This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Menapaki Ketinggian Lawu

Menapaki Ketinggian Lawu

 

Jumat, 20 Juli 2018 – 00:26 WIB – Di kamar

Tas carrier sudah penuh berisikan keperluanku selama perjalanan nanti. Tas pinggang sudah siap dengan segala kebutuhan instanku. Baterai kamera sudah penuh diisi untuk mengabadikan setiap langkahku nanti. Ya… aku akan menapaki sebuah gunung yang ada di Jawa Tengah.

Gunung Lawu. Gunung yang terkenal dengan kisah mistisnya. Ah, tapi aku tidak terlalu memikirikannya. Niatku baik. Aku tidak ingin mengusik ‘mereka’. Aku hanya ingin menikmati setiap jengkal pemandangan di atas sana. Karena Lawu katanya memiliki pemandangan yang menakjubkan.

Sekarang waktunya aku beristirahat setelah mengemas keperluan selama berjam-jam tadi.

Selamat malam.

 

***

 

May 2015 – Di atas Gunung Papandayan

Aku ingin mendaki lima gunung sebelum aku menikah.

Entah apa yang sedang aku pikirkan. Aku mengucap keinginan ini yang aku anggap sebagai nazar. Lima bukan sesuatu yang banyak. Aku bisa memenuhi janji ini dalam waktu setidaknya dua tahun. Kita lihat saja…

ARU.jpg

 

***

 

Jumat, 20 Juli 2018 – 10.15 WIB – Di Stasiun Senen

Aku sampai di dalam kereta dengan selamat setelah sebelumnya was-was terlambat. Setelah sebelumnya memakan waktu tiga jam untuk sampai stasiun dari rumahku yang berada di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Setelah sebelumnya banyak mengumpat karena menyetir di jalan yang sangat macet. Setelah sebelumnya ngebut di jalanan ibukota yang keadaannya kacau dengan banyaknya pembangunan yang tidak kunjung selesai. Sampai kapan kotaku akan seperti itu? Ah, sudahlah… Yang penting aku tidak terlambat naik kereta.

Di sebelahku kosong. Salah satu temanku tidak jadi ikut. Aku kasihan padanya, tapi aku juga bersyukur karena bisa memanfaatkan bangkunya untuk menyelonjorkan kakiku. Di depanku duduk seorang perempuan dan seorang laki-laki. Mereka tidak mengenal satu sama lain. Laki-laki ini bersikap biasa. Perempuannya yang tidak biasa. Aku ingin tertawa melihat tingkah lakunya. Panggil saja dia Embak-embak. Dari tadi aku perhatikan, dia sibuk  bedakan dan selfie yang tidak kunjung selesai. Gaya-gayanya sungguh centil. Dengan senyum dikulum, wajah dikesampingkan, mata di bulatkan. Begitu terus selama hampir satu jam! Mungkin dia belum mendapatkan foto yang bagus. Ya namanya juga wanita. Foto seribu kali, yang bagus hanya satu. Anyway, aku juga wanita. Ya, begitulah…

Aku sempat tertidur beberapa menit dengan posisi kaki ke depan. Bangku di sebelahku pun kosong. Tiba-tiba saat aku bangun, ada seorang embak-embak kedua yang duduk tanpa permisi.

“Maaf, embak emang duduk disini?” Tanyaku pura-pura sopan.

“Enggak. Di belakang.” Jawabnya singkat sambil menunjuk ke belakang. Oke, dia sebenarnya duduk di belakang. Lantas, kenapa pindah kesini?

“Aku sebenarnya beli dua bangku untuk aku sendiri sih, Mbak.”

Embak itu menatapku dan berkutat kembali dengan telepon genggamnya. Aku pun diam. Antara kesal dan ingin mengumpat. Tapi beberapa detik kemudian dia beranjak pergi tanpa bicara apa pun. Aku kesal! Apa susahnya bilang permisi? Jika dia bilang permisi dan bersikap sopan sedikit, aku tidak akan mengusir-nya. Ya sudahlah, yang penting dia sudah pergi. Aku tersenyum puas.

***

May 2016 – Di Kandang Badak Gunung Gede

Benar-benar setahun aku bisa kembali mendaki gunung. Kemana saja aku selama ini? Beginilah nasib seorang karyawan. Tidak bisa seenaknya mengambil cuti. Sebenarnya aku sudah ingin mencoba mendaki gunung sejak mulai kuliah. Tapi apa daya, dulu aku tidak punya uang. Sekarang saat punya uang, justru waktunya yang tidak ada. Realita yang sulit diterima…

Omong-omong, sekarang hujan disini. Untung rombonganku yang hanya empat orang ini sudah sampai di wilayah camp. Tepat hampir maghrib. Tapi karena hujan ini pula, suasana di dalam tenda menjadi sangat hangat. Aku bisa katakan, tidurku disini adalah tidur ternyenyak yang pernah aku rasakan di atas gunung.

IMG_3720.JPG

***

 

Jumat, 20 Juli 2018 – 19.14 WIB – Di Stasiun Lempuyangan

Akhirnya kereta berhenti setelah 9 jam melaju di atas rel. Aku, Agness, Arif, Abi, Dika, melangkah turun dari kereta Gaya Baru Malam Selatan. Sebenarnya stasiun paling dekat menuju Lawu adalah stasiun Purwosari, Solo. Tapi karena kami kehabisan tiket, akhirnya terpaksa kami berhenti di Jogja dulu. Di Lempuyangan ini kami nyambung naik kereta Prameks alias Prambanan Ekspres. Hanya butuh waktu satu jam untuk sampai di stasiun Purwosari.

***

 

Jumat, 20 Juli 2018 – 21.00 WIB – Di Stasiun Purwosari

Setelah menikmati nasi kucing di angkringan, kami berlima memesan taksi online menuju ke rumah teman Arif bernama Banyu. Jaraknya tidak begitu jauh. Hanya sekitar 30 menit dari stasiun.

 

***

 

Jumat, 20 Juli 2018 – 23.00 WIB – Di Rumah Banyu

Di rumah Banyu, ada beberapa anak muda. Anak muda? Aku merasa aku paling tua. Sedangkan yang lain masih duduk di bangku SMA. Ah, tapi lebih tua Arif ternyata.

Aku tidak menghitung ada berapa laki-laki. Saat ini udah malam dan aku merasa tidak enak karena baru kenal. Mereka sedang siap-siap mengemas barangnya ke dalam carrier maupun daypack.

Setelah semua siap, kami pergi dengan sepeda motor ke basecamp pendakian Lawu di Cemoro Sewu. Jaraknya sekitar satu jam. Bersama, kami membelah jalan sepi yang menanjak dan meliuk-liuk, dengan udara sedingin batu es. Belum lagi kaki yang pegal karena harus menahan beban carrier di pundak.

***

 

Sabtu, 21 Juli 2018 – 03.30 WIB – Di Basecamp Cemoro Sewu

Akhirnya sampaaaai!!!

Inilah yang aku ucapkan saat pertama kali sampai di basecamp. Bagaimana tidak. Aku harus menahan carrier yang tidak ringan itu selama lebih dari satu jam. Selangkangan ini rasanya sudah mati rasa.

Rencana kami benar-benar meleset dari awal. Saat ini sudah pagi. Sedangkan kami harus mulai trekking sekitar jam tujuh. Aku rasa aku tidak akan kuat. Saat ini aku sangat lelah, mengantuk, dan lapar. Aku yakin yang lain juga merasakan hal yang sama. Tapi apa daya, basecamp sudah penuh dengan pendaki lain yang sedang tidur. Tidak ada ruang yang tersisa untuk rombonganku. Akhirnya, kami hanya bisa meringkuk, melipat badan agar tidak kedinginan di depan basecamp.

Cuaca dingin seperti ini membuat aku sering ingin pipis. Ketika sedang berjalan dengan Agness dari toilet umum, aku melihat dua orang ibu-ibu datang membawa pikulan. Mereka pasti akan berjualan disini. Langsung saja aku memanggil salah satunya.

“Itu apa, Bu?”

“Gorengan anget. Ada nasi juga. Ada air jahe, nduk.” Jawab Ibu itu dengan logat jawa yang khas.

“Kesana yuk, Bu. Ada temen-temenku. Mereka pasti mau juga.” Tanpa menunggu jawaban, aku membawakan salah satu keranjang si Ibu dan berjalan ke depan basecamp. Benar saja, gorengan hangat itu sangat laku. Berkali-kali kami mengambilnya dari keranjang Ibu penjual. Ah, sungguh nikmatnya memakan bakwan hangat ditemani udara yang dingin ini.

DSC07521.JPG

***

 

Sabtu, 21 Juli 2018 – 08.00 WIB – Mulai mendaki Lawu

Kami memulai pendakian dengan berdoa. Setelah sebelumnya membayar simaksi seharga lima belas ribu rupiah. Biaya mendaki gunung di Jawa Tengah selalu lebih murah dibanding dengan gunung di Jawa Barat. Kenapa? Berdasarkan hasil pengamatan dan bertanya sekitar, gunung yang simaksinya murah itu dikelola oleh pemerintah. Sedangkan yang mahal, dikelola swasta. Menurutku sangat manusiawi menarik bayaran dari para pendaki. Biayanya bisa digunakan untuk menjaga kebersihan maupun kelestarian gunung itu sendiri. Asal benar-benar digunakan. Jika sampai dimakan oleh tangan-tangan tidak bertanggung jawab, itu lain ceritanya.

Omong-omong, awal pendakian kami sudah disambut dengan tanjakan terjal yang tidak berkesudahan. Beruntung sekitar jam empat pagi tadi, aku, Agness, dan Abi mendapat kesempatan tidur di dalam basecamp. Tidak terlepas dari usaha kami untuk menyempil di antara pendaki lain. Walaupun kami hanya bisa tidur selama satu jam, tapi cukup untuk mengisi tenaga. Sedangkan Arif dan Dika? Entahlah mereka sudah tidur atau belum.

Aku bersyukur napasku tidak engap sekarang. Biasanya, saat memulai pendakian, napas sulit diatur. Karena harus beradaptasi. Tapi kali ini, napasku stabil. Mungkin olahragaku sebelum kesini berguna. Beberapa hari sebelumnya, aku memang berolahraga agar otot-ototku tidak terkejut ketika mendaki nanti.

Jalur cemoro sewu ini sudah berbentuk tangga bebatuan. Jadi tidak terlalu sulit untuk melangkah. Tapi terjalnya cukup membuat kaki mati rasa. Bisa dibilang, saat mendaki, lutut bertemu dengan mulut. Benar-benar butuh usaha.

Di rombongan kami hanya ada dua orang perempuan. Hanya aku dan Agness. Saat kami sampai di pos bayangan satu, Angga, salah satu temannya Arif, menawarkan untuk membawakan carrier­-ku. Tapi aku masih kuat. Aku pun menolaknya dengan gelengan disertai senyum.

IMG_9492.JPG

***

 

Agustus 2016 – Di hadapan Danau Ranukumbolo

Aku menggenggam tangannya. Berdua, kami menatap indahnya Danau Ranukumbolo. Di belakang, salah satu teman kami sibuk menekan tombol capture di telepon genggam. Momen terbaik, harus selalu diabadikan.

Setelah merencanakan sejak hampir satu tahun lalu, akhirnya kami menapaki tanah Gunung Semeru. Gunung yang selalu didambakan setiap pendaki. Gunung yang memiliki pemandangan menakjubkan. Ya, Semeru memang sungguh indah.

13767460_1216974264999916_1347460425_n.jpg

***

 

Sabtu, 21 Juli 2018 – Pukul ? – Posisi ?

Saat mendaki, aku tidak terlalu mempedulikan waktu dan juga posisi. Banyak pendaki yang hapal dan harus tahu nama setiap pos. Aku? Aku lebih sibuk memperhatikan pemandangan di sekeliling. Sibuk mengabadikan setiap momen. Tapi aku akan mencoba mengingat.

  • Dari basecamp Cemoro Sewu ke pos 1 Wes-Wesan, sekitar satu sampai satu setengah jam.
  • Dari pos 1 ke pos 2 Watu Gedeg, sekitar satu setengah hingga dua jam.
  • Dari pos 2 ke pos 3 Watu Gede, sekitar dua jam. Mulai dari sini, pendakian menjadi semakin berat. Jalan terjal kami hadapi dengan tangga bebatuan yang semakin menanjak. Tidak terlepas dari jurang di samping kiri maupun kanan yang memberikan pemandangan luar biasa.
  • Dari pos 3 ke pos 4 Watu Kapur, jaraknya sekitar satu setengah hingga dua jam. Dari pos 3 ini, napasku sudah mulai engap. Oksigen yang aku bawa pun berkali-kali aku hirup. Aku memang selalu membutuhkan oksigen untuk menemani pendakian. Beruntung, sangat beruntung, Banyu menawarkan diri untuk membawakan carrier-ku. Setelah sempat menolak berkali-kali dari mulai pos 1, akhirnya aku pun menyerahkan carrier-ku kepada Banyu. Disinilah aku bersyukur menjadi wanita – selalu dimanja, selalu diistimewakan. Dengan trekking pole di tangan, aku pun melanjutkan perjalanan tanpa carrier di punggung. Ah, memang selalu lebih mudah mendaki tanpa ada beban. Begitu pula dengan hidup. Jika dijalani tanpa beban, pasti akan terasa lebih mudah.
  • Dari pos 4 ke pos 5 Jolotundo, membutuhkan waktu tiga puluh menit hingga satu jam. Walaupun sebentar, tapi trek-nya tidak bisa diremehkan. Tidak membawa carrier saja aku sudah ngos-ngosan. Apalagi bawa carrier. Aku berkali-kali bertanya ke Banyu apakah dia baik-baik saja. Banyu dengan cengiran khasnya menjawab, “Santai aja, Mbak.” Aku pun melanjutkan perjalanan.
  • Dari pos 5 ke Sendang Drajat hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit. Ini adalah jalur yang paling aku suka. Karena sudah hampir berada di puncak gunung, pemandangan yang disuguhkan benar-benar luar biasa. Di kiri dan kanan terdapat jurang yang di bawahnya adalah sabana luas dan lautan awan. Sungguh menakjubkan. Aku benar-benar bersyukur bisa menapaki ketinggian ini. Sungguh aku ingin mengabadikan pemandangan ini dengan lensa kamera. Sayang, lensa kameraku adalah lensa fix. Percuma saja jika ingin mengambil landscape. Jadi aku hanya bisa berharap temanku, Arif, memotret banyak momen di kameranya.

Dari pos 5 ini, rombongan kami sudah mulai terpisah. Aku, Arif, Angga, berjalan duluan. Sedangkan Agness, Abi, Dika, dan Banyu, berhenti sejenak untuk mengisi perut. Agness memiliki tifus. Jadi akan sangat bahaya jika dia menahan lapar.

Saat sampai di Sendang Drajat, kami bertemu dengan beberapa warung. Betapa senangnya aku. Artinya, kami sudah benar-benar hampir sampai. Disini ada sumber mata air Sendang Drajat. Tapi kami kurang beruntung karena mata airnya sedang kering. Pupuslah sudah harapan kami untuk bisa mengisi botol-botol kosong.

Sebenarnya di Sendang Drajat ini kami sudah bisa bermalam. Tapi Angga mengajak kami untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan kami adalah warung Mbok Yem yang sangat fenomenal itu.

  • Dari Sendang Drajat ke Puncak Hargo Dalem alias kawasan warung Mbok Yem, memakan waktu sekitar setengah jam. Angga sudah jalan lebih dulu, meninggalkan aku dan Arif di belakang. Sebenarnya tenda warung Mbok Yem sudah bisa kami lihat dari sini. Tapi setelah perjalanan belasan jam. Membuat kami, terutama Arif hampir menyerah.

“Aduh masih jauh banget lagi. Gue udah ga kuat nih. Keril gue berat banget.” Ucap Arif ketika berhenti, berusaha membetulkan carrier-nya. Aku iba melihatnya.

Dengan sok pahlawan, aku pun berkata, “Sini gue bawain.”

“Beneran? Berat loh. Masih jauh lagi.”

“Gapapa. Udah sini.” Setengah memaksa, aku pun membantu Arif melepas carrier dan mencoba memikulnya di pundakku.

“Ah gila. Ini mah berat banget. Isinya apa aja, cuy?” Ucapku.

“Kan berat… Itu logistik, flysheet gitu-gitu. Bisa nggak? Udah ngggak usah deh…” Tanpa memedulikan Arif yang menatapku kasihan, aku berjalan dengan carrier super berat ini. Salut aku dibuatnya. Arif membawa beban seberat ini dari awal hingga kesini. Bukan main!

Benar saja, baru beberapa kali melangkah, kakiku sudah tidak sanggup menahan beratnya beban di pundak dan punggung. Dengan cengiran, aku pun kembali melepas carrier dan menyerahkan ke pemiliknya.

“Salut gue sama lo. Berat banget carrier-nya. Kenapa isinya ga dibagi-bagi sama Abi dan Dika?” Tanyaku penasaran. Rombonganku dari ibukota ini berjumlah lima orang. Dua perempuan, tiga laki-laki. Aku ingat-ingat, carrier Abi dan Dika tidak terlalu besar. Berarti tidak terlalu berat. Seharusnya mereka bisa berbagi beban.

“Gue mau bagi tapi pasti si Abi udah ngurusin Agness. Pasti dia bawain barangnya Agness. Kalo carrier-nya berat, kasian dia.” Sungguh terenyuh aku dengan jawaban Arif. Mungkin ini yang dinamakan perjuangan seorang kakak. Abi adalah adik Arif. Sedangkan Agness adalah pacar Abi. Benar-benar drama persaudaraan yang mengharukan!

DSC07609.JPG

***

 

Agustus 2016 – Di batas vegetasi menuju puncak Mahameru

“Kamu masih kuat?” Tanya Aldi, pacarku. Sedikit tidak yakin, aku mengangguk. Kami pun berusaha melanjutkan perjalanan ke atas. Menuju puncak terindah di Jawa Timur. Kenapa jalur menuju summit ini begitu sulit? Napasku berburu dengan langkahku yang semakin berat. Tanganku melipat di depan dada, berusaha mengusir dinginnya dini hari. Kapan aku akan sampai? Aku memandang ke atas, kelap kelip lampu headlamp masih menjalar panjang. Perjalanan ini masih jauh. Sepertinya aku tidak akan sampai disana. Tidak ada bayangan aku menapaki dataran di puncak sana.

Kakiku mungkin masih kuat. Tapi napasku benar-benar tidak toleran. Oksigen yang seharusnya menjadi barang penting, tidak aku bawa. Bahkan aku tidak tahu jika itu penting. Geiter yang seharusnya bisa menahan pasir yang nakal masuk ke dalam sepatu pun tidak aku bawa. Aku bahkan tidak tahu geiter itu apa. Sarung tangan yang aku kenakan sekarang pun hanya sarung tangan yang biasa aku kenakan ketika naik motor. Aku pikir sarung tangan ini cukup hangat. Ternyata aku salah besar. Bahkan trekking pole yang bisa membantu menahan beban pun tidak aku bawa. Aku tidak punya trekking pole.

Setelah beberapa langkah memaksa kaki dan napasku, aku pun berhenti. Walaupun tidak ada ruang untuk duduk, aku tidak peduli, aku tetap duduk di atas pasir berbatu ini.

“Jangan duduk disitu. Nanti ada batu dari atas.” Ucap Aldi memperingatkanku. Dia pun meraih tanganku dan membawaku ke arah bebatuan. Kami pun duduk diantara batu, menyembunyikan diri dari ganasnya angin ketinggian. Tubuhku mulai menggigil. Aldi yang merasakannya, dengan sigap memelukku dari belakang. Disinilah aku tahu bahwa dia adalah lelaki yang bisa aku andalkan seumur hidupku.

Saat ini, entah mengapa aku sangat mengantuk. Aldi membiarkanku memejamkan mata sebentar. Setelah beberapa menit, Aldi berkata.

“Kamu masih kuat?” Aku menggeleng lemah. “Ya udah kita turun aja ya?”

Aku menggeleng lagi. “Kamu masih kuat?” Aku balas bertanya.

“Kalo aku masih kuat.”

“Terus kalo kita turun, kamu gimana? Sayang-sayang udah sampe sini.” Ucapku.

“Aku nggak mungkin ngebiarin kamu turun sendirilah. Kita naik sama-sama, turun juga harus sama-sama. Yuk, turun aja. Jangan dipaksain.”

Aku pun mengangguk. Akhirnya kami beranjak turun kembali. Turun lebih mudah dibanding naik. Saat naik, tiga kali langkah hanya terhitung satu langkah karena pasir akan menarik turunnya dengan paksa. Tapi ketika turun, kaki bisa bebas memasrahkannya dengan pasir.

Dengan hati berat, aku pun meninggalkan batas vegetasi. Diam-diam, aku bertekad bahwa aku harus mencoba lagi suatu hari. Sampai berjumpa lagi, Mahameru.

20635429_2007823389451806_4978596948446543872_n.jpg

***

 

Sabtu, 21 Juli 2018 – 17.30 – Warung Mbok Yem

Oh, ini toh warung Mbok Yem.

Itulah yang aku pikirkan saat pertama kali mendudukan diriku di atas karpet di dalam warung Mbok Yem. Aku tidak melihat wanita yang bernama Mbok Yem. Aku tidak kepikiran mencari tahu karena sudah benar-benar lelah dan kedinginan.

Warung Mbok Yem cukup besar berbentuk persegi panjang. Luasnya mungkin sekitar lima kali dua puluh meter. Ada dua petak ruangan. Satu petak paling besar disediakan untuk para pendaki yang tidak membawa tenda. Sedangkan satu petak lagi khusus untuk lapak warungnya.

Ada belasan pendaki yang sedang beristirahat disini. Mereka asyik bercengkrama, menyantap makanan, bahkan sembahyang. Aku tersenyum melihatnya. Disini, semua orang sama derajatnya. Tidak ada yang sok keren, tidak ada yang sok kaya, tidak ada yang sok ekslusif. Kami semua sama – sama-sama suka ketinggian.

Tapi, senyumku seketika hilang saat merasakan hawa dingin yang semakin menusuk.

“Keril gue belom sampe ya?” Tanyaku kepada Arif.

“Belom kayanya. Tadi Banyu yang bawa keril lo kan bareng Agness dkk, makan dulu di pos 5.”

“Oh iya. Kita bertiga sama Angga yang duluan sampe sini ya. Angga bawa daypack-nya Agness. Duh mana dingin banget.” Ucapku sambil memeluk kakiku. Aku hanya mengenakan kaos converse tipis, kemeja flannel tipis, dan celana yang aku beli dengan harga lima puluh ribu di Blok M. Celananya sebenarnya cukup tebal. Tapi namanya celana murah, ya bayangkan saja.

“Nih pake rompi sama sarung gue dulu. Mau kupluk sekalian?” Tawar Arif. Tanpa basa basi, aku mengangguk. Beginilah nikmatnya mendaki gunung. Aku akan tahu siapa teman yang benar-benar baik. “Mau makan nggak? Mie rebus enak kali nih.” Tanya Arif setelah menyerahkan rompi, sarung, dan kupluknya.

“Mau banget! Laper gue.”

“Yaudah gue pesenin.” Arif pun menghilang di balik rak warung Mbok Yem. Namun beberapa menit kemudian dia muncul lagi dan berkata. “Mie nya lagi nggak bisa. Gue pesenin pecel jadinya.”

Aku mengangguk. Dalam keadaan lelah dan kedinginan, makan apa saja tidak masalah. Namun butuh waktu hampir setengah jam nasi pecel pesanan kami bisa disantap, dan hanya butuh waktu lima menit untuk menghabiskannya. Nasi pecel Mbok Yem ini cukup terkenal enak. Enak? Ya, tentu saja sangat enak dan nikmat karena dinikmati dalam keadaan lapar, lelah, dan kedinginan. Jika tidak? Hmmm….

Tepat pukul setengah delapan malam, Agness, Abi, Dika, dan (carrier-ku) Banyu sampai di warung Mbok Yem. Wajah mereka penuh raut kelelahan.

“Kita tidur disini aja kali ya? Enak, anget…” Tanyaku ke Arif yang sedang sibuk membereskan barangnya.

“Kita udah nyewa tenda. Lagian, Angga lagi masangin tenda sama yang lain.”

“Dipasangin? Buseh, baik amat.”

“Iya, gue juga heran kenapa pada baik banget. Jadi nggak enak gue.”

Begitulah. Di gunung, aku selalu bisa menemukan orang-orang berhati malaikat. Aku terkadang heran kenapa mereka bisa sebaik itu. Rela membawakan carrier yang berat, rela memasang tenda dalam keadaan dingin seperti ini. Tapi terkadang kita tidak butuh penjelasan atas kebaikan seseorang.

Setelah menunggu beberapa saat, rombonganku pun pindah ke dalam tenda yang hangat.

 

***

 

Agustus 2017 – Di puncak Mahameru

Air mataku menitik ketika langkah kakiku berhenti di puncak Mahameru. Lututku lemas tak kuasa menopang bobot tubuhku. Aku hampir terjatuh seandainya tidak ada trekking pole yang menahan. Oh Tuhan, akhirnya aku sampai. Sampai dimana mimpiku berlabuh satu tahun lalu. Sampai di batas tersulit pendakian. Sampai di titik terpuas dalam hidupku. Akhirnya Engkau mengijinkan aku untuk melihat betapa indahnya puncak Mahameru.

Aldi tersenyum di depanku. Mengajakku beranjak maju, menghampiri teman-teman yang lain. Arif, Faisal, Tito sudah menunggu dengan senyum lebar di wajah.

“Selamat datang di Mahameru!” Ucap Tito yang sudah belasan kali kesini. Aku pun menyamut tangannya – melakukan tos.

“Akhirnya sampe juga lo.” Ucap Arif meraih tanganku – tos kedua. Aku menghampiri Faisal untuk melakukan tos ketiga.

Ya, akhirnya, kami sampai disini. Menjadi kebanggaan tersendiri bisa sampai Mahameru. Setelah sempat tereliminasi di batas vegetasi satu tahun lalu, akhirnya aku bisa membuktikan bahwa saat bermimpi, partikel di alam semesta yang ada di sekeliling kita pun ikut berdoa, ikut membuat mimpi itu menjadi nyata. Butuh perjuangan yang sangat besar. Berminggu-minggu sebelum aku kesini, mencoba lagi, aku memaksa diriku untuk jogging hampir setiap hari. Tidak lupa, aku melengkapi kebutuhan mendaki seperti oksigen, geiter, sarung tangan, dan trekking pole. Aku tidak ingin membuat kesalahan seperti tahun lalu.

Kemudian, disinilah aku – dan yang lain. Memandang lautan awan di depan. Menikmati terpaan sinar matahari pagi yang baru terbit. Memasrahkan diri terhadap angin dingin yang berhembus masuk melalui celah jaket. Senyum terkembang tanpa bisa dihilangkan. Terima kasih Tuhan…

20687947_109206583102428_8664926937191284736_n.jpg

***

 

Minggu, 22 Juli 2018 – 05.30 – Di dalam tenda tepat di sebelah warung Mbok Yem

Suara alarm terus mengganggu tidurku yang memang tidak nyenyak. Aku tidak pernah bisa tidur nyenyak di gunung. Mungkin karena terlalu dingin. Hanya saat di gunung Gede dulu aku bisa lelap, karena hujan di luar tenda membuat hangat suasana. Aku melihat jam di telepon genggam. Sudah waktunya sunrise.

“Rif… rif…” Aku menyentuh bahu Arif yang sedang terlelap di sebelahku – berusaha membangunkannya. “Rif…!!!” Aku semakin menggoncang pundaknya yang tidak kunjung bangun.

“Hmmm…” Akhirnya Arif bangun dengan terpaksa.

“Mau sunrise-an nggak? Udah jam setengah enam nih.”

Sambil menggeliat, Arif berkata. “Yuk…”

Kami berdua pun keluar tenda setelah mengajak yang lain – yang tentu saja tidak mau membuka sleeping bag­-nya. Hawa dingin langsung menusuk ketika aku menyembulkan wajah keluar tenda.

Masih gelap. Garis cahaya khas pagi hari – biru, putih, abu-abu, hitam, kuning, oranye – membentuk gradasi yang sempurna di langit. Aku dan Arif berjalan ke titik dimana bisa melihatnya lebih jelas tanpa terhalang apa pun.

Kami tiba di balik bukit. Arif dengan sigap memasang tripod dan membidiknya ke arah matahari terbit. Agak mendung. Matahari tersembunyi di balik awan. Namun, rasa mulas di perutku tidak bisa disembunyikan lagi.

“Rif, lo madep depan deh. Jangan nengok-nengok ke belakang ya!” Ucapku setelah memastikan spot aman untuk jongkok.

“Mau ngapain lo?”

“Mau ngencing gue.” Jawabku sedikit berbohong. Dengan segera, aku berjongkok tepat di belakang Arif, agak memojok ke dekat semak. Aku membentangkan sarung untuk menutupi bagian bawah tubuhku. Langsung saja, isi di perutku keluar dengan deras. Ah, lega… Tapi ketika aku selesai dan hendak membersihkan sisa kotoran, tiba-tiba ada tiga orang datang tepat ke titik aku dan Arif berada.

Aduh, gawat. Pikirku. Tapi dengan tenang, aku pura-pura memotret pemandangan di depanku dengan telepon genggam. Beruntung sarung menyelimutiku, jadi orang-orang mungkin hanya mengira aku sedang jongkok kedinginan. Aku menunggu beberapa saat, tapi mereka tidak kunjung pergi. Justru semakin asyik berfoto. Lama-kelamaan pula, semakin banyak orang yang datang. Tidak ada tanda-tanda mereka akan beranjak. Aku pun mulai kebingungan. Arif yang berada di depanku berusaha tenang, padahal sudah panik sejak tadi.

“Yuk, Din. Disini nggak dapet sunrise-nya.” Arif memberikan kode.

“Hmmm… yuk…” Aku terus memikirkan cara untuk bisa bangun tanpa terlihat habis buang hajat. Ketika orang-orang itu sedang tidak memperhatikan, aku pun bangun. Dengan mata tetap awas, kakiku perlahan menyembunyikan kotoran yang telah aku keluarkan dengan rumput dan pasir. Lalu, tanpa bisa mengenakan celana, sambil memegang sarungku agar tidak lepas, aku pun berjalan. “Yuk, Rif.” Aku menahan tawa hingga situasi aman.

Kami kembali ke tenda dan justru mendapatkan pemandangan sunrise yang indah.

IMG_9541.JPG

***

 

Januari 2018 – Di puncak Gunung Slamet via Guci Gupala

Dari ketinggian 3428 meter di atas permukaan laut, aku mengucap syukur. Ini adalah gunung keempat. Kelima sebenarnya. Tapi karena aku mendaki gunung Semeru sebanyak dua kali, aku pun tidak menghitungnya. Akhirnya, tersisa satu gunung lagi, hutangku – nazar-ku akan lunas!!!

Kesini pun butuh perjuangan. Jalan menanjak yang terjal menemani kami sepanjang pendakian. Suasana sepi yang mistis, membuat bulu kuduk berdiri sepanjang kaki melangkah. Sarang laba-laba yang melintang di hampir setiap titik, membuat pendakian ini menjadi pendakian paling ‘asri’, paling ‘alami’.

Disini hanya ada dua rombongan. Lima orang dari rombonganku, tiga orang dari rombongan lain. Benar-benar serasa gunung milik sendiri.

Awalnya kami sempat pesimis tidak akan sampai puncak. Bagaimana tidak. Hujan mengguyur badan kami sepanjang perjalanan hingga pos 4 – tempat kami mendirikan tenda. Kami pasrah jika cuaca tidak mendukung seperti ini. Tapi pagi hari ketika kami membuka tenda, ternyata matahari cerah menyembul dari balik pepohonan. Kami tersenyum dan langsung bersiap ke puncak.

IMG_9147.JPG

***

 

Minggu, 22 Juli 2018 – 10.20 – Di puncak Hargo Dumilah Gunung Lawu

Dengan ini, aku menyatakan bahwa hutangku LUNAS! Aku tidak bisa mengekspresikan kesenanganku. Syukur terus aku ucapkan tanpa bisa berhenti. Aku tersenyum puas memandang sekitar: orang-orang yang sedang berfoto di tugu penanda puncak Lawu, bunga Edelweiss yang berada di sekeliling tugu, padang sabana di bawah sana, bukit-bukit tinggi yang seakan siap menembus langit. Ah, betapa indahnya. Terima kasih Tuhan.

Berjam-jam kami berada di atas sini. Menikmati setiap jengkal puncak Lawu. Menekan tombol shutter berkali-kali seakan takut kehilangan momen indah. Bersama teman-teman baik, perjalanan memang menjadi sangat berarti.

DSC07677.JPG

DSC07737.JPG

***

 

Minggu, 22 Juli 2018 – 14.00 WIB – Di depan warung Mbok Yem

Setelah berfoto dengan temanku, Ari, yang pisah rombongan denganku, setelah berfoto dengan Mbok Yem dan peliharaan monyetnya, setelah berdoa, rombonganku pun melangkah turun. Kali ini kami melintasi jalur Candi Cetho.

Beda jalur beda cerita. Beda pula tingkat kesulitannya. Turun memang selalu lebih mudah dari naik (awalnya). Lama-kelamaan urat di kaki seperti melilit karena harus menahan bobot tubuh dan carrier. Tapi kami semua berjalan turun dengan santai. Setiap melintasi sabana, kami berhenti. Duduk atau tiduran, menikmati suasana tenang khas pegunungan. Ditemani lagu-lagu indie dari pengeras suara kecil yang dibawa Angga. Oh, sungguh indahnya hidup ini tanpa hiruk pikuk perkotaan. Tanpa suara klakson dimana-dimana. Tanpa kemacetan yang tidak kunjung selesai di ibukota. Tanpa beban pikiran tentang pekerjaan. Aku sering berpikir, tidak bisakah kita hidup seperti ini saja? Seperti orang jaman dulu yang hanya memikirkan ingin makan apa hari ini? Jika ingin makan, hanya perlu ke hutan, berburu atau mencari buah-buahan. Tanpa harus sikut-sikutan agar terlihat bagus di mata atasan? Tanpa kemunafikan. Tidak bisakah? Bisa, tapi tidak mungkin.

Banyak orang bilang saat turun, lebih enak lewat jalur Cemoro Sewu karena lebih cepat. Jalur Candi Cetho jalannya memutar. Tapi menurutku lebih enak turun lewat jalur ini. karena tekstur tanah berpasirnya membantu kaki agar bisa turun lebih cepat. Aku membayangkan jika turun lewat Cemoro Sewu. Medan batuan terjal pasti bukan ide yang bagus. Selain itu, pemandangan di jalur Candi Cetho ini lebih menakjubkan. Disini aku bertemu banyak sabana. Jalur Cemoro Sewu juga indah, tapi tidak ada sabana.

IMG20180722123252.jpg

IMG-20180725-WA0012.jpg

DSC07664.JPG

***

 

Minggu, 15 Juli 2018 – 19.00 WIB – Di rumah Aldi

“Aduh jangan pergi naik gunung deh. Nanti kenapa-kenapa. Kalo orang mau nikah itu lagi wangi. Lagi disenengin. Kalo mau nikah itu, 3 bulan sebelumnya nggak boleh kemana-mana. Udah batalin aja.” Ucap calon mertuaku.

“Tuh dengerin. Kalo saya yang bilangin mah nggak bakal didenger, Bu. Makanya saya diem aja.” Mamaku ikut mendukung.

Aku saling bertukar tatap dengan Aldi.

“Ini terakhir kok. Kan nazar harus dibayar. Nanti dosa kalo enggak. Abis itu, naik gunungnya kalo udah nikah.” Bantahku.

“Yah, susah dibilangin nih kamu.” Calon mertuaku pun hanya bisa berkata begitu. Aku tersenyum. Biarlah. Nasib tidak ada yang tahu. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha. Seterusnya, biarkan Tuhan yang mengatur. Takdir tidak akan pahit jika kita meraciknya dengan manis. Lagipula, niatku baik. Hanya ingin merasakan indahnya gunung Lawu. Tidak bermaksud jahat ingin mengganggu, apalagi merusak.

 

***

 

Minggu, 22 Juli 2018 – 18.00 WIB – Di depan Candi Cetho

Teman-teman membantuku berdiri, engsel kacamataku miring, hidungku berdarah, pandanganku agak berputar.

“Lo kenapa, Din?” Tanya Arif panik. Aku yang masih kaget tidak bisa menjawab.

“Tadi Kak Dinda jatoh. Tuh berdarah Kak hidungnya!” Agness bantu menjelaskan, sambil panik melihat hidungku yang berdarah.

“Istirahat dulu, istirahat.” Seru Abi dengan wajah tidak kalah panik.

“Nggak apa-apa, Kak?” Tanya Dika.

Setelah beberapa saat, aku tersenyum dan menjelaskan. “Gue nggak apa-apa kok. Tenang aja. Tadi kesandung. Headlamp gue nggak bener nih. Cahanya cuma ke satu titik. Jadi gue nggak bisa liat jelas ke depan. Kita lanjut aja yuk. Udah tanggung mau sampe basecamp.”

“Tuker headlamp-nya tuh.” Ucap Abi. Arif mengangguk dan menyerahkan headlamp-nya padaku. Kemudian kami kembali berjalan. Arif memimpin rombongan di depan. Setelah tadi jaraknya agak jauh dariku, kali ini dia memperlambat langkahnya. Memastikan aku baik-baik saja di belakang. Agness yang semula agak jauh di belakangku, agak mendekat ke depan, agar cahaya lampunya ikut menerangi jalanku. Aku tersenyum. Kali ini aku mendaki tidak dengan Aldi, pacarku. Awalnya ada perasaan takut. Karena dari awal aku mencoba mendaki gunung, Aldi selalu menemaniku. Dengan sabar selalu berada di belakangku. Tapi kali ini, dia tidak bisa karena harus bekerja. Aku pun dengan berat hati pergi tanpanya. Tapi justru inilah pendakian terseru yang pernah aku rasakan. Aku bisa merasakan aku menjadi lebih mandiri. Tanpa adanya pasanganku, aku belajar tidak manja. Aku bisa menjadi lebih dekat dengan teman-teman.

Awalnya aku takut Arif dan yang lain akan berjalan cepat meninggalkanku. Aku sudah tiga kali mendaki gunung dengan Arif. Sebelumnya, dia memang selalu berjalan cepat di depan. Tapi kali ini, ternyata dia dan yang lain dengan sabar menungguku. Kami saling memperhatikan satu sama lain. Aku hanya kenal dengan Arif, sedangkan yang lain, baru bertemu pertama kali. Tapi disini, kami seakan sudah menjadi saudara. Terima kasih Tuhan. Terima kasih Lawu. Suatu saat aku akan datang. Menyapamu untuk yang kedua kali.

***

 

Senin, 23 Juli 2018 – 00.56 WIB – Di rumah Banyu

Sesungguhnya ketika mendaki gunung, bukan puncaknya yang kita taklukan, tapi diri kita sendiri. Sesungguhnya ketika naik gunung, bukan puncaknya yang menjadi tujuan, tapi setiap jengkal jalurnya. Sesungguhnya ketika naik gunung, berhasil itu bukan saat sampai di puncak, tapi saat sampai kembali di rumah masing-masing.

Kami semua sampai dengan selamat di rumah Banyu. Satu lagi kebaikan yang aku rasakan. Tanpa banyak basa-basi, tanpa perkataan penawaran, kami dipersilakan untuk beristirahat disini. Tanpa rasa malu, aku dan Agness yang sudah sangat lelah pun masuk ke kamar Banyu. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk terlelap. Ketika kepalaku menyentuh empuknya bantal, jiwaku pun melayang. Kembali menapaki indahnya alam Lawu.

IMG_9636.JPG

***

Facebook Comments

About Dinda Tahier

I'm an ordinary human being who just wants to share stories