This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Suriah Kembali Memanas Pasca AS Kirim Kapal Perang

Suriah Kembali Memanas Pasca AS Kirim Kapal Perang

Luka Suriah yang masih menganga karena terus dicabik oleh serangan dari dalam dan luar negeri akan kembali bertambah. Pasalnya, Amerika Serikat (AS) telah mengirimkan Kapal Induk bertenaga nuklir USS Harry S Truman beserta 5 kapal perang pendamping diantaranya USS Normandy, USS Arleigh Burke, USS Bulkeley, USS Forrest Sherman dan USS Farragut ke wilayah timur Laut Tengah untuk mempersiapkan serangan besar-besaran ke Suriah. Bahkan, dua kapal perusak yaitu USS Jason Dunham dan USS The Sullivan dikabarkan oleh Angkatan Laut AS juga akan menyusul rombongan kapal tersebut.

Juru bicara Gedung Putih, Sarah Huckabee Sanders, menjelaskan bahwa Presiden Trump mengambil tindakan militer pengiriman kapal perang AS ke perairan Suriah yang dijadwalkan akan tiba pada awal bulan Mei 2018, dikarenakan Rusia dan Damaskus harus bertanggung jawab atas insiden serangan senjata kimia di Kota Douma, Suriah, yang menewaskan 70 orang. Meskipun, hal ini dibantah keras oleh Rusia.

Rusia menepis segala tuduhan yang diberikan oleh Trump tersebut dengan dalih, bahwa jika benar memang ada, serangan tersebut pastilah datang dari LSM White Helmet dan kelompok Jaish Al-Islam yang didukung oleh Barat agar mempermudah Barat melakukan penyerangan ke rezim Presiden Bashar al-Assad.

Kegaduhan di Dewan Keamanan (DK) PBB

Setelah mengirim kapal perangnya, AS bersama Inggris, Perancis dan enam negara anggota tidak tetap DK PBB meminta diadakan pertemuan darurat di Markas Besar PBB dengan dalih melindungi rakyat Suriah. AS bahkan mengajukan dibuatnya resolusi penyelidikan PBB di Suriah terhadap penggunaan senjata kimia oleh Suriah dan Rusia. Tetapi, Rusia memperingatkan bahwa apapun tindakan militer AS dan sekutunya dalam menanggapi tuduhan tersebut akan berakibat buruk dan Rusia siap melakukan Veto di forum PBB.

Dengan perbedaan pendapat dan sikap yang terjadi di DK PBB mengamini kenyataan yang telah diyakini selama ini bahwa PBB tidak dapat memainkan peran penting dalam penghentian perang dan menjaga perdamaian di dunia karena hanya akan dianulir oleh kekuatan besar pemilik hak veto yang membawa kepentingan masing-masing, terlebih anggota tetap DK PBB tersebut memiliki keterlibatan dan kepentingan besar dalam konflik yang terjadi, meskipun Sekjen PBB, Antonio Guterres dalam pidatonya menyatakan agar semua pihak dapat menahan diri.

Intervensi Terbesar Negara Barat: AS, Inggris dan Perancis Bersatu Tembakkan Ratusan Rudal ke Suriah

Upaya menepis tuduhan Trump atas serangan senjata kimia oleh Rusia dilakukan dengan mendatangkan para ahli Rusia dan pakar kimia internasional yaitu Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) arau Organisasi Pelarangan Senjata Kimia, untuk mencari fakta dan menyelidiki klaim penggunaan senjata kimia di Douma. Tetapi, para ahli Rusia yang berada di lokasi serangan mengklaim tidak menemukan bukti penggunaan senjata kimia. Sedangkan OPCW masih berada pada tahap analisis awal.

Namun, belum selesainya tugas dari OPCW dilakukan, AS bersama Inggris dan Perancis  menembakkan 105 Rudal dari Perairan Mediterania ke Suriah. Hal ini sejalan dengan peringatan Trump akan melakukan tindakan besar dalam 24-48 jam setelah Rusia menolak dibuatnya Resolusi penyelidikan oleh PBB di Suriah melalui Hak Veto.

AS bersama Inggris dan Perancis bersatu dengan tujuan menghentikan Presiden Bashar al-Assad untuk menggunakan senjata kimia yang dituduh telah digunakannya sebanyak 55 kali. Bahkan, Donald Trump dalam pidato kenegaraannya menyampaikan bahwa segala serangan yang diluncurkan ke Suriah untuk merespons segala tindakan Bashar al-Assad yang terus bereskalasi dalam penggunaan senjata kimia untuk membantai warga sipil yang tidak bersalah. Tetapi, hal ini di tepis Rusia, bahwa tindakan intervensi militer ini hanyalah justifikasi dari AS untuk menyerang dan menjatuhkan rezim Presiden Bashar al-Assad.

Pada serangan ini, sejarah mencatat bahwa serangan rudal dari AS, Inggris dan Perancis ke Suriah merupakan serangan dari intervensi militer terbesar setelah intervensi militer ke Iraq.

 

Penulis : Rida Fauzia Qinvi

Facebook Comments

About Rida Fauzia Qinvi

Master of Defense - Defense Diplomacy at Indonesia Defense University