This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Kunjungan Rahasia Korea Utara ke Cina

Kunjungan Rahasia Korea Utara ke Cina

Trump’s Foreign Policy Game Plan Effect: Kunjungan Tak Terduga Korea Utara ke Cina

Dunia internasional kembali dikejutkan dengan kebijakan Presiden Korea Utara, Kim Jong Un. Kali ini kejutan bukan lagi datang dari uji coba “Rudal Antar Benua” yang diklaim Korut dapat menjangkau Amerika Serikat dalam hitungan menit. Namun Kim mengejutkan publik dengan kunjungannya ke Negara Tirai Bambu untuk bertemu Presiden Xi Jinping secara rahasia dan luput dari seluruh media.

Kunjungan ini pun tidak dapat dikonfirmasi oleh Gedung Putih pada (25/4) dan kebenaran kabar tersebut baru diketahui ketika Kim telah berada di Beijing dengan menggunakan kereta hijau pada (26/4) atas laporan Pemerintah Cina ke Gedung Putih.

Kunjungan tak terduga Kim Jong Un ini menjadi kunjungan luar negeri pertama yang dilakukan sejak Kim menjadi Pemimpin Korut pada 2011. Tentu saja, kunjungan ini menjadi sebuah catatan sejarah baru bagi Korut ditengah tekanan AS atas upaya denuklirisasi di Semenanjung Korea dengan sanksi berat yang terus dijatuhkan hingga pemberian hukuman bagi perusahaan di berbagai penjuru dunia yang melakukan transaksi ilegal dengan Korut.

Pemblokiran dan Pelarangan Liputan Oleh Pemerintah Cina

Keingintahuan masyarakat tentang kunjungan Kim yang dijaga ketat dan sangat dirahasiakan di Cina tidak dapat terbayar tuntas. Pasalnya, seluruh media sosial dikontrol secara ketat oleh Pemerintah Cina selama pertemuan kedua Pemimpin berlangsung. Bahkan, Pemerintah Cina menghapus “kata kunci” Korea Utara dari mesin pencarian terbesar Cina, yaitu Weibo dalam waktu beberapa hari. Pelarangan media milik Pemerintah Cina meliput dan memberitakan pertemuan tertutup tersebut juga diterapkan.

Reaksi Gedung Putih

Pertemuan tak terduga antara Kim Jong Un dan Xi Jinping disambut positif oleh Gedung Putih. Presiden Trump menilai bahwa tindakan tersebut adalah hal yang benar bagi rakyatnya dan bagi kemanusiaan. Menurut Juru bicara Gedung Putih, Sarah Huckabee Sanders, pertemuan tak terduga tersebut menunjukkan keberhasilan dari Rencana Trump melakukan tekanan dengan berbagai sanksi oleh AS kepada Korut sehingga Korut menurunkan tensinya. AS optimis bahwa segala kebijakan Kim nantinya akan bergerak ke arah yang benar dan suasana yang baik untuk berdialog dengan AS dan sekutu dapat terwujud.

Sanders menambahkan bahwa AS menggunakan pendekatan “wait and see” sebelum melangsungkan komitmen melakukan pembicaraan resmi dengan Korut. Upaya diplomasi Kim Jong Un kali ini menunjukkan bahwa Korut siap bernegosiasi.

“ Tekanan Maksimum”  Berbuah Manis di Komunikasi Strategis

Trump’s Foreign Policy Game Plan dilakukan dengan memberikan “Tekanan Maksimum”. Tekanan maksimum AS dilakukan melalui berbagai strategi sanksi demi menurunkan arogansi Korut di Semenanjung Korea. Februari 2018 lalu, AS diketahui menjatuhkan sanksi dengan label “yang terbesar yang pernah diberikan oleh AS kepada negara manapun”, yang tidak hanya diberikan kepada Korea Utara tetapi juga Cina. Tentu saja Cina menentang dan menolak karena dianggap hanya dilakukan secara sepihak dan dapat merusak hubungan bilateral.

Namun, langkah ini tetap ditempuh Trump dengan perhitungan bahwa hasilnya adalah melunaknya Korut yang didukung Cina sebagai mitra yang terdampak. Prof. Dr. Tirta Mursitama, M.M. Ph.D selaku ketua Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) menjelaskan bahwa “…dengan rival negara terkuat aliansi lawan, baiknya sebuah negara mengikatkan diri di bidang ekonomi” yang berarti pemutusan kerjasama ekonomi setelah pengikatan yang kuat akan berakibat pada tertanggunya stabilitas negara.

Keberhasilan sanksi dalam menurunkan arogansi Korut menghasilkan komunikasi strategis KTT pertama dengan Korsel yang akan dilaksanakan pada tanggal 27 April mendatang setelah lebih dari satu dekade. Rencananya, akan diikuti dengan pertemuan tatap muka antara Kim Jong Un dan Trump.

Kunjungan tak terduga ini menandakan adanya persiapan yang dilakukan Korut sebelum pertemuan besar. Mengutip Douglas Paal, pakar Asia Timur dari Carnegie Endowment for Peace dikatakan bahwa “sebuah kewajaran ketika akan melangsungkan pertemuan besar, Anda ingin menunjukkan bahwa Anda memiliki manuver dan dukungan diplomatik di mata Korea Selatan. Cina adalah mitra aliansi Korea Utara dan sekalipun aliansi itu sedang tegang saat ini, pertemuan antara pemimpin Korea Utara dan pemimpin Cina merupakan sebuah cara untuk menunjukkan bahwa Kim Jong-un tidak sendirian menghadiri pertemuan dengan Korea Selatan.”

Dukungan politik Cina terhadap Korea Utara bukanlah sebuah rahasia. Tetapi, melakukan pertemuan rahasia tentunya membuat hubungan internasional semakin berdinamika. Cuitan Donald Trump melalui akun twitternya menandai kelanjutan dinamika tersebut, game plannya akan terus berjalan “usaha pemberian tekanan maksimum tetap akan terus berlanjut”.

 

 

Penulis: Rida F. Qinvi

Sumber: CSIS/VoA/Liputan 6

Facebook Comments

About Rida Fauzia Qinvi

Master of Defense - Defense Diplomacy at Indonesia Defense University