This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Korelasi antara Terorisme dan Para Fundamentalis Agama

Korelasi antara Terorisme dan Para Fundamentalis Agama

Rangkaian peristiwa aksi-aksi terorisme dan radikalisme yang terjadi belakangan sangat memilukan. Betapa tidak keutuhan NKRI ini harus mendapat ancaman dari kelompok-kelompok Islam radikal dalam negeri. Muncul pertanyaan sebenarnya apa yang ada dipikiran mereka, sehingga mereka melakukan aksi yang diyakininya benar?

Kelompok ini menjalankan agama secara fundamental, yaitu kesadaran mendasar dalam menjalankan ajaran agama sehari-hari. Orang-orang fundamental pada hakikatnya menjalani kehidupan beragama secara murni sesuai Al Qur’an dan hadits, tanpa bercampur dengan adat dan kebudayaan yang akan merusak ajaran atau dogma agama itu tersebut. Bahkan, mereka menolak ideologi kebangsaan yang selama ini menjadi pondasi kehidupan bernegara.  Menurut pandangan kelompok mereka, ideologi Pancasila merupakan bid’ah dan menganggap thagut kepada NKRI. Tujuan mereka adalah mendirikan negara Islam dengan sistem khilafah.

Golongan mereka ingin kembali pada kejayaan Islam di era kekhalifahan Turki Usmani yang hampir berkuasa enam abad lamanya. Ini merupakan ideologi romantisme masa lalu sebagai jawaban atas kekacauan yang terjadi sehingga timbul kepercayaan akan datangnya sang ratu adil. Syafi’i Ma’arif, dalam buku Ilusi Negara Islam, Ekspansi Gerakan Transnasional di Indonesia (2009), timbulnya radikalisme dipicu oleh kegagalan umat Islam dalam menghadapi arus modernitas sehingga mereka mencari dalil agama untuk membenarkan pemikiran mereka.

Kehidupan beragama yang tidak diiringi dengan sikap saling menghargai atau toleransi antar-umat beragama akan berdampak bagi suburnya kejahatan terorisme. Dalam Bahaya Laten intoleransi, Donny Gahral Adian menjelaskan intoleransi adalah hulu terorisme. Intoleransi adalah ideologi yang menggalang afeksi kolektif bukan kognisi. Intoleransi menggalang dan memobilisasi emosi komunal. Artinya, dia semakin kokoh saat dilukai, dicemooh, dan diremehkan. Mereka berdalih ketidakadilan dan kemurnian keyakinan dengan berupaya untuk mengambil simpati publik.

Kebijakan yang intoleran pernah dilakukan oleh Trump, yaitu menolak imigran bukan semata karena perkara ekonomi, melainkan juga politik identitas. Bukan cuma keamanan nasional, melainkan juga “kepribadian Amerika” berada dalam bahaya jika keran imigran tidak dibatasi dan diperketat. Terbukti kebijakan rasis Trump berhasil membawanya sebagai Presiden Amerika Serikat.  Perasaan tidak aman dikapitalisasi secara elektoral. Itulah kekuatan Intoleransi untuk menjaga eksklusivitas dan kemurnian keyakinan.

Memurnikan ajaran Islam sesuai syariat Al-Qur’an dan Hadits dari unsur sinkretisme menjadi bagian sejarah bangsa Indonesia, sehinga melahirkan organisasi pergerakan bangsa, seperti Sarekat Islam dan Muhammadiyah untuk kembali menegakan syariat Islam. Namun, fundamentalisme yang berlebihan akan melahirkan penyimpangan-penyimpangan terhadap ajaran Islam itu sendiri.Sehingga pada akhirnya, mereka meyakini bahwa pandangan atau ideologi merekalah yang benar dan kebenaran yang mereka yakini harus ditegakan, meskipun dengan cara kekerasan dan pertumpahan darah. Mereka percaya membunuh orang-orang Islam yang tidak se-ideologi atau se-golongan halal darahnya.

Karen Amstrong pada tahun 2014 menjelaskan fundamentalisme agama yang overdefensif juga melahirkan lutheranisme, calvinisme atas sentralisme kehidupan Katholik Roma dalam semua aspek kehidupan. Tidak hanya melahirkan paham aliran agama lain, tapi juga paham dekristenisasi radikal, yaitu munculnya berbagai tendensi anti-agama, bahkan ateisme massal, dan kristianitas pun lantas tersingkirkan.

Sikap overdefensif sebenarnya lebih menunjukan kelemahan, impotensi, dan ketidakberdayaan, bukannya kekukuhan, kesetiaan pada ajaran atau kearifan. Para penentang agama yang berhaluan sekuler mengatakan kitab suci justru membiakkan kekerasan, sektarianisme, dan intoleransi.

Facebook Comments

About Ririn Qunuri

Ketika duniamu sempit. Maka menulislah! | Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Sejarah Universitas Indonesia