This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Kisah Mengurus Visa Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Vientiane, Laos

Kisah Mengurus Visa Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Vientiane, Laos

“Maaf mas, sekarang di sini sudah tidak menerima pembuatan visa ekspres. Visa tercepat bisa diperoleh dalam waktu 4 hari kerja.”

Begitulah kira-kira yang diucapkan oleh petugas di pusat Visa untuk RRT. Saya pun harus mengurungkan niat untuk ke RRT karena saya tidak ada waktu lagi untuk mengurusnya di Jakarta karena saya sudah memiliki tiket penerbangan ke Bangkok pada hari selasa, sedangkan jika saya mengurus visa pada hari itu, saya akan mendapatkannya hari kamis.

Saya pun melihat harga tiket ke Bangkok hari kamis, terpikir oleh saya untuk merubah jadwal, tetapi harga yang ditampilkan sangatlah mahal, karena mendekati hari tahun baru Thailand atau biasa dikenal Songkran. Saya pun mengurungkan niat untuk merubah jadwal dan mencoba peruntungan pembuatan visa di Thailand.

Saya pun berniat mengurus pembuatan visa di pusat aplikasi Visa RRT di Bangkok (di beberapa negara, pembuatan visa RRT dilimpahkan ke pusat pengurusan visa, bukan ke kantor kedutaan, terutama untuk negara-negara dengan penduduk besar atau negara-negara yang maju).

Baru sadar bahwa ketika Songkran, Thailand memberlakukan hari libur selama 10 hari. Sekejap itu pula saya lemas takberdaya, dan mulai mengurungkan niat untuk berkunjung ke RRT. Saya pun mengubah rencana saya, menjadi perjalanan takterencana. Lupa sudah rencana untuk berpergian mengunjungi negeri tirai bambu.

Teman lokal saya, orang Thailand, yang sedang mulai bosan dengan kehidupan Bangkok, layaknya saya sudah jenuh dengan kehidupan di Jakarta, mengajak saya berkunjung ke daerah lain di Thailand. Saya pun mengiyakan, dan munculah ide untuk berkeliling di Thailand Selatan. Setelah sekitar dua minggu berkelana, saya kembali ke Bangkok. Karena saya belum ingin pulang ke Indonesia, saya pun memutuskan untuk ke Khon Kean, salah satu kota di timur laut Thailand karena saya sempat mengunjungi kota ini pada tahun 2012 lalu, dan memiliki kenangan tersendiri dengan kota ini.

Ketika saya sampai di Khon Kaen, saya disambut oleh udara panas khas daratan Thailand. Belum selesai saya menggerutu mengenai cuaca panas, tetiba malam harinya Khon Kaen dilanda hujan deras. Saya pun bergegas melihat ramalan cuaca, dan benar saja apa yang saya khawatirkan, sampai dua minggu ke depan kawasan timur laut akan dilanda hujan seharian. Saya pun resah mengenai rencana perjalanan ini yang semakin amburadul. Saya memutuskan untuk tinggal sampai beberapa hari kedepan di Khon Kaen sembari menunggu keputusan melanjutkan perjalanan.

Di malam yang dingin ditemani rintik-rintik gerimis, saya akhirnya memutuskan untuk ke Vientiane, Laos dan keinginan untuk berkunjung ke RRT muncul kembali. Perjalanan melintasi batas negara ini hanya ditempuh selama tiga jam saja menggunakan bus yang memang dikhususkan untuk rute ini. Sempat gerimis setelah meninggalkan terminal, cuaca menjadi lebih bersahabat searah saya meninggalkan negeri Gajah Putih ini.

Sesuai yang dijadwalkan, bus sampai di terminal kota Vientiane tepat waktu. Sedikit terkejut karena cuaca yang teramat panas, tidak sesuai dengan ramalan cuaca di komp jaringan yang mengatakan bahwa kota ini akan terguyur hujan. Sedikit menggerutu sembari berjalan menyusuri jalanan kota Vientiane yang masih relatif sepi dan di bawah sinaran matahari, saya menuju ke tempat tinggal saya di kawasan padat para pelancong berbajet rendah atau backpacker. Saya sengaja mengunjungi kota Vietiane di akhir pekan karena memiliki niat untuk menikmati kota dan hari seninnya ke kedutaan RRT untuk melamar visa.

Pada minggu malam, saya berhasil mendapatkan beberapa dokumen yang harus saya lengkapi sesuai dengan informasi-informasi yang saya peroleh dari berselancar di dunia maya melalui pengalaman-pengalaman bloggerlainnya yang pernah mendapatkan visa ini. Beragam pengalaman, mulai dari yang sangat mudah hinga dipersulit pun saya temui, tetapi tidak meragukan saya untuk melamar visa ini.

Berikut syarat-syarat yang harus saya sertakan di lamaran visa saya hasil dari berselancar didunia maya:
1. Foto 4X6 Berwarna (terbaru)
2. Tiket keberangkatan menuju Tiongkok (dari informasi masih simpang siur, apakah hanya satu arah apa pergi-pulang)
3. Bukti pemesanan penginapan di Tiongkok

Terlihat sangat mudah sekali, tidak serumit apa yang saya lakukan di Jakarta. Tetapi, saya mulai kebingungan ketika harus mendapatkan tiket penerbangan karena memang saya berencana masuk ke RRT melalui jalur darat dan sangat tidak memungkinkan untuk saya menggunakan tiket bus. Namun, dari berbagai informasi yang saya dapat, ada beberapa yang berhasil mendapatkan visa ini dengan bukti pemesanan tiket bus yang bisa diperoleh di berbagai agen perjalanan di kota Vientiane. karena saya tidak mau ambil risiko, saya pun berusaha mendapatkan tiket pesawat saya menggunakan dummy ticket atau tiket yang telah diterbitkan oleh maskapai tetapi statusnya masih pemesanan (sudah mendapatkan kode pemesanan dari maskapai) karena belum melakukan pembayaran. Syarat ini cukup mudah diperoleh karena kita tinggal menuju ke agen-agen perjalanan dimana saja, kemungkinan besar mereka bisa membuat dummy ticket ini.

Contoh membuat Dummy Ticket

Karena sudah terlalu larut dan tidak memungkinkan mengunjungi agen perjalanan, saya mulai panik untuk mendapatkan syarat ini. Ketika di Jakarta, saya menggunakan dummy ticket yang diperoleh dari maskapai Thai Airways yang sangat mudah karena ada pilihan melakukan pembayaran di kantor sehingga tiket akan dikirimkan melalui surel dan kita telah memiliki kode pemesanan. Namun, pilihan ini ternyata tidak bisa dinikmati jika penerbangan dimulai dari Laos karena pilihannya hanya melakukan pembayaran dengan kartu kredit/debit. Kepanikan mulai naik dan hal ini pula yang membuat saya kembali menajdi lebih nekad dengan membeli tiket pesawat bukan dari Vientiane, tetapi dari Bangkok (dengan pilihan yang sama, membayar di kantor).

Akhirnya semua persyaratan terpenuhi. Hari ini hari Senin, tanggal 31 April 2018 dan besoknya adalah hari buruh internasional (1 Mei). Hari buruh adalah hari libur nasional di Laos dan juga RRT sehingga kemungkinan saya akan mendapatkan visa di hari berikutnya, hari Rabu. Hari senin di Vientiane cukuplah ramai dan sibuk, pegawai-pegawai dan kegiatan ekonomi sudah dimulai. Saya pun mencatak semua persyaratan di hostel tempat saya menginap (karena baik hati, mereka memberikan jasa pencetakan beberapa lembar kertas tanpa biaya sepeserpun). Saya pun bergegas menuju Kedutaan menggunakan bus umum. Cuaca saat itu sangat terik dan panas. Saya harus jalan kaki sekitar 500m dari pemberhentian bus. Saya sedikit tergesa-gesa karena jam sudah menunjukkan pukul 11 siang dan kedutaan tutup pada pukul 12 siang.

Saya akhirnya sampai di Kantor kedutaan 10 menit berselang dan saya terkejut karena kedutaan tutup pada hari itu. Usut punya usut, ternyata di RRT, tanggal 31 april merupakan hari libur juga. Saya pun lemas tak berdaya di depan kantor karena saya harus tinggal lebih lama lagi di Vientiane. untungnya (dan anehnya) kantor pengurusan visa akan buka pada tanggal 1 mei. Saya pun mempersiapkan untuk hari esok. Sebagai informasi, jika kita melamar visa ke RRT pagi hari, kita bisa mendapatkan visa kita di sore harinya dengan biaya 50 USD.

Saya pun kembali lagi ke kantor kedutaan, kali ini dengan jalan kaki dari pusat kota Vientiane (untuk menghemat biaya). Perjalanan 4km ini saya tempuh dengan waktu satu jam saja. Dan kantor kedutaan sudah buka dan lumayan banyak pelancong dari Laos dan dari negara lain yang sudah mengantri. Saya pun meminta borang untuk lamaran visa dari loket. Ada dua loket, 1 loket untuk pengurusan visa (meminta borang dan memberikan semua dokumen) dan satu lagi mengurus masalah warga negara RRT yang tinggal di Laos.

Saya pun mengisi semua detail sesuai pertanyaaan dan segera menyerakhkan ke loket. Sangat mudah sekali, tidak dipertanyakan keabsahan dokumen-dokumen saya. Petugas memeriksa bukti penerbangan saya (saya memesan penerbangan Bangkok-Chengdu PP) dan pemesanan hotel di Chengdu pula untuk waktu tujuh hari. Sempat beliau memberi tanda warna ke jadwal dan saya diberikan kertas slip pembayaran ke Bank ICBC (yang terletak di kota). Saya pun meminta jasa ekspres, satu hari jadi. Jasa ini tersedia dengan biaya 50 USD, tetapi Bank ICBC (dan semua bank di Laos) tutup pada hari ini Karena libur sehingga saya pun harus menunggu satu hari lagi di kota Vientiane.

Esok harinya saya sudah berkemas dan sudah niat untuk menuju ke Thailand lagi setelah mendapatkan visa (jikapun ditolak, saya tetap akan ke Thailand). Saya menuju ke Thailand lagi karena sudah sedikit bosan dengan Laos dengan cuaca yang tidak menentu sehinga pada malam hari sebelumnya saya memutuskan untuk ke Yangon, Myanmar melaui Bangkok esok hari. Saya bergegas ke ICBC, dan saya pun memesan tuk-tuk, semacam bajaj, untuk mengantarkans saya ke Bank kemudian ke kedutaan dan ke terminal bus. Saya membayarnya dengan 50 ribu kip atau sekitar 80 ribu rupiah.

Saat menuju ke ICBC, Mereka menerima pembayaran dengan mata uang kip, yuan, atau dollar Amerika. Karena saya tidak memiliki uang tunai waktu itu, saya disarankan ke mesin ATM ICBC. Setelah saya coba berkali-kali, kartu saya tidak berhasil mengeluarkan uang. Saya sempat takut jika kartu saya diblokir lagi oleh Bank karena kesalahan saya seperti waktu di Korea. Sempat bingung saya pun menghampiri petugas dan mengutarakan keluhan saya. Ternyata, ATM ICBC hanya menerima kartu dengan logo UNIONPAY saja, mastercard dan visa, apalagi ATM Bersama, tidak diterima.

Akhirnya resah ini hilang dan saya dianjurkan untuk mengambil uang di ATM kantor sebelah, jalan kaki 2 menit. Akhirnya, semua proses lancar menuju ke kedutaan untuk mengambil. Ternyata kedutaan juga sudah lebih ramail dari hari kemarin. Karena cuma mengambil paspor saya saja, saya tidak perlu ikut menganti dan tinggal memberikan bukti pembayaran visa dari ICBC dan slip yang diberikan sebelumnya, saya mendapatkan visa saya ke RRT. Senang sekali hati ini mendapatkan tempelan secarik stiker di paspor yang membuat saya bisa berkunjung kr RRT. Sopir tuk-tuk sudah menunggu dan segera mengantarkan saya ke terminal bus untuk mengejar bus ke Udon Thani pada pukul 11 siang. Akhirnya sampai tepat waktu dan saya melanjutkan perjalanan saya. Visa RRT ini memang sangat menguras tenaga, pikiran, dan waktu.

Berikut syarat yang saya berikan ke kedutaan RRT untuk Laos:
1. Pas foto ukuran 4×6 dua lembar
2. Tiket pp (Bangkok-chengdu) dengan Thai Airways (dummy booking)
3. Bukti pemesanan hotel melalui booking.com (bayar di tempat)
4. Mengisi formulis yang bisa diperoleh di loket
5. Pembayarn 50 USD untuk jasa ekspres atau 25 USD untuk jasa biasa (4 hari kerja) dimana ini lebih murah dibanding jika kita mengajukan lamaran di Jakarta karena ada biaya pemrosesan yang dibebankan ke kita untuk agen visa.

Alamat:
Chinese Embassy in Vientiane, Laos. Wat Nak Road. Sisattanak.
P.O.Box 898. Vientiane. Laos.

Sangat mudah ternyata andai kita sadar oleh hari kerja kedutaan. Ingat, kedutaan akan libur pada hari libur nasional negaranya dan negara yang diwakili, sehingga pastikan untuk selalu melihat ulang sehingga kejadian seperti saya bisa terhindarkan!

–>
Terima Kasih

 

Tulisan asli ini dimuat pada Blog Traveler. 

 

Facebook Comments

About Redaksi Ruang Rakyat

RuangRakyat memberikan ruang bagi kamu yang ingin menuangkan gagasan ke seluruh rakyat Indonesia.