This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Seberapa Kuat Militer Indonesia di Mata Dunia ?

Seberapa Kuat Militer Indonesia di Mata Dunia ?

Bogor, RuangRakyat – Sudah menjadi rahasia umum bahwa kekuatan pertahanan militer Indonesia cukup disegani di dunia. Hal ini dapat dilihat dari prestasi-prestasi yang ditorehkan prajurit TNI di kancah internasional dalam beberapa ajang kompetisi. TNI AD dalam lomba tembak antar angkatan darat bersama 20 negara lainnya yang digelar oleh Royal Australian Army menjadi juara umum sejak tahun 2008 hingga tahun 2016. Lomba ini juga menujukkan bahwa senjata buatan dalam negeri yang di suplai PT. Pindad tidak kalah hebat dari senjata produksi perusahaan senjata negara lainnya. Di sisi lain, pasukan khusus TNI seperti KOPASSUS juga disegani salah satunya dengan tugas perang rahasia ”Clandestine Operation”.

Senjata Buatan PT. Pindad

Hal itu hanya segelintir fakta tentang kekuatan TNI yang telah diketahui publik. Namun, dalam menakar kekuatan pertahanan militer Indonesia butuh indikator dan parameter yang lebih dari sekedar prestasi. Diolah dari Global Firepower (GFP), di tahun 2016 kekuatan militer Indonesia menduduki peringkat ke-14 dari 126 negara. Dalam peringkat ini Indonesia menjadi negara paling kuat di kawasan Asia Tenggara. Sementara negara-negara Asia Tenggara lain seperti ; Vietnam berada di peringkat ke-17, Thailand ke-20, Filifina ke-51, dan Singapur ke-64.

Meski begitu Indonesia masih kalah dengan India yang menduduki peringkat ke-4. Peringkat ini tidak dinilai berdasarkan kekuatan persenjataan militer atau ALUTSISTA saja, melainkan atas beberapa faktor lain diantaranya faktor geografis, fleksibilitas logistik, sumber daya alam (SDA), industri lokal, dan man power atau populasi. Sedangkan untuk kekuatan nuklir sebuah negara tidak menjadi perhitungan dalam menakar kekuatan militer namun menjadi pertimbangan lain. Selain itu faktor tambahan yang menjadi cukup menentukan adalah keanggotaan di dalam NATO, sebab keanggotaan NATO secara langsung memungkinkan negara-negara berbagi kekuatan dalam pertahanan militer.

Kapal Induk AS

Dalam sumber data militer lain, dikutip dari Bussiness Insider (tahun 2016) ada 20 negara dengan militer terkuat. Faktor yang menjadi pertimbangan kekuatan militer dapat dibagi menjadi beberapa persentase indikator yaitu;

  • Jumlah personel aktif  ( 5%)
  • Persediaan bahan bakar (tangki) (10%)
  • Helikopter tempur (15%)
  • Pesawat terbang (20%)
  • Kapal induk (25%)
  • Kapal selam (25%)

Faktanya dari kedua puluh negara tersebut Indonesia menempati posisi ke-19 dengan rincian sebagai berikut ; anggaran militer sebesar 6.9 juta USD , personel aktif sejumlah 476.000, tangki sejumlah 468, total pesawat terbang 405, dan 2 kapal selam.  Sedangkan posisi utama yang ditempati Amerika Serikat (AS) dengan rincian yang sangat jauh berbeda dari Indonesia, yaitu; anggaran militer sebesar 601 juta USD, personel jumlah 1.400.000, tangki sebanyak 8.848, total pesawat terbang 13.892 dan 72 kapal selam.

Jika diurutkan dari peringkat tertinggi, kedua puluh negara yaitu; AS, Rusia, Cina, Jepang, India, Perancis, Korea Selatan, Italia, Inggris, Turki, Pakistan, Mesir, Israel, Australia, Thailand, Poland, Jerman, Indonesia, dan Kanada. Menariknya adalah Thailand yang juga bagian dari ASEAN menduduki peringkat ke-16, artinya dalam survey ini Thailand ditempatkan lebih tinggi dari Indonesia. Dimana anggaran militer negara gajah tersebut sebesar 5.39 juta USD, jumlah personel aktif 306.000 jiwa, tangki sebanyak 722, total pesawat terbang 573 dan tidak memiliki kapal selam. Dari perbandingan itu terlihat Thailand hanya unggul dari jumlah ketersediaan tangki.

Walaupun Indonesia menerapkan Minimun Essential Forces dalam membekali kekuatan pertahanan militer, namun dari hasil survei yang dilakukan agensi tersebut dapat menjadi referensi untuk menakar kekuatan militer Indonesia dalam menjaga kedaulatan negara. Tantangannya, cukupkah hal tersebu menjadi tombak pertahanan Indonesia dalam menghadapi berbagai ancaman!?

Facebook Comments

About Renni N. S Gumay

Seorang akademisi yang memiliki minat dalam jurnalistik dan tertarik pada isu politik, keamanan, pertahanan dan kemanusiaan.