This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Ruang Opini : Bijak Menghadapi Aksi Teror !

Ruang Opini : Bijak Menghadapi Aksi Teror !

Berbagai rentetan serangan teror yang melanda Indonesia dalam pekan terakhir ini, membawa duka yang mendalam bagi masyarakat, bukan bagi keluarga korban-korban saja namun juga bagi semua masyarakat yang tengah berusaha merawat kerukunan di negeri ini.

Beberapa waktu lalu, setelah aksi pemboman di Gereja, ada kawan Saya yang merupakan seorang pemuka agama Nasrani mengirim pesan ke saya yang intinya dia yakin bahwa orang Islam masih banyak yang baik-baik, yang meledakkan Gereja dan membunuh jamaah kemarin adalah yang tersesat. Jujur saat itu Saya merasa sedih.

Saya sadar, pelaku teror beberapa waktu lalu adalah orang Islam. Fakta yang tidak bisa dipungkiri. Disamping bukti kuat tulisan status di kolom agama KTP, mereka juga bersyahadat, menjalankan sholat, puasa, zakat, dan mungkin telah melaksanakan haji. Kelima rukun tersebutlah yang membedakan antara orang itu menganut agama Islam atau bukan.

Memang, meskipun satu agama, pemeluknya berkelompok-kelompok seperti disebutkan di dalam Hadits. Masalahnya banyak kelompok yang masih saling beranggapan dirinya paling benar dan yang lain salah bahkan harus diperangi. Islam merupakan satu wadah mulia, satu keluarga. Layaknya sebuah keluarga, terdapat anak yang patuh dan suka membangkang. Saat Si Pembangkang berulah dan membuat keributan, maka nama keluarga akan menjadi sorotan. Ini merupakan salah satu yang juga menjadi efek samping dari terorisme dengan mengatasnamakan Islam, tumbuhnya Islamophobia.

Dengan menolak mereka, maka kondisi tersebut justru seakan membenarkan doktrin mereka yang mengusung “keterasingan” sebagai sebuah kemuliaan. Berdasarkan pengalaman pribadi sekitar tahun 2013 awal, ada beberapa teman kuliah yang minjem kamar saya, mereka berkumpul bernasyid “ghuroba’” sambil berlinangan air mata.

Beberapa bulan kemudian, mereka hilang dan ternyata tergabung dalam ISIS di Suriah. Bagi mereka, “Islam datang sebagai sesuatu yang asing dan akan kembali menjadi asing” adalah justifikasi bagi keterasingan mereka. Jika kita semakin mengasingkan mereka dengan pengingkaran, maka kita telah menciptakan monster-monster baru. Kitalah yang paling bertanggung jawab untuk merangkul mereka agar kembali ke jalan yang damai, yang rahmatan lil ‘alamin namun tetap berkeadilan. Jika mereka dibiarkan semakin jauh, kita akan sulit mengajaknya kembali.

Belakangan pasca banyak aksi teror kembali, beredar ujaran “Tembak mati saja mereka kalau ketemu”, atau “Bunuh saja para teroris di Rutan”. Menurut saya, Ini juga tidak dibenarkan. Prosedur tembak mati jelas ada aturannya, yaitu hanya jika mereka melawan atau membahayakan aparat. Kelompok yang terpapar radikalisme masih memiliki masa depan, Allah Maha Mengubah hati, Muqollibul Qulub. Masih ada jalan dan cara untuk mereka kembali memilih jalan damai dalam berjuang.

Nabi Muhammad SAW pun dahulu mengajak untuk masuk Islam juga sabar dan penuh kasih. Menghadapi saudara yang nakal memang butuh kesabaran, dan Allah bersama orang yang sabar. Para napi terorisme yang tertangkap dan menjalani deradikalisasi banyak kok yang kemudian sadar, dan bahkan mereka malah membantu untuk mengungkap jaringan-jaringannya. Banyak dari mereka menjadi damai kembali, dan mengajak rekan lain untuk juga kembali damai.

Saya jadi teringat foto Pak Umar Patek saat tersenyum setelah menjadi Paskibra waktu 17 Agustusan di penjara. Dulu kepala beliau berharga 1 juta dollar. Ditangkap di Abottabad, hanya 1.5 jam dari tempat saya kuliah dan di ekstradisi ke Indonesia. There is always goodness in people and we must believe in this!

Umar Patek Taubat jadi Teroris

Rekan kita di Kepolisian telah menunjukkan kesabaran dan kebaikan saat pemboman di Polrestabes. Anak pelaku yang masih hidup langsung digendong lari untuk diselamatkan oleh seorang Polisi padahal rekannya baru saja menjadi korban orang tua si anak tersebut.

Lagi -lagi kita harus bersikap adil. bahwa yang salah tetap harus menerima konsekuensinya. Mungkin Islamophobia adalah hukuman bagi kita karena belum maksimal memberi peringatan dan mendakwahi saudara-saudara kita. Namun tentu kita dapat memperbaikinya daripada mengeluh di media sosial sambil merasa paling di dzalimi, alangkah baiknya kita tunjukkan bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih dan damai. Pelaku Islamophobia akan berhenti sendiri dengan damainya umat muslim di Indonesia.

Pasca-aksi teror di Indonesia pekan terakhir ini, akan muncul banyak kontroversi. Mulai dari yang koar-koar bahwa hal tersebut adalah settingan sampai munculnya berbagai teori konspirasi. Silahkan berdiskusi, selama itu baik dan tidak melukai hati yang lain. Jangan malah menimbulkan psychological terrorism dengan pemojokan-pemojokan dan bullying satu sama lain. Penghormatan kepada para korban dilakukan dengan tidak membagikan foto korban di media sosial. Selain mendoakan, paling tidak itulah hal yang bisa kita lakukan.

Adanya peningkatan kewaspadaan mungkin akan menimbulkan gesekan kecil seakan Islamophobia dan dianggap diskriminasi terhadap umat Islam. Itu juga jangan di-share. Kenapa? Bagi kita mungkin akan membuat marah dan ingin berkata kasar, tetapi bagi mereka yang telah terpapar radikalisme hal ini justru akan menjadi motivasi bagi mereka untuk kembali melakukan pengeboman. Perasaan dizalimi dan merasa diserang tersebut dapat menjadi pemantik untuk melakukan aksi teror. Mereka akan semakin beranggapan bahwa “Polisi brengsek!” Padahal mereka menjalankan tugas dan sadar bahwa mereka adalah sasaran. Fenomena ini juga pernah diutarakan oleh Pak Clark McCauley dalam “Psychological Issues in Understanding Terrorism and the Response to Terrorism”.

Bayangkan bagaimana rasanya mengemban tugas menjadi aparat keamanan yang bertugas untuk mengamankan sekaligus menjadi sasaran? Saya memiliki teman dari Brimob yang juga muslim taat dan pusing dengan dilema macam ini. Ingat, selain tempat ibadah umat agama lain, polisi juga menjadi sasaran utama. Pengalaman hampir empat tahun di negara yang familiar dengan bombing dan kewaspadaan tingkat tinggi, memang begitu precaution measurement dalam counter terrorism.

Disana penuh dengan kecurigaan. Memang betul bahwa aksi teror mereka yang tidak bertanggung jawablah yang mengakibatkan adanya diskriminasi dan Islamophobia seperti itu, namun jangan lupa juga bahwa proyeksi yang menunjukkan Islam di diskriminasi adalah bahan bakar para teroris tersebut untuk bertindak kurang ajar terhadap kedamaian yang terus kita pupuk dan kita rawat. Ini adalah lingkaran setan, mari kita stop lingkaran tadi di ujung jempol jempol kita.

Ini adalah masa-masa penting bagi kita semua. Sikap dan tindakan kita akan menjadi bentuk follow up terhadap kejadian yang telah berlalu. Apakah akan menjadi upaya menuju kerukunan yang damai dan harmonis dalam bentuk persatuan dan kekuatan melawan terorisme? Ataukah justru menjadi arena debat tak berkesudahan yang malah semakin memecah belah? Tombol pemicu dan pelatuknya ada di genggaman masing-masing.

Stay alert, be wise!

Saudara kalian dalam kemanusiaan,
Ridwan Miftakhul Rochman
Prodi Damai dan Resolusi Konflik
Fakultas Keamanan Nasional-Universitas Pertahanan

Facebook Comments

About Redaksi Ruang Rakyat

RuangRakyat memberikan ruang bagi kamu yang ingin menuangkan gagasan ke seluruh rakyat Indonesia.