This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Menelusuri Jejak Kolonialisme di Tanah Multatuli

Menelusuri Jejak Kolonialisme di Tanah Multatuli

“Tugas Manusia adalah menjadi manusia” – Multatuli

Ada yang menarik dari Rangkas Bitung, Kabupaten Lebak, daerah yang dikenal lewat karya sastra berjudul Max Havelaar karya Multatuli ini mampu membangkitkan semangat antikolonialisme. Multatuli sendiri adalah nama pena dari Eduard Douwes Dekker dan Multatuli sendiri  berarti ‘Aku yang menderita’.

Novel ini bukan sekedar cerita fiktif belaka,namun terdapat fakta sejarah didalamnya dimana Multatuli terusik hati nuraninya dan tergerak untuk menentang Sistem Tanam Paksa yang membawa penderitaan dan kesengsaraan bagi rakyat pribumi, karena tidak sesuai semangat Revolusi Prancis Liberte,Egalite, Fraternite yang memandang manusia memiliki kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan. Max Havelaar ditulis setelah Douwes Dekker mengakhiri tugasnya sebagai asisten residen Lebak yang hanya bertahan selama tiga bulan terhitung dari Januari hingga April 1856.

Keberaniannya menggugat Bupati Lebak, Raden Adipati Karta Nata Negara yang dianggap korup dan dimanfaatkan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk mengeruk keuntungan dari daerah jajahannya. Apa yang ia rasakan atas penindasan dan ketidakadilan yang menimpa rakyat pribumi Lebak, ia sampaikan kepada Residen Banten Brest van Kempen. Namun, apa yang ia sampaikan tidak mendapat simpati dan dukungan malah mendapat cercaan dan makian bahkan menuduhnya telah melakukan tindakan amoral terhadap atasannya. Atas tindakannya itu, nasib Dekker atau Havelaar berujung pada pemecatan. Ia menolak diangkat sebagai asisten residen Ngawi dan memilih pulang ke Belanda.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid menuliskan dalam makalah Simposium Pascakolonial dan isu-isu mutakhir lintas disiplin yang digelar dalam rangka Festival Seni Multatuli pada 6-9 September 2018, bahwa Multatuli merupakan salah seorang pelopor kesusastraan antikolonial dan antifeodal. Melalui Max Havelaar, kita menyaksikan bagaimana kolonialisme dan feodalisme membentuk sebuah simbiosis.

Dosen Ilmu Sejarah Universitas Indonesia, Bondan Kanumoyoso yang turut hadir dalam simposium tersebut menjelaskan Max Havelaar ialah karya yang tidak hanya mempengaruhi perubahan-perubahan yang terjadi dalam masa selanjutnya di Hindia Belanda, tetapi karya itu juga menjadi sumber inspirasi bagi pelaksanaan perbaikan dalam masyarakat yang mengalami kolonialisme di seluruh dunia. Max Havelaar berhasil membuka kesadaran masyarakat Belanda bahwa kolonialisme yang dijalankan Belanda tidak mendorong kemajuan pada masyarakat pribumi, tetapi mendatangkan penderitaan dan kemiskinan.

Rumah Multatuli

Dok.pribadi, Ket.Rumah Multatuli

Untuk mengenang semangat humanisme yang dinafaskan dalam Max Havelaar, Pemkab Lebak membangun Museum Multatuli sebagai museum antikolonial pertama di Indonesia dan diresmikan pada 11 Februari 2018 oleh Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya. Tak hanya lewat museum, Pemkab Lebak juga menggelar Festival Seni Multatuli 2018 yang baru diselenggarakan pertama kali sebagai bentuk literasi seni, budaya, dan sejarah. Pemkab Lebak nampaknya sangat antusias menyambut acara ini dilihat dari banyak ucapan selamat datang kepada para tamu yang hadir yang dipasang sepanjang Jalan Multatuli dan jalan-jalan menuju Alun-Alun Rangkasbitung.

Museum Multatuli

Dok.pribadi

Di dalam festival tersebut kental dengan tradisi lokal, seperti karnaval kerbau, seni tradisi gegendeh, pameran tenun Baduy,teater dan juga diwarnai dengan Opera Saidjah dan Adinda oleh Ananda Sukarlan Orchestra yang merupakan percampuran budaya lokal dan barat. Selanjutnya di akhir acara diadakan napak tilas atau menyusuri jejak Multatuli dengan mengunjungi rumah Multatuli yang terletak di belakang RSUD Adjidarmo.

 

Facebook Comments

About Ririn Qunuri

Ketika duniamu sempit. Maka menulislah! | Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Sejarah Universitas Indonesia