This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Sepenggal Kisah Penyintas Tsunami Selat Sunda

Sepenggal Kisah Penyintas Tsunami Selat Sunda

Mari berdoa untuk saudara Kita disana karena Hari ini 25 Desember 2018 infonya air kembali Naik dan kepanikan kembali terjadi.. Berikut secuil kisah yang tidak seberapa mengerikan dibanding para korban lain.. Kala tsunami krakatau 22 Desember 2018,

Hari itu kami berenam yang merupakan rekan kerja pada perusahaan konsultan IT PT. sasuso sedang berlibur di kec. Sumur, Pandeglang..

Singkat cerita pada malam Hari saat tsunami 4 teman kami sedang beristirahat di penginapan, sementara kami dan 1 teman kami berjalan ke dermaga kecil itu untuk memancing.. Sekitar pukul 9, listrik mati kami berdua berada di pasar malem (korsel) dan kami berdua masih terus melanjutkan langkah mencari lokasi untuk memancing..

lokasi memancing

Tibalah kami pada dermaga kecil itu, dengan langkah hati hati memilih batu yang tidak bergoyang karena remukan batu untuk menuju ke Ujung dermaga.. Lemparan pancing pertama dilemparkan teman Saya, kami mendengar suara gemuruh lirih dan melihat ke laut seperti ombak yang besar.. saya berkata ‘kok ombaknya gede banget ya?’.. setelah itu teman kami menarik pancingnya.. kemudian Saya melanjutkan ‘kok kayak tsunami ya?’, seketika itu teman kami melihat kapal ikut terangkat pada gelombang itu.. seraya kami menyadari bahwa itu bukan hanya gelombang ombak besar, melainkan gelombang tsunami..

Kami melihat gelombang itu menabrak pulau pulau di depan kami (yang berjarak sekitar 1 km dari kami) dengan tinggi sekitar 5 – 7 cm (setinggi telunjuk).. Seketika kamir berlari bak ninja meloncati batu batu tadi dan terus berlari tanpa tau arah dan tanpa tau dmna daerah tinggi.. kami lari mengikuti motor motor yang memacu motornya untuk masuk gang.. namun ternyata kami berhadapan dengan jalan buntu, dinding bata setingfi 2,5 m an.. kami sudah berfikir ‘aduh.. gw bisa manjat gak ni’.. seraya terus berdzikir, melihat 2 lelaki yang naik motor itu manjat 3 kali gak berhasil, akan tetapi dinding bata itu atasnya menjadi sedikit ambrol, menjadi sekitar 2 meter.. langsung kami manjat dengan perut yang besar ini seakan berasa enteng bak ninja tadi.

Teman kami melemparkan joran dan sendal selopnya karena perih pasir di kakinya.. di atas dinding kami berdua sempat terhenti sejenak dan terbesit untuk menaiki atap rumah rhino villa di sebelah kami.. namun kami urungkan niat itu melihat bangunan rumah yang semi permanen itu.. kami kemudian turun dan melanjutkan berlari tanpa tahu arah kami berlari.. seketika itu kami mendengar suara dentuman air seakan akan menimpa kami, mungkin itulah saatnya gelombang sampai di daratan menabrak beton dan dermaga tadi..

Kami hanya terus berlari mengikuti arus warga yang berlari.. tibalah kami berhadapan dengan hutan yang tapak demi tapaknya merupakan tanjakan.. sedikit merasakan lega dengan terus berlari.. ternyata hutan tersebut merupakan bukit.. kemudian kami berbagi sendal untuk masing masing satu dan melanjutkan perjalanan.. kami selamat di bukit itu, kemudian meminta bantuan warga untuk air minum dan sendal untuk teman kami..

Karena kami melihat handphone terdapat sinyal, maka kami segera menghubungi teman kami yang berempat pada saat kami berada di tanjakan hutan.. ternyata mereka pada saat mati listrik, salah satu dari mereka melihat sekring dan mendengar motor masuk ke gang penginapan dengan bertiak ‘Ombak’.. Dia pun memanggil teman yang lain dan berempat berlari mengikuti warga menaiki bukit

Mobil Bima 50M dari bibir pantai

Singkat cerita, keadaan mulai tenang dan kami berkoordinasi untuk bertemu di penginapan dan melihat kondisi kendaraan kami.. ajaibnya kendaraan aman dan penginapan yang sekitar 50m dari garis pantai itu pun utuh, sementara sekitarannya porak poranda, sehingga kami dapat melihat bekas pasar malam dan lautan dari penginapan.. karena akses jalan kendaraan kami tertutup, maka kami putuskan untuk melanjutkan berjalan menaiki bukit tempat kawan kami berempat tadi menyelamatkan diri.. sepanjang perjalanan ternyata terdapat rumah warga yang berada pada bukit, dan kami pun bermalam di rumah warga..

Malam itu walaupun sudah sedikit tenang, suasana masih sangat mencekam.. hujan yang disertai angin tiba tiba melanda.. saatnya semuanya beristirahat, kami pun diseduhkan segelas kopi lampung dan berbincang dengan tuan rumah hingga subuh.. saat itu krakatau terus berbatuk memberikan dentumannya.. kemudian saat kondisi sudah terang kami pun turun melihat kondisi jalan yang ternyata sudah bisa dilewati.. kemudian kami cek kendaraan yang ternyata masih berfungsi dengan baik, dan langsung melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta karena bahaya krakatau jelas masih mengintai.. kami memilih jalan memutar yang menghindari pantai hangga malam sampai di Jakarta..

Begitulah singkat cerita lolosnya kami dari maut Tsunami.. kami menuliskan cerita disini tentu paling utama agar kami mengingat kejadian ini terus menerus agar berdampak pada pribadi kami sendiri.. jika dibaca kalian, semoga dapat memberikan gambaran kondisi ancaman Tsunami Krakatau ini dari secuil perspektif kami..

 

Ditulis Oleh Bima, Alumni Studi Industri Pertahanan Universitas Pertahanan

Facebook Comments

About Redaksi Ruang Rakyat

RuangRakyat memberikan ruang bagi kamu yang ingin menuangkan gagasan ke seluruh rakyat Indonesia.