This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Mengenal PDB, Pertumbuhan Ekonomi, Dan Purchasing Power Parity

Mengenal PDB, Pertumbuhan Ekonomi, Dan Purchasing Power Parity

Tentu akan banyak istilah ekonomi keluar dalam debat ke-lima Pilpres 2019 ini, bagi sebagian orang akan menjadi gamang membedakan mana pertumbuhan ekonomi, PDB atau GDP, dan Purchasing Power Parity. Untuk itu saya sedikit mengulasnya disini dalam perspektif Indonesia.

Bicara ekonomi maka ini tergantung perspektif mana yang mau digunakan, secara sederhana kita analogikan badan kita sebagai negara.

  1. Berat badan kita sekarang 70 kg, itu namanya PDB (produk domestik bruto)
  2. Dulu sewaktu kuliah 55, berarti sekarang naik 15 kg, itu Pertumbuhan Ekonomi kita diatas 5%
  3. PPP adalah purchasing power parity, kemampuan tubuh kita untuk tumbuh

 

Mengenai Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Badan Pusat Statistik menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan pada 2018 adalah sebesar 5,17 persen atau terbaik sejak lima tahun terakhir.

Bila melihat tren sejak 2014, angka tersebut memang terbesar. Pada 2014, pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 5,01 persen, atau lebih rendah daripada 2013 yang sebesar 5,56 persen.

Angka pada 2014 bahkan sempat anjlok setahun setelahnya ke level 4,88 persen pada 2015. Setelah itu, tren pertumbuhan ekonomi Indonesia terus membaik menuju 5,03 persen pada 2016 dan 5,07 persen.

Tren pertumbuhan ekonomi terus membaik setelah menjejak 5,07 persen pada 2017 dan mencapai 5,17 persen pada 2018. “Dalam kondisi global yang tidak tentu arah dan harga komoditas yang fluktuatif, ini menggembirakan,” ujar Suhariyanto.

Kendati pertumbuhan ekonomi mencapai 5,17 persen atau yang terbaik sejak 2014, nilai tersebut masih belum mencapai target. Pada APBN 2018, Indonesia mencanangkan asumsi dasar ekonomi berupa pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen.

Jika dilihat dari komponen pengeluaran, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2018 menunjukkan kontribusi ekspor sebagai sumber pertumbuhan ekonomi yang negatif 0,99 persen. Namun jika dilihat dari pertumbuhan secara kumulatif pada 2018 dibandingkan 2017, maka ekspor tumbuh 6,48 persen.

Meski tumbuh, angka ekspor itu lebih rendah dibanding pertumbuhan impor yang melesat 12,04 persen. “Ekspor yang negatif ini menjadi faktor penurun dari laju pertumbuhan ekonomi,” kata Suhariyanto.

Sementara ekonomi Indonesia pada 2018 paling banyak disokong konsumsi rumah tangga sebesar 2,74 persen. Adapun konsumsi rumah tangga telah pulih dan tumbuh sesuai trennya di 5,05 persen secara kumulatif pada 2018.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 sebesar 5,17 persen mendapat apresiasi dari berbagai pihak. “Pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian growth 5,17 persen yang pasti mendapat apresiasi dari berbagai negara mitra, ketika dalam proses pembicaraan pembukaan yang mereka sampaikan yakni apresiasi,” kata Enggartiasto.

Dengan capaian tersebut, Mendag menyatakan optimistis bahwa Indonesia mampu mencapai target pertumbuhan di 2019, yakni 5,3 persen.

 

Jika dilihat dari PDB real data IMF 2013 sampai 2017

Indonesia ada di peringkat 39 pertumbuhan ekonomi paling pesat antar negara dalam kurun waktu 2013-2017

Source : http://statisticstimes.com/economy/countries-by-gdp-growth.php

 

PDB Terbesar Di Dunia

Pada 2018 Amerika Serikat masih tercatat sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar, dilihat dari nilai Produk Domestik Brutto (PBD) yang mencapai US$ 18.624 miliar. Kemudian disusul China dengan nilai PDB US$ 11.199 miliar. Namun di tahun 2018 Indonesia ada di 16 besar PDB di seluruh dunia

Source : CNBC

 

 

 

Jika mengacu kepada PPP Indonesia peringkat 7

Source : IMF

Ekonomi dengan purchasing power parity (kemampuan daya beli) menggambarkan kemampuan daya beli agregat suatu penduduk dalam periode tertentu, jadi dia ngukur kemampuan daya beli masyarakat. berdasarkan tingkat stabilitas pendapatan dan harga.

Sedangkan dalam istilah Purchasing Power Parity (PPP) atau keseimbangan kemampuan berbelanja, kadang-kadang juga disebut paritas daya beli, 10 negara teratas adalah: China, Amerika Serikat, India, Jepang, Jerman, Rusia, Indonesia, Brasil, Inggris, dan Prancis.

Dalam kedua metode, Amerika Serikat dan China menduduki dua tempat pertama. AS adalah negara dengan tingkat ekonomi terkuat di dunia secara nominal sedangkan China menempati urutan atas dalam skala PPP.

Peringkat Indonesia dalam daftar GDP (PPP) terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Proyeksi IMF ini juga menunjukkan kemungkinan besar pada tahun 2023 nanti Indonesia akan naik lagi ke peringkat ke-6.

 

 

 

Facebook Comments

About Fahmy Yusuf

Sarjana Humaniora Universitas Indonesia, Magister Pertahanan Universitas Pertahanan. Editorial Ruang Rakyat.