This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Catatan Jurnalis, Kisah Dari Aceh

Catatan Jurnalis, Kisah Dari Aceh

Suara kapal cepat menderu, menyisakan pecahan ombak laut di belakangnya. Hatiku berdebar menanti apa yang menungguku di depan. Satu tahun sudah aku menanti kesempatan ini. Kembali ke tempat dimana aku bisa melakukan mimpiku.

Ini kali kedua aku berkunjung. Pertama kali, aku menumpang kapal besar yang bisa memuat kendaraan motor dan mobil. Meskipun besar, kecepatannya sungguh membuat bosan. Dengan membayar tarif penumpang termasuk kendaraan sekitar 100 ribu rupiah, setelah sebelumnya mengantri selama hampir seharian, aku harus duduk di lantai dek kapal selama 3 jam lebih. Terombang ambing di atas lautan. Aku hampir muntah dibuatnya. Ya, harga tidak bohong.

Namun sekarang, aku menumpang kapal cepat dengan harga yang lebih mahal. 80 ribu rupiah per orang. Kapal ini hanya bisa memuat penumpang. Aku tinggalkan mobilku di lapak parkir pelabuhan. Tadinya aku mau membawa serta mobil yang aku sewa di kota. Tapi karena aku kalah cepat dengan orang-orang yang telah mengantri dari hari sebelumnya, aku pun tidak dapat tiket. Daripada harus menunggu besok, lebih baik aku naik kapal cepat saja. Kesempatan ini sudah aku nantikan selama lebih dari 1 tahun. Selain itu, ada pekerjaan yang menantiku disana. Ya, hitung-hitung kerja sambil liburan.

Meskipun tetap saja, aku harus menunggu selama lebih dari 12 jam untuk naik ke kapal ini. Aku sangat heran sekaligus kesal. Destinasi yang aku tuju sekarang merupakan salah satu surga dunia di tanah air. Tapi sistem transportasinya sangat tidak memadai. Padahal visi dan misi pemerintah daerah setempat adalah untuk menjadikan tempat ini sebagai destinasi wisata internasional. Ya, memang banyak wisatawan asing yang berdatangan. Tapi aku yakin, sekali mereka kesini dengan keadaan kapal yang sering mogok jalan, pasti mereka tidak akan balik lagi dan pasti tidak akan merekomendasikannya ke orang lain.

Ah entahlah. Aku tidak suka politik dan aku tidak peduli dengan omong kosong yang dikeluarkan petinggi-petinggi itu. Aku hanya berdoa dan berharap kedepannya aku bisa dengan lancar bolak balik kesini.

Pengeras suara kapal memecah lamunanku. Kapal dengan lancar sampai di pelabuhan. Malas mengantri, aku membiarkan penumpang lain keluar lebih dulu. Setelah sepi, aku pun beranjak keluar. Panas terik matahari menyambut. Aku tersenyum memandangnya. Tentu saja dengan kacamata hitam melindungi mataku. Dengan tas carrier di pundak, aku lanjut melangkah keluar pelabuhan.

“Tereee!!!” Putri melambaikan tangannya antusias, kemudian berlari ke arahku. Saking antusiasnya, dia memelukku hingga aku hampir hilang keseimbangan. Putri adalah teman lamaku waktu di bangku sekolah dasar.

“Putriii!!! Tasku berat. Untung keseimbanganku bagus. Kalau enggak, lucu banget kalau sampai kita jatuh terguling di depan orang-orang.”

“Hahaha gimana dong. Aku kangen banget sama kamu!!! Udah lama banget nggak ketemu!”

“Iya akhirnya risetku disetujui. Jadi bisa liputan disini lagi. Aku nggak sabar mau ‘itu’!!!”

“Hahaha niat kamu cuma ‘itu’ doang siiih.”

“Itu alasan utama aku riset liputan kesini. Mumpung.” Aku dan Putri tertawa bersama. Setelah berbincang sebentar, kami pun beranjak pergi. Putri menjemputku dengan mobil orang tuanya.

Aku seorang video journalist. Seorang VJ merupakan gabungan dari reporter dan cameraman. Aku merekam setiap detail liputan dengan menggunakan kamera mirrorless Sony A7. Setelah meliput, aku juga yang menulis naskahnya untuk di proses menjadi sebuah tayangan. I love my job! Pekerjaan inilah yang membuatku bisa keliling Indonesia, bahkan dunia. Hanya bermodalkan kamera dan rangkaian kata di otak, aku bisa menunaikan hobi traveling ku setiap bulan. Tentu saja biaya ditanggung kantor. Kalau sendiri, bisa-bisa aku jadi pengemis di kota orang.

Putri membawaku melakukan survey dan bertemu narasumber yang sebelumnya aku kontak. Aku ingin meliput tentang bobroknya sistem transportasi dibalik pesona wisatanya, yang memberi imbas kepada kesejahteraan masyarakat disini. Untuk membuktikannya, aku harus menemui warga yang hidup dalam keterbatasan karena tidak bisa memanfaatkan tanah tinggalnya yang berpotensi menjadi wisata dunia. Sungguh miris.

Selesai bertemu dengan berbagai narasumber yang aku butuhkan, Putri akhirnya membawaku ke penginapan.

“Kamu yakin nggak mau tidur dirumahku aja?” Tanya Putri.

“Iya. Aku tidur disini aja. Udah di fasilitasin kantor. Nanti kalau aku nggak tidur disini, malah jadi masalah.”

“Ya udah. Nggak masalah tidur sendiri?”

“Aman, Put. Kalo masalah, emang kamu mau nemenin aku tidur disini?”

“Maunya gitu. Tapi pasti Ibu marah…” Jawab Putri dengan bibir manyun.

“Hahaha kasihaaan. Udah umur 25 tahun tapi masih dipingit.” Goda ku, disambut dengan cubitan Putri di lengan. Setelah memastikan aku aman, Putri pulang ke rumahnya.

Lelah luntang-lantung di pelabuhan selama lebih dari 12 jam, dan setelah memastikan baterai kamera siap untuk tempur besok, aku pun merebahkan diri ke kasur.

***

Hari ini aku sudah siap memulai liputan. Dengan kamera di tangan, kaca mata hitam di atas hidung, topi di atas kepala, aku pun berangkat. Kadang aku merasa seperti tokoh utama dalam film zombie. Bedanya, mereka membawa senapan, sedangkan aku siap mengeker lewat kamera.

Untuk memudahkan pergerakan selama liputan, aku menyewa motor. Putri tidak bisa menemaniku sepanjang waktu karena dia sibuk membantu usaha resor keluarganya.

Aku sangat menikmati angin yang menerpa wajahku ketika aku mengendarai kuda mesin ini. Oh ya, aku belum bilang aku sedang dimana. Aku berada di sebuah pulau paling ujung sebelah baratnya Indonesia. Pulau Sabang. Pulau yang hanya didiami kurang dari 25 ribu penduduk ini sangat tenang. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di jalan aspal ini. Bahkan hanya aku yang ada di jalan ini, meliuk-liuk mengikuti kelokan jalan.

Hari ini aku membuat janji dengan salah satu narasumber. Dia merupakan seorang pencari gurita. Salah satu yang khas di Sabang ini adalah sate gurita. Jadi, cukup banyak pencari gurita yang setiap hari menyelami lautan untuk mendapatkan pundi pundi rejeki. Aku menunggu di pinggir pantai. Masih jam 8.30 pagi. Kami janjian jam 9. Masih ada waktu. Aku pun berkeliling di sekitar pantai. Mencari objek yang bisa di foto.

Pantai ini sangat sepi. Hanya aku yang ada disini ditemani deru ombak yang pecah menghantam batuan karang. Aku memanjat salah satu pohon dan duduk di atas batangnya yang melintang secara horizontal. Dengan kamera tele, aku mulai memotret berbagai objek yang jauh. Sekitar 10 meter di depanku, lensa kamera menangkap sebuah kapal yang berisi para turis yang siap untuk diving. Diving! Sebuah mimpiku yang belum tercapai. Inilah salah satu alasanku melakukan riset liputan ke pulau ini. Setelah menanti kesempatan selama satu tahun, akhirnya aku bisa kesini. Setelah semua rangkaian liputan selesai, aku berencana untuk diving. Hatiku berdebar tiap memikirkan tubuhku menari di dalam laut.

Diving master sedang memberikan pengarahan kepada para turis. Teuku! Diving master itu bernama Teuku Samuel George. Dia adalah blasteran Aceh – Ipswich, Inggris. Aku mengenalnya. Setahun lalu ketika Aku berkunjung kesini selesai liputan, aku berniat ingin diving. Putri pun mengenalkanku kepada Teuku. Tapi karena esok harinya aku harus pulang ke ibukota, niat diving pun pupus. Setelah diving langsung terbang itu bahaya. Jika dipaksakan, yang ada aku pulang tinggal nama. Dengan hati miris, aku berjanji dalam hati bahwa aku akan kesini lagi melaksanakan niatku untuk mencoba diving. Akhirnya, hari itu pun tiba. Aku memasukkan diving ke dalam alur liputanku. Sedikit curang, tapi memang relevan. Melihat Teuku dan para turis turun ke dalam laut membuatku semakin tak sabar!

Aku melirik ke jam tanganku. Sudah jam 9 lewat tapi narasumberku belum datang juga. Aku pun memasukkan kamera ke tas, lalu memasang hammock di batang pohon. Di pantai begini, tiduran di atas hammock sambil membaca buku tentu mengasyikan. Tapi kok… angin sejuk dari arah laut yang menerpa tubuhku ini membuat mataku semakin berat?

BRUUUKKK!!!

Suara buah kelapa yang jatuh membangunkanku. Ternyata aku ketiduran. Jam sudah menunjukkan pukul 11 tapi narasumberku itu belum juga nampak batang hidungnya. Dengan kesal, aku meraih telepon genggam dan meneleponnya.

“Halo, Pak Ilham dimana?” Tanpa basa basi aku langsung memburunya dengan pertanyaan.

“Oh iya Mbak Tere, saya sedang di jalan. Tadi samper teman dan kumpulin peralatan snorkeling dulu.”

“Saya udah nunggu 2 jam, Pak.” Seruku kesal mencoba mengendalikan intonasi suara.

“Iya, sebentar lagi sampai, Mbak.”

“Ya udah, saya tunggu.” Aku pun memutus telepon. Ternyata benar kata Putri. Sabang itu singkatan dari Santai Banget. Tidak heran, warga disini santai semua. Terlalu santai malah. Beberapa kali aku liputan di daerah pesisir pantai, dan kebanyakan dari warganya memang memiliki tabiat hampir sama – sama-sama santai alias ngaret. Aku ingin marah, tapi apa daya. Daripada liputanku kacau, lebih baik aku menahan ego.

Tepat pukul 11.30, Pak Ilham datang dengan 2 orang temannya.

“Mbak, maaf ya telat. Tadi saya cari peralatannya dulu.”

Aku sebisa mungkin memasang senyum. Padahal dalam hati sungguh aku ingin menjambak rambut Pak Ilham yang wajahnya cengengesan. Tapi ya sudahlah…

Setelah azan zuhur jam 1 siang, barulah kami bisa memulai liputan. Aku mengambil semua detail persiapan yang dilakukan seorang pencari gurita. Setelah persiapan, kami pun mulai berenang di lautan. Kekesalanku seketika hilang saat tubuhku dengan bebas bersentuhan dengan air laut. Aku biarkan tubuhku merasakan sejuknya air asin yang selalu aku rindukan ini. Ah… laut memang tidak pernah membosankan.

Kami berkali-kali melakukan free dive untuk mendapatkan gurita. Pak Ilham dengan gesit menarik gurita keluar dari bawah karang dengan besi panjang yang melengkung seperti kail pancing di ujungnya.

Ada sekitar 7 gurita yang kami dapatkan. Jumlah ini sangat banyak. Sebenarnya aku sangat kasihan dengan gurita-gurita ini. Aku membayangkan jika berada di posisinya. Ketika sedang santai, melamun di posisi yang enak, tiba-tiba ada pengait besi yang menyambar. Sungguh bukan pengalaman mengenakkan pastinya. Tapi rasa gurita kan sangat enak. Duh… Serba salah… Maaf ya gurita….

Setelah 3 jam naik turun permukaan laut, kami berempat pun melipir ke tepian. Berjam-jam berenang membuat perutku protes. Walaupun sebenarnya aku masih mau berada di laut. Tapi jadwal liputanku masih menumpuk. Selesai istirahat menunggu Pak Ilham menghabiskan satu batang rokok, aku menyiapkan sesi wawancara. Ketika kamera siap. Aku pun bertanya berbagai hal yang aku ingin tahu dari seorang pencari gurita.

“Biasanya Bapak cari gurita disini aja atau ada tempat lain?” Tanyaku dibalik kamera.

“Saya cari dimana-mana, Mbak. Tergantung angin. Sekarang lagi musim angin Barat. Jadi laut yang aman ya di Timur ini.”

“Sebenarnya gurita itu boleh di buru nggak, Pak?”

“Boleh, Mbak. Kan gurita terkenal di Sabang. Salah satu makanan faforit warga. Turis juga banyak yang suka.”

“Kata Bapak tadi, disini sebenarnya nggak boleh ambil gurita. Itu kenapa?”

“Ya… Soalnya ini termasuk pantai wisata, Mbak. Warga sini bikin batas mana aja yang boleh di ambil guritanya. Tapi mereka bikin batasnya terlalu luas. Jadi gimana ya… Saya sebagai nelayan kadang kesulitan juga. Bukan saya aja yang sulit. Nelayan lain juga ngerasa gitu. Kalau lagi angin Barat begini, pantai sana bahaya. Kalau ga nyari di Timur, saya nggak makan….”

“Jadi Bapak maunya gimana?”

“Ya saya maunya yang adil aja gitu, Mbak. Biar sama-sama enak. Lagian, spot snorkeling dan diving masih luas banget disini. Dengan turis yang nggak banyak-banyak banget kan masih bisa nampung.”

“Bukannya turis di Sabang banyak, Pak?”

“Ya lumayan. Tapi nggak seramai Bali atau Lombok lah, Mbak. Karena manajemennya juga begini-begini aja. Banyak turis yang nggak mau datang lagi.”

Selesai sesi wawancara, setelah aku selipkan amplop terima kasih ke tangan Pak Ilham, aku pun pamit pergi. Dengan badan lengket dan rambut tidak keruan habis berenang di laut, aku mengendarai motor ke arah penginapan.

Penginapanku tepat di belakang basecamp diving. Untuk sampai di kamar, aku harus melewati tempat para divers ini berkumpul. Aku pun melihat Teuku yang sedang sibuk menyusun peralatan diving.

“Hai, Teuku! Habis diving?” Sapaku.

“Oh iya nih. Sedang membereskan peralatan.” Jawab Teuku dengan bahasa Indonesia yang fasih, walaupun masih menggunakan bahasa yang terlalu baku. Teuku lahir di Indonesia, tepatnya di Banda Aceh. Tidak heran, logatnya tidak kebule-bulean. Teuku terus memperhatikanku. Aku yakin otaknya sedang memproses data ingatan tentang siapa diriku.

“Masih inget saya nggak?” Tanyaku. Teuku bingung menjawab. Oke, jawabannya tidak. “Tahun lalu saya yang kesini sama Putri, bilang mau diving tapi nggak jadi itu. Udah lama banget sih. Tapi ini kebetulan saya tugas liputan lagi disini. Maunya sih selesai liputan bisa diving.”

“Oh kamu yang wartawan dari tivi Toransu Nana itu ya?”

“Naaah iya. Masih ingat juga?”

Teuku tertawa. “Iya mana mungkin saya lupa. Tahun lalu kamu kelihatan ingin sekali diving. Tapi tiba-tiba di telepon bos untuk pulang ke Jakarta.”

“Ya, begitulah. Kali ini pokoknya harus jadi!”

“Ya sudah besok saja kalau bisa.”

Aku tertawa, “Belum tahu nih. Saya selesaiin liputan dulu.”

“Yasudah kesini saja kalau mau.” Aku pun mengangguk dan pamit pergi ke kamar. Badanku sudah tidak enak. Butuh air tawar untuk membuatnya segar kembali.

 

***

 

Hari kesembilan, aku sudah menyelesaikan 2 episode dengan durasi 20 menit per episode. Aku punya waktu 3 hari lagi hingga jadwal kepulanganku ke ibukota. Itu artinya, aku punya 3 hari untuk liburan!!!

Setelah menyelesaikan rangkaian liputan terakhir, sekitar pukul 8 malam, aku mampir ke basecamp diving. Tentu saja untuk mendaftar agar bisa diving besok. Tapi kok… tidak ada orang disini? Sudah tutupkah? Biasanya jam 10 juga masih ramai. Aku pun masuk ke dalam, memperhatikan sekitar. Ruangan ini hanya berukuran 7 x 5 meter. Isinya sudah penuh dengan segala perlengkapan diving. Goggles tertata rapi di raknya, berbagai wet suit tergantung rata, tabung oksigen berjajar rapi di lantai. Di sudut ruangan terdapat white board bertuliskan jadwal diving minggu ini. Ketika aku sedang menperhatikannya, tiba-tiba ada seseorang menepuk pundakku.

“Lagi cari apa, Tere?”

“Teuku! Bikin kaget aja. Kok sepi? Tumben…”

“Iya hari ini kan Jumat.”

“Oh iya ya. Lupa…” Aku baru sadar sekarang adalah hari jumat. Karena Aceh mengikuti syariat Islam, jadilah setiap hari Jumat, segala kegiatan dikurangi. “Gini… Saya mau diving besok.” Lanjutku sambil tersenyum sumringah.

Teuku ikut tersenyum, ”Sudah selesai liputannya ya? Boleh besok saya jadwalkan. Mau jam berapa?”

“Sepagi mungkin sih. Biar puas.” Jawabku sambil nyengir.

“Biasanya kita paling pagi mulai jam 9.”

Nine is fine!”

Setelah membuat jadwal, aku masih bertanya-tanya beberapa hal tentang diving. Karena besok akan menjadi pengalaman pertama, aku tidak mau main-main. Karena diving bukan hanya sekedar berenang, tapi butuh teknik khusus. Bahkan berbeda dengan free dive. Teuku mengajakku duduk di kursi depan base camp. Dia dengan sabar menjawab semua pertanyaanku. Kami berbincang cukup lama. Ternyata asyik juga bercengkrama dengan Teuku. Selain membicarakan tentang diving, kami bercerita banyak hal. Mulai dari pekerjaanku, pekerjaannya, tentang Sabang, dan lain-lain. Tidak terasa, waktu menunjukkan pukul 11 malam. Aku pun pamit ke kamar.

 

***

 

Akhirnya!!! Hari yang aku tunggu-tunggu datang juga. Semalam aku tidak bisa tidur. Seperti anak kecil yang menantikan mainan impiannya setelah merengek berbulan-bulan ke orang tuanya.

Sambil bersenandung riang, aku menuruni tangga menuju ke basecamp diving tepat di depan penginapan. Saking bersemangatnya, aku tidak memperhatikan jalan setapak penyambung antara penginapan dan base camp diving yang basah. Lalu, secara mengenaskan, aku pun terpeleset. Aku terdiam sebentar memperhatikan sekitar. Gengsi juga jika ada yang melihatku terpeleset. Aku menengok ke kiri. Aman. Menengok ke kanan. Aman juga. Kemudian aku memutar kepala ke belakang. Aman. Tidak ada orang yang melihat. Baru saja aku hendak mengehembuskan napas panjang, tangan seseorang menjulur ke arahku.

“Terlalu bersemangat sampai jatuh?”

“Teuku? Sejak kapan kamu disini?” Dengan kagok, aku menyambut tangannya.

“Sejak tadi aku disini. Sedang menyiapkan peralatan diving.” Jawabnya sambil tersenyum. Ya ampun!!! Sungguh malu aku dibuatnya. Beruntung hanya Teuku yang ada disini. Semoga dia cepat melupakan kejadian itu. “Kamu sudah siap? Ganti wet suit dulu. Ukuranmu apa?” Tanya Teuku tanpa memperhatikan wajahku yang malu.

“Oh ukuranku M.” Teuku memintaku ikut ke dalam basecamp, lalu memberikanku selembar wetsuit. Aku langsung mencobanya di kamar mandi yang tersedia. Ukuran yang sangat pas. Setelah mengenakan wetsuit, aku keluar kamar mandi.

“Udah nih. Terus apa lagi?” Tanyaku.

Teuku membantuku mengenakan buoyancy compensator device atau rompi diving. Setelah memastikan rompinya pas, Teuku melepasnya lagi.

“Sudah aman. Sekarang bajunya bisa kamu pakai setengah saja. Bagian atasnya bisa di lepas dulu.”

“Emang kenapa?”

“Nanti kan kita naik perahu dulu ke titik dive nya, pasti kamu kepanasan. Karena wetsuit-nya sangat tebal. Tapi kalau kamu tidak apa-apa, ya sudah.” Tanpa banyak cakap, aku mengikuti saran Teuku. Wetsuit ini memang cukup membuat keringat bercucuran.

Kemudian Teuku membantuku memilih fin dan goggles yang pas. Ketika perlengkapan sudah lengkap, Teuku memberikanku pengarahan. Sebenarnya 1 orang divemaster bisa menjaga 2 orang pemula. Tapi hari ini, Teuku hanya menemaniku saja.

Setelah memastikanku mengerti semua penjelasan, kami pun beranjak ke perahu untuk menyeberang ke pulau Iboih. Di pulau Iboih, terdapat titik snorkeling yang ditandai dengan tali pembatas. Turis bebas berenang tanpa harus takut ada perahu yang menabrak. Titik diving pertama, Teuku mengajakku kesini. Karena baru pertama kali, kami memulainya dari bibir pantai, lalu sedikit demi sedikit menyelam.

Setelah memasang fin, Teuku menunjukkan bagaimana cara menggunakan rompi. Dengan tombol tertentu, rompi ini bisa kembang kempis. Fungsinya menjadi pelampung ketika di permukaan. Jika ingin menyelam, udara di dalam rompi bisa dikeluarkan. Intinya, rompi ini berfungsi sebagai pengatur daya apung.

Kemudian Teuku mengajarkanku bagaimana cara mengambil napas dengan selang oksigen. Tidak sulit. Sama seperti bernapas ketika snorkeling, yaitu menggunakan mulut.

Lalu Teuku menunjukkan bagaimana cara melepas selang oksigen, kemudian memasangnya kembali ke mulut di dalam air. Ada sebuah tombol yang bisa ditekan untuk mengeluarkan air dari selang. Awalnya sulit. Tapi setelah mencoba beberapa kali, aku bisa mengendalikannya.

Terakhir, Teuku menunjukkan cara mengeluarkan air di dalam goggles ketika sedang diving. Ini salah satu yang paling penting. Ketika di kedalaman, air sering masuk ke dalam goggles terutama jika goggles tidak kencang. Caranya mudah, hanya tinggal mendongak ke atas, tekan goggles bagian atas dengan tangan, lalu keluarkan napas lewat hidung. Lalu, air akan keluar dengan sendirinya.

Di sela briefing singkat ini, tidak lupa, Teuku mengajarkan isyarat-isyarat yang digunakan di dalam air. Salah satu yang paling aku sukai adalah OK yang dibentuk dengan jari telunjuk dan jempol yang membentuk lingkaran.

Setelah memastikan semua aman, perlahan kami memasuki dinginnya lautan. Awalnya aku kesulitan untuk bisa menyelam. Kadar garam air laut membuat tubuhku tetap mengambang. Padahal pinggangku sudah dililit weight belt atau sabuk pemberat. Tapi disitulah fungsi divemaster, Teuku. Dia dengan sigap menarikku ke dalam laut.

Aku tidak bisa berkata-kata. Pemandangan ini terlalu indah bagiku. Jika tidak mengenakan selang oksigen ini, mungkin aku sudah cengar-cengir saking senangnya. 5 menit berlalu tanpa masalah. Aku mengambil video dan foto sebanyak mungkin. Teuku yang memegang kamera aksi yang anti air juga dengan cekatan mengambil video dan fotoku. Padahal aku tidak meminta. Ya baguslah, ada persediaan foto untuk di unggah ke sosial media.

Selang 10 menit, air terus masuk ke dalam goggles-ku. Aku dengan tenang mengeluarkannya seperti yang diajarkan Teuku sebelum menyelam tadi. Tapi lama kelamaan, air terus masuk. Sudah segala cara aku lakukan untuk membetulkan posisi goggles. Tapi entah kenapa goggles ini terus salah posisi dan menyebabkan air masuk ke dalam. Mendongak ke atas dan mengeluarkan air dari hidung juga membuat air masuk sedikit demi sedikit, baik lewat hidung maupun mulut. Entah aku yang salah melakukannya, entah memang seperti itu.

Awalnya aku tidak memberitahu Teuku. Tapi entah sudah berapa liter aku menelan air laut, yang menyebabkan aku tersedak. Barulah. Aku memberi kode bahwa ada masalah pada goggles-ku. Teuku pun berusaha membetulkan posisinya. Setelah dibetulkan oleh Teuku, keadaan goggles sudah lebih baik. Tapi selang beberapa menit kemudian, hal itu berulang kembali. Berkali-kali hingga aku benar-benar tersedak. Pernahkah kamu tersedak tapi tidak bisa sendawa? Rasanya seperti ingin mati. Tapi aku berusaha tenang, dan memberikan kode ke Teuku bahwa aku tidak bisa melanjutkannya lagi. Karena air di dalam goggles kini memaksa mataku menutup. Teuku pun meraih tanganku dan perlahan membawaku kembali ke permukaan.

Ketika keluar dari air laut, aku terbatuk hebat. Teuku dengan lembut memijat leherku.

“Sepertinya goggles yang kamu pilih tidak sesuai dengan bentuk wajahmu. Kamu harus menggantinya. Lebih baik kita istirahat dulu selama 1 jam, ya?”

Aku mengangguk. Masih belum bisa berkata-kata. Teuku membantuku melepas segala perlengkapan diving yang terpasang di tubuhku. Setelah membawa perlengkapan itu ke pinggir pantai, Teuku memapahku menuju ke sebuah kedai kopi yang berjarak hanya satu langkah dari bibir pantai. Dia memesan teh hangat kepada pelayan keda, lalu duduk di sebelahku.

“Kamu okay?” Tanya Teuku. Aku tersenyum. Sungguh aku ingin bilang aku tidak apa-apa, tapi suaraku tidak bisa keluar. Pelayan kedai memberikanku segelas teh hangat. Aku langsung meneguknya. Ketika air hangat menyentuk tenggorokanku, barulah aku merasa baikan.

“Aku nggak kenapa-kenapa, Teuku. Cuma tadi goggles-nya nggak enak banget. Jadi airnya masuk terus. Padahal aku masih mau lama-lama di dalam sana.” Ucapku setengah kecewa.

“Syukurlah. Ya sudah nanti tukar dulu goggles-nya. Baru kita menyelam lagi. Kita nggak bisa langsung menyelam sekarang. Harus netralisir jantungnya dulu.” Aku mengangguk, menurut.

Setelah beristirahat sambil memakan beberapa camilan, Teuku mengajakku kembali menyelam. Kini, goggles-ku sudah diganti dan semoga saja tidak seperti yang sebelumnya. Kali ini titik menyelam lebih dalam dari sebelumnya. Kami tidak lagi memulai dari tepi pantai, tapi langsung ke tengah laut. Perahu di parkir di tengah, kemudian Teuku mengajarkanku untuk melakukan real roll method. Yaitu terjun ke dalam air dengan cara jungkir balik. Dulu aku selalu bertanya, untuk apa gunanya jungkir balik seperti ini? Kenapa tidak langsung lompat? Baru disinilah aku tahu jawabannya. Sebenarnya bisa saja aku lompat. Tapi akan membahayakan diriku sendiri. Jika lompatanku tidak lebar dan tinggi, tabung oksigen akan mengenai bibir perahu. Selain itu, jika melompat, perahu kecil ini akan hilang keseimbangan.

Kali ini aku bisa dengan mudah menyelam ke dalam laut. Karena ada tali jangkar, aku hanya perlu memegangnya untuk membimbingku menyelam. Pemandangan disini lebih menakjubkan lagi. Berbagai terumbu karang berwarna-warni terhampar tepat di bawahku. Aku ingin menyentuhnya satu per satu, tapi tentu tidak boleh. Dengan memandanginya saja aku sudah sangat senang. Bukan hanya terumbu karang yang menyita perhatianku. Puluhan ikan nemo dengan lucu bergerak kesana-kemari di ‘rumah’nya. Ketika aku mendekat, mereka seakan tidak peduli. Aku iseng menggerakkan jemariku di atas mereka. Tapi mereka seperti tidak terusik. Ikan ini memang tidak takut pada apa pun. Mereka tidak akan meninggalkan rumahnya jika tidak perlu. Gemas!!!

Penyelaman kedua ini aku sudah bisa dengan lancar bergerak kesana kemari. Goggles-ku aman, dan buoyancy atau daya apungku terkendali. Hanya sesekali, tiba-tiba tubuhku mengambang ke atas dengan sendirinya. Jika sudah begini, Teuku yang selalu memperhatikanku akan menarik tanganku dan tidak akan melepasnya hingga tubuhku stabil.

Lebih dari 1 jam kami di dalam sini. Teuku memberi isyarat, “berapa sisa tekanan udara di tabungmu?”

Aku membalas isyaratnya, “sisa 60”. Dia pun memberi isyarat untuk kembali ke atas. Aku menggeleng. Tanpa basa basi, Teuku menarik tanganku. Aku pun pasrah. Sebenarnya aku masih ingin berada di dalam sini. Rasanya tentram. Mungkin seharusnya aku terlahir sebagai makhluk laut. Karena aku sangat suka berenang.

Tangan Teuku masih menggenggam tanganku ketika kami sudah hampir sampai di permukaan. Tapi tiba-tiba dia berhenti dan mengarahkan lensa kamera aksi bawah air ke arah kami. Ternyata dia mengajakku selfie. Teuku mendekatkan diri padaku. Tentu saja aku tidak bisa tersenyum. Ada celah sedikit, mulutku akan kemasukkan air laut. Alhasil, foto yang telah diambil tidak ada yang bagus. Karena wajahku seperti ikan mas koki. Setelah berfoto, kami pun naik ke atas perahu. Selesai sudah mimpiku…

“Bagaimana?” Tanya Teuku sambil membereskan peralatan di atas perahu.

“Mau lagi!!!” Jawabku dengan wajah masam. Teuku tertawa.

“Sudah sore. Tidak baik gelombang lautnya nanti. Besok saja kalau mau lagi.”

“Nggak bisa. Lusa aku udah harus pulang ke Jakarta.” Jawabku masih agak kecewa.

“Kan masih ada bulan depan, 2 bulan lagi, atau tahun depan.” Aku tambah cemberut mendengar jawaban Teuku. Teuku tertawa dan melanjutkan, “Buoyancy-mu sudah lumayan bagus. Pengambilan napasnya juga sudah bagus. Aku yakin, beberapa kali lagi kamu sudah jago.”

Aku tersenyum mendengar pujiannya. “Serius???”

Teuku mengangguk. “Yang selanjutnya cobalah untuk lebih tenang lagi di dalam sana. Jangan terlalu terburu-buru bergeraknya. Nanti capek.” Aku mengangguk-angguk tanda setuju. “Kamu sudah lelah?”

Aku menggeleng. “Nggak sama sekali. Aku diajak menyelam seharian juga ayuk.”

Teuku tersenyum. “Kali ini aku tidak mengajak kamu menyelam. Bagaimana kalau kita pergi ke tempat bagus? Sebentar lagi sunset. Aku punya tempat terbaik untuk kamu bisa mengambil video.”

Mataku langsung membulat. Benar juga! Aku belum punya gambar sunset Sabang. Aku pun langsung mengiyakan. Kemudian, perahu cepat kembali melesat membelah lautan. Sekitar 30 menit, Teuku berhenti. Di depan kami terdapat 2 pulau kecil yang hampir menempel satu sama lain. Di tengahnya terdapat sedikit celah yang dari tempatku berada terlihat seperti lorong.

“Disini tempatnya. Tunggu saja. Masih sekitar 1 jam lagi.” Ucap Teuku.

Walaupun masih lama, tapi aku tidak bisa mengalihkan mataku dari matahari yang sudah menggantung bersiap untuk tenggelam. Teuku memberi isyarat untuk duduk di sebelahnya. Aku pun menurut. Menyandarkan punggungku di perahu. Aku kembali memainkan lensa kamera untuk memotret keindahan yang ada di sekitarku. “Tere… ada kotoran di rambutmu.” Ucap Teuku sambil menunjuk kearahku.

“Dimana?” Aku mencari kotoran yang ditunjuk Teuku. Tapi Teuku terus menggeleng.

“Sini aku ambilkan. Maaf…” Aku bergeming memperhatikan wajah Teuku yang hanya berjarak beberapa senti meter dari hadapanku. Aku baru sadar bahwa dia memiliki wajah yang tampan. Tentu saja, dia adalah seorang blasteran. Wajahnya tegas. Alisnya menukik tebal. Matanya tajam. Hidungnya mancung. Rahangnya keras. Rambutnya keriting dan berwarna cokelat terang. Kulitnya tanning khas lelaki pantai. Tangannya kekar. Aduuuh… kenapa aku jadi terpesona begini. Aku langsung memalingkan wajahku. Tidak boleh! Tidak boleh!!!

Aku pun pura-pura sibuk dengan kameraku. Memotret sana-sini. Padahal semua objek di sekeliling sudah habis aku abadikan. Saking groginya, aku tidak sadar bahwa baterai kameraku sudah sekarat. Aku pun panik. “Yaaah!!! Gawat!”

“Ada apa?” Tanya Teuku dari belakangku.

Aku menoleh ke arahnya. “Baterai kameranya habis… Padahal belum ambil sunset-nya…”

Teuku tampak bingung menanggapi. Setelah beberapa detik diam, dia pun berkata. “Baru lusa kan kamu pulang ke Jakartanya? Besok aku bisa membawamu kesini lagi.”

“Tidak bisa, Teuku. Walaupun aku pulang lusa, tapi besok aku harus geser ke Banda Aceh. Karena lusa aku terbang pagi jam 9. Sedangkan kapal hanya ada pagi jam 8 dan jam 2 siang, kan?”

“Tidak usah khawatir. Setelah melihat sunset besok, aku akan mengantarmu ke Banda Aceh menggunakan kapal milik resor.”

“Resor siapa?”

“Resor milik keluargaku. Aku bisa meminjamnya. Dengan kapal cepat kan hanya 45 menit ke pelabuhan Ulee Lheue.”

Mataku membulat antusias. Tapi aku buru-buru menolaknya. “Nggak usah, Teuku. Aku nggak mau ngerepotin. Kamu kan masih banyak kerjaan. Apalagi besok hari Minggu kan. Pasti banyak turis yang mau diving.” Teuku terdiam lagi. Entah kenapa aku melihat sedikit kekecewaan di raut wajahnya.

“Aku sebenarnya tidak keberatan.” Jawabnya singkat. Sungguh, demi melihat wajahnya yang teduh itu, entah kenapa aku tidak bisa menolak. Akhirnya aku pun mengiyakan, tepat ketika matahari mencium permukaan air laut di depan sana.

Sungguh sunset terindah yang pernah aku saksikan. Cahaya matahari memantul di atas permukaan laut. Ruang seperti lorong yang memisahkan dua pulau di depanku berubah warna menjadi jingga. Pohon-pohon yang di masing-masing pulau bercahaya keemasan. Ada larikan cahaya yang menyembul dari sela-sela dedaunan. Aku menahan napas menyaksikannya. Sekarang matahari sudah sempurna tenggelam.

Sambil tersenyum, Teuku mengajakku pulang. Aku mengangguk. Sepanjang jalan kami tidak banyak bicara. Suara mesin perahu yang menderu mengganggu perbincangan kami. Sungguh tidak enak jika harus berteriak mengalahkan suara mesin. Jadi lebih baik diam saja. Teuku juga tidak banyak bicara. Dia konsentrasi mengendalikan perahu. Tatapannya lurus ke depan. Entah mengapa wajahnya yang syahdu itu mengalihakan mataku. Hingga mencapai dermaga di depan penginapan, aku tidak bisa berhenti menatapnya. Entahlah dia sadar atau tidak. Aku sudah tidak peduli. Toh aku akan segera pergi dari pulau ini.

 

***

 

Setelah seharian menyelam, hari ini badanku cukup pegal-pegal. Untungnya aku sudah tidak ada kerjaan. Jadi bisa bangun agak siang. Waktu menunjukkan pukul  9 pagi. Setelah mencuci muka, aku turun ke bawah – mencari sarapan. Penginapan ini tidak menyediakan sarapan. Di lorong penghubung penginapan dan basecamp diving, aku melihat Teuku. Saat aku ingin menyapanya, tiba-tiba ada seorang anak perempuan berumur sekitar 9 tahun, berlari ke arahnya.

“Ayaaahhh!!!” Tubuhku kaku seketika mendengarnya. “Ayah kapan libur? Udah lama kita nggak berenang bareng.”

“Besok ya, Dara sayang.”

“Janji, ya?” Teuku tersenyum, mengangguk dan mengelus kepala anak perempuan yang memanggilnya ayah itu.

Aku langsung membalik badan dan kembali ke kamar. What am I doing? Aku merasa sesak. Aku langsung meraih telepon genggam dan menghubungi Putri.

“Put, kayaknya aku mau pulang naik kapal nanti siang. Kamu bisa tolong anter aku ke pelabuhan nggak?”

“Loh katanya mau sunset-an dulu? Bukannya katanya mau dianter pake speedboat pribadinya narsum?”

“Hmmm… nggak jadi. Aku bener-bener harus geser ke Banda nanti siang.” Putri akhirnya mengiyakan. Aku pun langsung bersiap dan menunggu di kamar hingga Putri menjemput.

Tepat pukul 11, Putri datang. Dengan segera aku mengangkat seluruh tas bawaan dibantu Putri –berharap tidak bertemu Teuku di bawah. Tapi harapan itu buyar ketika tepat sekali aku berpapasan dengan Teuku di lorong jalan. Melihatku membawa carrier, Teuku terkesiap.

“Kamu mau kemana?”

Aku bingung menjawabnya. Untung Putri sudah jalan duluan ke parkiran mobil. Aku tidak mungkin menceritakan kedekatanku dengan Teuku. Mau di kata apa?

“Hmmm… ternyata aku harus segera geser ke Banda Aceh. Disuruh bos.” Jawabku, berusaha menghindari matanya.

“Oh, jadi tidak perlu video sunset?”

“Hmmm… itu gampang. Banyak stoknya di kantor. Aku tinggal cari aja. Maaf ya. Aku pamit dulu.”

Teuku tidak berkata apa-apa. Aku pun berjalan cepat melewatinya yang berdiri terdiam.

“Tere…!”

Aduuuh kenapa dia memanggilku? Aku menghentikan langkah dan perlahan menoleh. Aku menunggu Teuku bicara. Tapi justru dia terdiam. Hanya memandangku. Beberapa detik yang sungguh berarti. Kami bertatapan. Aku melihat wajahnya yang cokelat khas pria pulau itu. Oh, kenapa wajahnya sungguh ‘lelaki’? Kenapa alis tebalnya menukik tajam seperti itu?

“Tere, barangnya ada lagi nggak?” Pertanyaan Putri mengalihkan tatapanku dengan Teuku.

“Oh eh… udah, itu aja, Put.” Putri dengan bingung melihatku, lalu menoleh ke Teuku.

“Terus… mau pergi sekarang? Nanti nggak kebagian tiket. Lagi rame soalnya.” Putri bertanya pelan. Gawat! Sepertinya dia sudah mencium situasi tidak enak antara aku dan Teuku.

Aku mengangguk. “Yuk…”

Aku membalik badan dan pergi meninggalkan Teuku. Sungguh aku menahan diri untuk tidak menoleh ke belakang. Tapi apa daya… mata ini terlalu nakal. Ketika aku menoleh, Teuku masih disana. Berdiri, menyambut tatapanku. Kemudian dia tersenyum. Ya Tuhan! Kenapa senyumnya manis sekali? Senyumnya itu seakan memintaku untuk tinggal lebih lama. Senyumnya itu seakan menuntut janji melihat sunset hari ini. Tapi tidak bisa! Tidak mungkin!

 

***

Setelah hampir satu jam perjalanan, aku dan Putri sampai di pelabuhan. Putri yang baik rela mengantri tiket untukku. Kemudian dia menemaniku duduk di ruang tunggu hingga jam keberangkatan. Entah kenapa aku merasa sedih akan meninggalkan pulau ini.

“Tere… Kamu kok diem aja?” Putri memulai percakapan.

“Nggak apa-apa kok. Emang kenapa?”

“Iiiih ada yang aneh tahu! Tadi juga kamu sama Teuku kenapa?” Tanya Putri tanpa basa basi.

“Ngga apa-apa, Put. Emang kelihatannya gimana deh?”

“Jangan jangan…!!! Kamu sebenarnya mau lihat sunset dan diantar ke pelabuhan Ulee Lheue sama Teuku nanti?!” Putri berseru mendekap mulutnya sendiri. Aku terdiam. Dia pun melanjutkan. “Teuku itu duda beranak satu. Dia cerai sama istrinya 2 tahun lalu. Istrinya selingkuh terus kepergok. Kasihan… padahal Teuku ganteng ya.” Putri bercerita tanpa aku minta. Ceritanya membuatku terdiam. Wajah Teuku kembali muncul di pikiranku. “Kamu dekat sama dia?” Putri bertanya lagi.

Tidak bisakah kamu diam, Putri? Ucapku dalam hati.

Tapi aku tidak tahan untuk tidak jujur. Aku pun menceritakan kedekatanku 2 hari terakhir dengan Teuku. Aku baru menyadari aku selalu salah tingkah di depannya. Mungkin aku menyukainya. “Tapi mungkin ini sesaat, Put. Nggak mungkin juga sih. Orang tuaku tidak suka orang Aceh. Mereka sudah menyiapkan jodoh untukku di Jakarta. Minggu depan aku mau ditemuin sama laki-laki itu.”

Putri pun mengeluarkan petuah-petuahnya. Aku tidak terlalu memperhatikan. Pikiranku sibuk mengulas balik pertemuanku dengan Teuku. Mulai dari tahun lalu. Saat aku ingin diving dan Teuku menyambutku dengan senyumnya. Aku baru menyadari, sebenarnya tahun lalu aku sudah agak terpesona dengannya. Tapi hanya sebatas ketika wanita melihat pria tampan. Tidak lebih.

Memoriku pun mengulas kembali perhatian Teuku saat kami diving berdua, terlalu manis untuk dilupakan. Ah, dia kan perhatian seperti itu karena aku pemula yang memang harus diperhatikan. Jika dilepas, bisa-bisa aku terseret arus dan menghilang entah kemana. Aku berusaha mengenyahkan Teuku dari pikiranku.

 

***

Kapal cepat membawaku pergi dari pulau Sabang menuju Banda Aceh. Berkali-kali aku menghela napas panjang. Biarkan perasaan ini tertinggal di belakang. Perasaan sesaat yang terlalu manis. Biarlah raga dan pikiran ini pergi. Karena sesungguhnya, aku pergi untuk kembali pulang. Pulang ke kotaku yang nyata. Karena disini semua terasa begitu fana.

Facebook Comments

About Dinda Tahier

I'm an ordinary human being who just wants to share stories