This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Sampah Laut Yang Kian Mengancam Dunia

Sampah Laut Yang Kian Mengancam Dunia

Beberapa tahun terakhir ini, istilah marine debris kerap muncul meramaikan daftar permasalahan lingkungan yang terjadi di dunia. Marine debris umumnya dapat teramati di lautan. Sampah memasuki lautan, berasal dari sumber daratan, kapal dan instalasi lain di laut, dari sumber suatu titik dan sebaran, serta dapat melakukan perjalanan jarak jauh sebelum terdampar.

Dalam laporan World Economic Forum (2016) diperkirakan bahwa pada tahun 2050, di seluruh lautan akan lebih banyak jumlah sampah plastik daripada jumlah ikan yang hidup di dalamnya. Azaria et al. (2012) memperkirakan produksi sampah plastik di Indonesia pada tahun 2012 mencapai 5,4 juta ton per tahun atau 14% dari total produksi sampah Indonesia. Jumlah ini juga diperkirakan semakin meningkat di masa yang akan datang.

Sekitar 80%  marine debris plastik berasal dari sumber di daratan dan meliputi barang seperti tas kresek, tutup botol, bahan kemasan, gelas plastik, serta peralatan makan dan minum. Lebih dari 80% sampah plastik dan bahkan peralatan memancing serta wadah makanan dan minuman kemudian terdampar di pantai.

Jika melihat geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dan berada pada jalur arus dunia, marine debris berasal dari dua sumber yakni aktivitas manusia yang membuang langsung ke laut atau dibawa oleh sungai, dan yang kedua adalah sampah dari negara lain dibawa oleh arus dunia dan terjebak di perairan Indonesia. Dengan sistem arus terbuka, maka kita juga setidaknya sebagai penyumbang sampah ke Samudera Hindia, yakni melalui Arus Lintas Indonesia dan Arus Khatulistiwa Selatan. Arus-arus ini membawa sampah dan materinya melewati berbagai propinsi di Indonesia terutama di wilayah timur.

Marine debris menjadi salah satu isu penting yang diperhatikan negara-negara di dunia. Hal ini karena marine debris menjadi ancaman terbesar bagi spesies laut dan ekosistem laut yang rentan. Akumulasi sampah plastik di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil akan membahayakan ekosistem yang ada seiring semakin banyak organisme laut yang terancam keberadaanya karena mengira sampah plastik sebagai makanan. Sampah plastik yang dimakan oleh berbagai jenis organisme laut, salah satunya menyebabkan peningkatan kandungan polychlorinated biphenyls (PCBs) dalam rantai makanan di lautan (Derraik, 2012).

Tak berhenti di situ, marine debris (dengan frekuensi kejadian yang tak dapat dihitung dan teramati) juga telah menyebabkan hewan yang hidup di lautan terjebak atau terjerat dalam sampah laut seperti alat tangkap yang hilang, jaring, tali, kemasan plastik, dan sejenisnya. Secara umum, anjing laut, singa laut, dan walrus menjadi hewan-hewan yang sangat rentan terhadap belitan marine debris (Butterworth, 2016).

Oleh karena itu, dampak marine debris sangat perlu dipertimbangkan dalam konteks keamanan pangan dan perikanan berkelanjutan. Potensi untuk mikroplastik mengkontaminasi makanan yang manusia makan juga merupakan ancaman terhadap keamanan pangan, khususnya di daerah pesisir di mana ikan dan makanan laut lainnya produk dianggap sebagai sumber makanan pokok.

Facebook Comments