This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Pertahanan Suriah Dalam Menghadapi Serangan Negara Barat

Pertahanan Suriah Dalam Menghadapi Serangan Negara Barat

Dalam menghadapi perang sebagai ancaman nyata, Suriah hanya memiliki anggaran pertahanan sebesar US$ 2 Miliar yang dititikberatkan pada pertahanan udara. Suriah memiliki sistem pertahanan udara dengan rudal S-200 yang belakangan ini ditingkatkan dengan masuknya persenjataan SA-22 dan SA-17 dari Rusia. Tidak hanya itu, Suriah juga memiliki sistem radar canggih yang dikirim dari Cina.

Lebih menarik, kini Suriah memiliki pertahanan udara berlapis yang dibentuk sebagai bantuan dari Rusia melalui gelar persenjataan yang dapat menghalau segala serangan dan membuat serangan tradisional menjadi rumit. Pertahanan udara berlapis dilakukan dengan menggunakan kemampuan S-400 Rusia yang dilaporkan dapat melindungi sebagian besar wilayah suriah.

S-400 merupakan sistem pertahanan canggih yang terdiri dari radar pengawas jarak jauh, kendaraan komando, radar pengintai dan kendaraan peluncur. Keempat bagian ini akan dapat mendeteksi objek, mengkaji potensi ancaman dan meluncurkan rudal untuk menghancurkan bahkan pada teknologi yang tidak bisa dipantau radar atau siluman, yang pada saat bersamaan mampu mengarahkan 12 rudal untuk enam sasaran.

Selain itu, Rusia juga menempatkan beberapa pesawat di Suriah seperti pesawat pengebom Sukhoi-24, pesawat tempur Sukhoi-25, pesawat angkut, pesawat pengintai dan helikopter tempur Mi-24 dan Mi-35.

Dengan kekuatan pertahanan yang dimiliki oleh Suriah yang dibantu Rusia tersebut, sebanyak 76 dari 105 rudal yang ditembak oleh AS, Perancis dan Inggris berhasil dijatuhkan. Bahkan, Duta Besar Rusia untuk PBB menyatakan bahwa tidak semua Rudal yang ditembakkan AS dapat menjangkau Suriah.

Kompleksitas Perang Suriah

Perang Suriah yang telah lama terjadi ini harus dilihat dari perspektif yang utuh dan berimbang, agar tidak hanya terfokus pada satu sisi. Karena, Suriah bukan hanya konflik internal berlatar agama dan ras yang dipahami secara awam, tetapi konflik yang juga dipengaruhi oleh aspek geopolitik, keamanan, sosial-politik, dan ekonomi dengan banyak aktor yang terlibat dan memiliki motivasi serta tujuan yang berbeda namun bergerak di waktu yang sama.

Secara umum, terdapat dua pemantik yang menjadi faktor utama dalam krisis Suriah yang terus berjalan hingga kini. Pertama, masalah sosial-politik dapat dilihat dari masalah dalam negeri Suriah seperti adanya keterbatasan masyarakat dalam kesempatan bersosial-politik mengenai urusan dalam negeri, tingginya kesenjangan yang terjadi hingga adanya tindak pidana korupsi yang dianggap telah menjadi masalah yang besar.

Hal ini lah yang kemudian menjadi pemantik bagi kaum-kaum pemberontak yang gerakannya terus menjadi bola salju karena disisipi berbagai kepentingan dari negara-negara lain yang ingin menjatuhkan rezim Presiden Bashar al-Assad yang telah berkuasa kurang lebih selama 40 tahun.

Kedua, masalah politik internasional, keamanan dan ekonomi dalam perebutan sumber daya alam yang berada di Suriah dari lingkungan eksternal Suriah. Kepentingan politik yang menjadikan Suriah sebagai lahan perang dapat dilihat dan dianalisis dari geopolitik Suriah.

Suriah yang merupakan salah satu negara yang memiliki kekuatan militer yang besar di kawasan Timur Tengah pada hakikatnya memberikan sebuah ancaman bagi negara tetangganya khususnya Israel yang sejak awal sejarahnya terus menunjukan sikap perlawanan.

Bahkan, bentuk perlawanan Suriah terhadap Israel dilakukan dengan terang-terangan menjadi sekutu bagi Iran, Hamas dan Hizbullah. Terlebih, kini Suriah diduga mengembangkan dan menggunakan senjata kimia untuk kepentingan pertahanannya dan didukung oleh Rusia. Dengan kondisi ini, tentunya menjadikan Israel, AS dan sekutunya tidak tinggal diam dengan berusaha untuk menumbangkan rezim Presiden Bashar al-Assad demi keamanan negara, regional dan global.

Sementara dalam sudut pandang kepentingan ekonomi, ternyata dibalik kepentingan koalisi yang dibentuk Negara-negara Barat, Turki dan Sekutu Timur Tengah seperti Arab Saudi, terdapat kepentingan utama yaitu mendapatkan sumber daya alam yang dibutuhkan oleh semua negara yaitu minyak dan gas. Suriah tercatat sebagai negara yang memiliki kandungan minyak dengan ketebalan 350 meter senilai miliaran barel, berkali-kali lipar dari kandungan minyak dunia.

Dengan adanya beberapa pemantik yang menjadi faktor terjadinya perang di Suriah ini, tidak heran banyak negara menginginkan keterlibatan dalam perang Suriah demi mencapai kepentingannya baik dalam keamanan, politik maupun ekonomi. Oleh karena itu, Suriah akan terus menjadi sebuah wilayah yang akan menjadi sorotan penting bagi negara-negara Barat, Rusia dan negara-negara tetangganya.

(Source: Kompas/Sindo/detiknews/BBC Indonesia/Liputan6/mata-matapolitik.com)

 

Penulis : Rida Fauzia Qinvi

Facebook Comments

About Rida Fauzia Qinvi

Master of Defense - Defense Diplomacy at Indonesia Defense University