semasa perang gerilya, berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan penulis ketika melakukan napak tilas perjuangan Jendral Soedirman, ia  selama beberapa tahun hidup di rumah persinggahan yang berupa gubuk sederhana di atas gunung di kelilingi hutan di dusun Sobo, Desa Pakis Baru, Kabupaten Pacitan. Pada masa peperangan itu ia sedang mengumpat dan kesulitan dalam mengatur logistik yang sangat terbatas, namun sehari-hari ia berbagi makanan dengan warga sekitar yang hidup serba kekurangan. Ia dan istri tidak pernah ragu untuk menolong warga sekitar yang membutuhkan makanan dan obat-obatan. Pasukan gerilya pun selalu terbangkitkan moralnya ketika dekat dengan Jendral Soedirman yang tidak pernah mengeluh.

Jika melihat konteks zaman, kini sosok yang memiliki rasa rela berkorban, tulus dan ikhlas dalam melakukan perjuangan bagi negara rasanya sangat langka sekali. Jendral Soedirman boleh jadi sedih jika melihat para penerusnya lebih berambisi berkompetisi dalam mendapatkan kekuasaan daripada memiliki rasa tanggung jawab atas tugas yang diemban sebagai pemimpin dalam memberikan pelayanan kepada rakyatnya.

Belakangan ini kasus-kasus besar korupsi mulai dikuak oleh KPK. Beberapa tahun silam Indonesia dikejutkan dengan terbongkarnya kasus Mega Proyek Hambalang yang bernilai fantastis, kemudian baru-baru ini ketua DPR RI kembali ditetapkan sebagai tersangka atas kasus besar e-KTP. Tentu hal ini sangat mencoreng perjuangan para pahlawan yang dahulu dengan segenap jiwa menjaga dan membawa bangsa ini ke arah pembebasan. Bahkan orang-orang yang telah mendekam di dalam penjara akibat terlibat kasus-kasus KKN di negara ini seolah menutup mata atas kesalahannya, mereka masih bisa tersenyum karena tidak dimiskinkan atau dihukum mati seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Tiongkok.

Disisi lain kita meyadari bahwa  kepemimpinan yang kuat menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam upaya pemberantasan korupsi. Di era ini lah kita malah kehilangan banyak sisi kepemimpinan oleh para penguasa politik. Rancangan Hak Angket KPK yang digodok DPR adalah bukti nyata kepentingan golongan yang dipaksakan melalui sistem. Saat ini jajaran tertinggi dan sejumlah anggota DPR disinyalir terlibat dalam proyek-proyek bernilai triliunan rupiah. Artinya ada tindak penyelewengan kuasa dan fungsi lembaga yang secara sistematis dan menerobos landasan konstitusi negara dimana Pancasila dan UUD 1945 selalu mengutamakan keadilan sosial dan kepentingan nasional.

Perjuangan Jendral Soedirman bagiakan angin lalu oleh para penguasa politik hari ini, karena mereka tidak hidup di era itu, mereka tidak serta merta belajar dari sejarah bagaimana proses perjuangan dalam membangun negara ini. Tentu sebagai pemimpin strategis seorang pemimpin dituntut untuk bertanggung jawab atas setidak-tidaknya oleh kinerja mereka selama memimpin, tapi hari ini orang-orang yang kontra-prestasi ini terus-terusan melawan hukum dengan kelemahan-kelemahan hukum yang ada. Dengan kekuasaan dan dukungan dana yang kuat semua bisa dikondisikan. Peran intelijen negara dalam menangkal para pembangkang negara seperti ini harus selalu mendapatkan dukungan oleh masyarakat, karena kerugian paling besar akan selalu dirasakan oleh masyarakat kecil yang tidak menikmati pembangunan yang merata.

Oleh karenanya kehilangan sosok pemimpin dan jiwa kepemimpinan akan membawa nasib bangsa dan negara kearah keterpurukan bahkan kekalahan di era perang hibrida saat ini. Tentu kita akan sangat merugi tidak mempelajari pengalaman dan teladan yang sangat baik dari para pahlawan terutama Jendral Soedirman yang mengorbankan segalanya melakukan perang semesta kepada penjajah dan memberikan inspirasi bagi pemimpin masa depan yang memegang tampuk kekuasaan di negara yang bernama Indonesia ini.

 

Facebook Comments

About Fahmy Yusuf

Sarjana Humaniora Universitas Indonesia, Magister Pertahanan Universitas Pertahanan. Editorial Ruang Rakyat.