This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Menurunnya Indeks Performa Perubahan Iklim Indonesia

Menurunnya Indeks Performa Perubahan Iklim Indonesia

Isu pemanasan global semakin hangat dibicarakan karena hal ini telah memicu terjadinya perubahan iklim yang akan berdampak buruk bagi kehidupan manusia. Pemicu pemanasan global utamanya adalah meningkatnya emisi karbon akibat penggunaan energi fosil (bahan bakar minyak, batubara dan sejenisnya). Penggunaan energi fosil akan menghasilkan gas karbondioksida (CO2) yang merupakan sumber utama meningkatnya emisi karbon di udara.

Sumber gambar: zanysh.com, nd

UNFCCC atau Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim adalah sebuah konvensi yang membuat kesepakatan sebagai komitmen politik internasional terkait perubahan iklim pada KTT Bumi tentang Lingkungan dan Pembangunan (United Nations Conference on Environment and Development/UNCED) di Rio de Janeiro, Brazil, Juni 1992. UNFCCC telah menjadi lembaga negosiasi yang mengusung tema mengnai perubahan iklim dengan keterlibatan para pemangku kepentingan dari berbagai Negara. Hingga Desember 2015, jumlah anggota UNFCCC adalah 197 negara (Stavins et al., 2014), yakni meliputi negara-negara Annex I, Annex II, Non Annex I, dan Observer.

UNFCCC bertujuan menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer, pada taraf yang tidak membahayakan kehidupan organisme dan memungkinkan terjadinya adaptasi ekosistem, sehingga dapat menjamin ketersediaan pangan dan pembangunan berkelanjutan. Hal ini dilakukan dengan melakukan negosiasi antar anggota untuk membentuk suatu aturan yang lebih spesifik dalam mengurangi emisi GRK.

Indonesia telah meratifikasi UNFCCC dengan Undang Undang No.6 Tahun 1994 tentang Pengesahan UNFCCC. UNFCCC mengadopsi prinsip “common but differentiated responsibilities”. Hal ini memiliki arti bahwa dalam rangka mengatasi perubahan iklim, tiap Negara memiliki tujuan yang sama namun dalam tanggungjawab yang berbeda-beda, disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi tiap Negara tersebut.

Otoritas tertinggi UNFCCC sebagai lembaga independen dipegang oleh pertemuan anggota yang dilakukan setiap tahunnya yang dikenal dengan “Conference of Parties” (COP) semenjak tahun 1995.

Pada COP 23 yang diselenggarakan di Bonn, Jerman, Indonesia berharap dapat mendukung penguatan pengelolaan hutan hujan secara global, sebagai kerangka penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi di Asia Pasifik. Aspek hutan dinilai sangat penting dalam pencapaian target NDC (National Determined Contribution) Indonesia, karena 17% dari target 29% penurunan emisi GRK yaitu dari sektor kehutanan, sedangkan sektor selanjutnya adalah energi (sebesar 11%) (Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, 2017).

Indeks Performa Perubahan Iklim Indonesia berada pada peringkat ke-37. Pada tahun 2018, tapatnya pada COP 24 di Katowice, Polandia, diketahui bahwa Indeks Performa Perubahan Iklim Indonesia turun 1 tingkat menduduki peringkat ke-38. Indeks ini dinilai berdasarkan emisi GRK, energi terbarukan, penggunaan energi, dan kebijakan iklim. Pada kategori energi terbarukan, Indonesia dinilai rendah, tentu hal ini begitu disayangkan mengingat potensi sumber energi terbarukan di Indonesia cukup melimpah.

Meningkatnya industri (seperti pulp dan kelapa sawit) menjadi salah satu penyebab meningkatnya laju deforestasi.

Terkait hal tersebut, hal yang perlu dilakukan Indonesia terkait kebijakan iklim menciptakan dan menerapkan kebijakan nasional secara lebih ketat dan disiplin terkait deforestasi. Hal ini penting karena mengingat adanya komitmen Indonesia dalam pengurangan emisi terkait Paris Agreement, yakni direncanakan sebesar 3,5 juta hektar pada tahun 2021-2035.

Pelaksanaan Kesepakatan Paris khususnya NDC akan menjadi momentum bagi Indonesia untuk lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui upayaupaya yang lebih intensif misalnya dalam menjaga hutan, melindungi lingkungan, mengembangkan penerapan energi baru dan terbarukan, meningkatkan transportasi yang berkelanjutan, pertanian yang rendah emisi dan meningkatkan ketahanan pangan, dan industri yang ramah lingkungan (Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, 2017).

Referensi:

Stavins, R., Z., J. (2014). International Cooperation: Agreements and Instruments.  Chapter 13 in: Climate Change 2014: Mitigation of Climate Change. Contribution of Working Group III to the Fifth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press

Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (2017). Buku Strategi Implementasi NDC (Nationally Determined Contribution), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Facebook Comments