This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Meningkatnya Trend Serangan Siber

Meningkatnya Trend Serangan Siber

Masih hangat diingatan kita pada April lalu terjadi serangan hacker yang menyebabkan kerugian yang ditaksir mencapai beberapa juta dollar di seluruh dunia. Serangan ini menggunakan sebuah virus ransomeware yang bernama WannaCry. Bahkan perusahaan keamanan dunia maya mendeteksi sedikitnya 75 ribu serangan siber terjadi di 99 negara berbeda kala itu, suatu peningkatan yang signifikan dalam jangka waktu singkat.

Menariknya ada informasi mengenai kelompok peretas bernama The Shadow Brokers mengklaim telah mencuri ‘tools‘ NSA itu dan merilisnya secara online. ‘Tools‘ itu dibuat tersedia secara bebas di internet dengan password yang dipublikasi oleh kelompok peretas itu.

Serangan ini hanya akan menginfeksi komputer yang menggunakan operasional sistem windows XP. Di Indonesia dua rumah sakit besar terkena virus ini dan dimintai sejumlah tebusan agar data yang telah di enkripsi dapat dibuka kembali.

Penyebab dari meningkatnya serangan dan perubahan trend ini diakibatkan berbagai macam faktor, salah satunya adalah meningkatknya aplikasi dan software yang tersebar secara bebas di dunia maya, dibutuhkan safeguard yang mumpuni agar terhindar dari kesalahan instalasi ataupun akses kepada piranti lunak yang dipercaya.

Dengan kemajuan e-commerce dan digitalisasi uang pembayaran seperti bitcoin yang semakin mahal harganya dari waktu ke waktu memberikan celah besar bagi serangan hacker. Mata uang virtual itu dapat menjadi pemicu pengembangan virus seperti ransomware untuk menjadi wadah untuk pemerasan dalam meminta tebusan uang.

Sistem pembayaran online lewat Internet masih merupakan sasaran empuk penjahat dunia maya. Dengan perembangan industri e-commerce yang semakin masif dengan sistem bigdata dan volume transaksi yang semakin besar. Hal ini terlihat dari peningkatan serangan setiap harinya, serangan terbesar menyasar ke industri retail yang berbasis jaringan (online).

Kejahatan dunia maya dengan fokus penjarahan data bisnis atau uang harus diwaspadai selama tahun ini. Pasalnya dalam cyberspace kita tidak pernah mengetahui pasti serangan berasal. Dan tidak ada aturan yang dapat menjamin penindakan hukum tegas terhadap pelaku kejahatan siber. Sejauh ini negara-negara hanya mengandalkan team cepat tanggap dalam merespon serangan siber namun sulit sekali dalam menyerang balik para hacker yang bersembunyi.

Untuk meredam serangan dan bertahan hal yang paling mungkin dilakukan adalah dengan pengembangan safeguard di masing-masing instansi dan perusahaan, dengan meningkatnya awareness ini tentu akan memberikan daya tangkal dan pertahanan paling minim yang dibutuhkan tidak hanya oleh user, namun juga divisi IT dan manajemen dalam menjaga data penting dari peretasan.

Facebook Comments

About Fahmy Yusuf

Sarjana Humaniora Universitas Indonesia, Magister Pertahanan Universitas Pertahanan. Editorial Ruang Rakyat.