This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Swing Voters dan Kriteria Pemimpin Ideal

Swing Voters dan Kriteria Pemimpin Ideal

 

Suara-suara yang belum menentukan pilihan itu pasti ada dalam berbagai lembaga survei dan praktiknya memang begitu, itu yang akan menjadi titik garap kita secara politik. Dari berbagai lembaga survei kelompok yang belum menentukan pilihan (belum tahu/rahasia) masih relatif tinggi yaitu berkisar 20 persen.

Angka swing voters mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Dimulai dari 7,3 persen pada Pemilu 1999, 15,9 persen pada Pemilu 2004, 21,8 persen pada Pilpres putaran I tahun 2005, dan 23,4 persen pada Pilpres putaran II tahun 2005.

Sedangkan pada Pileg 2009 terdapat 29,3 persen golput, sebanyak 28,3 persen pada Pilpres 2009, 24,8 persen pada Pileg 2014, dan 29,1 persen pada Pilpres 2014.

Swing voters biasanya terjadi karena belum memiliki pilihan atau sudah memiliki pilihan tapi masih menimbang-nimbang. Bahkan, swing voters bisa saja baru menentukan pilihannya sesaat sebelum memasuki bilik suara.

Pengamat politik LIPI, Siti Zuhro, mengatakan bahwa Pemilu 2019 sangat bergantung pada performa partai politik, terlebih mengingat Pileg dan Pilpres yang dilakukan berbarengan.

Faktor kepemimpinan disinyalir merupakan salah satu faktor yang akan menentukan pemenangan pilpres 2019 ini.

Kriteria Pemimpin Ideal Indonesia

Adapun yang diinginkan masyarakat dalam kepemimpinan 2019 adalah kepemimpinan yang kuat di tiga aspek, antara lain aspek ekonomi, pemerintahan yang bersih dan pemerintah yang mengutamakan Hak Asasi Manusia.

Survei menunjukkan 80,7% masyarakat menginginkan pertumbuhan ekonomi, 75,5% menginkan pemerintahan yang bersih dan 67,5% masyarakat menginginkan pemerintah yang menjalankan hak asasi manusia.

Adapun pemerintah yang kuat menurut masyarakat adalah jika Presiden di dukung oleh mayoritas DPR, pelaku bisnis/dunia usaha baik dalam dan luar negeri serta mampu
mengendalikan aparat hukum dan keamanan.

Selanjutnya sebagai negara yang mayoritasnya beragama Islam, masyarakat juga berharap kepemimpinan permerintah 2019 adalah didukung oleh pemuka agama yang berpengaruh.

Selama menjalankan pemerintahan, kinerja Jokowi membawa perubahan untuk Indonesia. Mulai dari pembangunan infrastruktur hingga gebrakan-gebrakan signifikan untuk kesejahteraan masyarakat hingga ke pelosok desa. Namun disisi lain masih banyak kekurangan dalam beberapa bidang yang menjadi poin plus penantang untuk melakukan koreksi terhadap suara petahana.

 

Seperti program dana desa hingga tahun 2018 Jokowi telah menggelontorkan 180 triliun rupiah untuk program desa. Dana tersebut diturunkan dalam tiga tahap, yaitu 20 Triliun pada tahun 2015, 40 Triliun pada tahun 2016, 40 triliun pada tahun 2017 dan 60 Triliun pada tahun 2018 ini.  Anggaran sebanyak ini apa sudah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh wong cilik di desa-desa terutama dalam pertanian jadi pertanyaan yang berujung pada perolehan suara.

 

 

 

 

Facebook Comments

About Redaksi Ruang Rakyat

RuangRakyat memberikan ruang bagi kamu yang ingin menuangkan gagasan ke seluruh rakyat Indonesia.