This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Memperingati 51 Tahun Deklarasi ASEAN, Harapan dan Tantangan

Memperingati 51 Tahun Deklarasi ASEAN, Harapan dan Tantangan

ASEAN didirikan pada 8 Agustus 1967 oleh lima negara pendiri: Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Association of South East Asian Nations (ASEAN) adalah organisasi kerjasama politik dan ekonomi antarnegara-negara yang berada di kawasan Asia Tenggara.

Seperti yang tercantum dalam Deklarasi Bangkok, pembentukan ASEAN sangat didasari atas keinginan kerjasama, terutama dalam bidang ekonomi. Pada perkembangannya, satu per satu negara Asia Tenggara lainnya ikut bergabung dan fungsi ASEAN semakin meluas.

Pada tahun 2015 ASEAN meemasuki suatu ikatan baru yakni Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Sebuah komunitas perdagangan bebas antaranggotanya. MEA adalah perwujudan salah satu dari tiga pilar komunitas ASEAN, yang terdiri dari integrasi keamanan, integrasi sosio kultural, dan integrasi ekonomi.

Disisi lain pakta mengenai keamanan dan pertahanan tidak pernah benar-benar menjadi perhatian dalam komunitas ini. Muncul beberapa tantangan ASEAN ke depan seiring dengan berubahnya geostrategis kawasan. 2017 lalu Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi menjabarkan empat tantangan yang akan dihadapi. yaitu;

Pertama adalah bagaimana ASEAN dapat mengatasi lawan geopolitik di kawasan. Kedua, bagaimana perhimpunan negara-negara Asia Tenggara itu dapat mengatasi masalah transnational organized crime atau kejahatan transnational terorganisasi, di mana di dalamnya terdapat isu terkait narkoba dan counterrorism.

Ketiga, bagaimana ASEAN dapat menjamin kesejahteraan seluruh rakyat. Keempat adalah isu soal persatuan dan kesatuan ASEAN.

Untuk tantangan soal jaminan kesejahteraan, para menteri luar negeri menggarisbawahi tentang kesenjangan pembangunan atau development gap. Menurut Retno, mempersempit kesenjangan di dalam negara maupun antar negara anggota pun menjadi pekerjaan rumah penting bagi ASEAN.

Bagaimana Indonesia menghadapinya ?

Berbicara mengenai MEA maka Indonesia harus dapat melihat peluang yang sangat besar terhadap aturan main ini yang memudahkan perdagangan. Terlebih dengan adanya tambahan pasar sebesar 340 juta juga merupakan peluang yang sangat besar bagi UMKM untuk memasarkan produknya ke ASEAN.

Saat ini liberalisasi tarif ASEAN telah mencapai 96,07% pos tarif, yang berarti bahwa pengusaha Indonesia menikmati bea masuk 0% untuk hampir seluruh produk.

“Terlebih dengan adanya tambahan pasar sebesar 340 juta juga merupakan peluang yang sangat besar bagi UMKM untuk memasarkan produknya ke ASEAN. Untuk itu pemerintah perlu mendorong agar lebih memanfaatkan skema tarif yang sudah ada tersebut, dan juga untuk meningkatkan pasar produk UMKM.

Kunci kekuatan Indonesia ada pada ekonomi kerakyatan yang harus mendapatkan dukungan secara luas. Dengan pembangunan sarana dan prasarana yang baik serta iklim investasi yang bagus memungkinkan Indonesia mengejar ketertinggalan sektor ekonomi yang berlarut dari negara-negara ASEAN lainnya. Pembangunan kapasitas manusia yang mumpuni dapat menjadi nilai tawar dan daya saing yang kuat di kawasan. Sehingga selanjutnya kita bisa terus fokus mengembangkan potensi kekuatan pertahanan dan keamanan.

Tantangan ke depan yang sedikit luput dari perhatian negara-negara ASEAN adalah bagaimana mengembangkan suatu kerjasama dan kode etik dalam dunia siber. Saat ini kerjasama dalam membangun pemahaman yang sama mengenai ancaman siber sama pentingnya dengan ancaman transnasional terrorisme.

#RuangRakyat

Facebook Comments

About Redaksi Ruang Rakyat

RuangRakyat memberikan ruang bagi kamu yang ingin menuangkan gagasan ke seluruh rakyat Indonesia.