This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Pecinta SepakBola Tanah Air Harus Belajar dari Maulwi Saelan

Pecinta SepakBola Tanah Air Harus Belajar dari Maulwi Saelan

Namanya tidak setenar Irfan Bachdim, Evan Dimas, atau Bambang Pamungkas. Sebagai seorang penjaga gawang, nama Maulwi Saelan kalah pamor dibandingkan dengan Hendro Kartiko atau Ronny Paslah. Tetapi kiprahnya mengawal gawang Timnas Indonesia pada periode 1950 hingga 1962 menjadi salah satu yang terbaik, bahkan hingga saat ini. Beliau sukses mengantarkan Timnas Indonesia meraih empat besar Asian Games tahun 1954 dan medali perunggu tahun 1956. Aksi heroiknya pada olimpiade di Melbourne, Australia, 17 November 1958 menjadi perbincangan. Kala itu Timnas Indonesia mampu menahan imbang tanpa gol tim kuat dari Eropa Timur, yakni Uni Soviet yang diperkuat oleh pemain legendaris seperti Igor Netto, Sergei Salnikov, dan Boris Tatushin.

Maulwi Saelan lahir di Makassar, 8 Agustus 1926. Beliau adalah anak dari Amir Saelan yang merupakan pendiri organisasi pendidikan Taman Siswa di Makassar. Darah sepakbola mengalir dari ayahnya yang juga merupakan pendiri klub sepakbola Main Ontoek Sport (MOS). Awalnya beliau berposisi sebagai penyerang, namun saat itu klub membutuhkan penjaga gawang sehingga Saelan diplot sebagai penjaga gawang. Kesuksesannya di bawah mistar gawang membawanya pada Pekan Olahraga Nasional I di Solo tahun 1948. Kala itu, beliau mengawal gawang tim Jakarta Raya. Pada Pekan Olahraga Nasional III di Medan tahun 1953, beliau menjadi penjaga gawang sekaligus kapten tim Makassar.

Sukses sebagai pemain sepakbola tidak lantas membuatnya berhenti berkarya. Perlu diketahui bahwa Saelan merupakan salah satu pejuang dalam pertempuran menghadapi Belanda saat masa Revolusi tahun 1945 hingga 1949. Pengalamannya dalam hal militer ditambah dengan aksi heroiknya pada olimpiade tahun 1956 yang terdengar oleh Presiden membawa adik kandung dari pejuang wanita bernama Emmy Saelan ini menjadi pengawal pribadi Presiden Soekarno. Beliau menjadi saksi hidup hingga detik-detik ajal menjempul sang pemimpin besar revolusi.

Semasa hidupnya, Saelan pernah menjadi Ketua Umum PSSI pada tahun 1964 hingga 1967. Selain itu, beliau juga menjadi pelopor turnamen sepakbola untuk anak-anak dan remaja, bernama Piala Soeratin. Tidak hanya itu, beliau juga menjadi pendiri dari Yayasan Al Azhar Syifa Budi di Kemang, Jakarta Selatan. Namanya hanya tinggal kenangan, tapi sumbangsihnya bagi dunia pendidikan dan persepakbolaan tetap dapat dirasakan. Kerja kerasnya mengingatkan kita bahwa berkontribusi dan berkarya tidak hanya pada satu bidang saja. Melalui momentum hari pahlawan 10 November, nama Maulwi Saelan layak disematkan gelar pahlawan mengingat sumbangsihnya yang besar untuk kemajuan sepakbola dan dunia pendidikan Indonesia.

 

Ditulis Oleh : Usman Manor (Alumni Ilmu Sejarah UI)

Facebook Comments

About Redaksi Ruang Rakyat

RuangRakyat memberikan ruang bagi kamu yang ingin menuangkan gagasan ke seluruh rakyat Indonesia.