This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Tinjauan Film Akhir Tahun 2018, DC Aquaman: Ketika Makhluk Laut Protes Kepada Manusia

Tinjauan Film Akhir Tahun 2018, DC Aquaman: Ketika Makhluk Laut Protes Kepada Manusia

Menjelang liburan akhir tahun 2018, tanah air akan dihibur dengan banyaknya film-film spesial akhir tahun yang akan menghiasi jagad perfilman. Seperti biasa, terdapat kontestasi antara film-film dalam negeri dengan film-film luar negeri.

Di akhir tahun ini, perfilman Indonesia masih setia diisi oleh film-film bergenre drama, meskipun aliran dramanya berbeda-beda. Ada spin-off dari semesta “AADC”—film Milly & Mamet—karya Ernest Prakasa dan film “Sesuai Aplikasi” yang mengisi di genre drama komedi.

Ada film yang terinspirasi dari lagu Band Armada berjudul “Asal Kau Bahagia” yang dibintangi oleh sang serigala ganteng, Aliando Syarief. Dan tidak ketinggalan film drama horor “Silam” yang merupakan adaptasi dari novel karya Risa Saraswati. Untuk film Mlly & Mamet dan Sesuai Aplikasi, keduanya terdapat peran dari seorang Ernest Prakasa, standup comedian yang namanya melambung di belantika sinema Indonesia setelah membuat dan membintangi film berjudul “Ngenest (2015)”, adaptasi dari novel komedinya. Melejitnya film “Ngenest” bagi saya tidak terlepas dari isu multikultural yang dibawa dalam ceritanya, ketika di tahun perilisan film tersebut tanah air sedang diguncang fenomena menguatnya politik identitas sebagian masyarakat Muslim karena adanya sosok Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok—seorang cina peranakan—yang menjadi Gubernur DKI Jakarta. Ernest kemudian dikenal sebagai salah satu penulis dan sutradara yang concern membahas sisi multikultur yang ada di masyarakat Indonesia

 

film Indonesia 2018

Di dalam arena film spesial akhir tahun, film-film Indonesia juga “digempur” oleh hadirnya beberapa film fantasi produksi Hollywood, sebut saja Mortal Engines, Into the Spiderverse, Aquaman, dan Bumblebee. Mortal Engines digarap oleh Peter Jackson yang kita kenal sebagai sutradara trilogi film Lord of the Rings dan The Hobbit.

Bumblebee merupakan spin-off dari film Transformers, menceritakan tentang pendaratan perdana si robot kuning imut teman Optimus Prime ini. Kemudian ada film Into the Spiderverse dan Aquaman yang merupakan film adaptasi komik dari dua perusahaan komik besar Amerika Serikat, Into the Spiderverse dari Marvel Comic dan Aquaman dari DC Comic.

Baik Into the Spiderverse maupun Aquaman, pemeran utamanya bukanlah aktor berkulit putih. Seakan itu menjadi nilai lebih dalam mempromosikan film ini, karena fakta membuktikan bahwa film Black Panther yang didominasi oleh aktor berkulit hitam pun bisa menjadi box office Hollywood.

Lihat : http://pmb.lipi.go.id/era-baru-hollywood-angin-segar-bagi-kelompok-minoritas/

 

Menarik jika kita membahas film Aquaman lebih dalam. Kenapa? Karena bisa dibilang DC mengeluarkan taruhan besar dalam memproduksi film ini.

Sejak Marvel Comic melebur dengan Marvel Studio di bawah naungan perusahaan film Disney dan merilis film The Avengers (2012) yang booming, Marvel seakan memiliki jaminan dalam menghasilkan setiap franchise film-film adaptasi komiknya.

Dan benar saja, setiap film yang dibuat Marvel berhasil meraup keuntungan ratusan juta hingga miliaran dolar hanya dalam waktu seminggu setelah premier perilisan. Marvel menggunakan metode “it’s all connected” dan “easter egg” pada setiap film Marvel yang ternyata bisa menarik rasa penasaran penonton untuk mengikuti semesta alur cerita besar yang dibawa pada setiap filmnya.

Melihat adanya potensi pasar pada film bergenre adaptasi komik, DC mulai mengikuti langkah Marvel dalam menghasilkan semesta film yang saling terhubung satu sama lain. Sayangnya pada titik ini, DC sebagai saingan Marvel, mengalami kesulitan untuk mengejar dominasi genre film adaptasi komik sejak adanya trilogi Batman karya Christopher Nolan. Batman Begins (2005), The Dark Knight (2008), dan The Dark Knight Rises (2012) adalah film adaptasi karakter Batman yang telah diakui sebagai film adaptasi komik terbaik dan berhasil meraup keuntungan besar sebelum Marvel mendominasi pasaran. Lihainya Nolan dalam menggarap trilogi film Batman tersebut membuat Zack Snyder merasa tertantang dalam membuat film adaptasi karakter Superman dengan judul “Man of Steel (2013)”.

Man of Steel bisa dibilang cukup sukses di pasaran namun tidak bisa menyaingi trilogi Batman milik Nolan. Karena publik merasa Snyder membuat nuansa film Superman yang seharusnya ceria, penuh warna, dan menggunakan “celana dalam merah” di luar seperti di komik, menjadi bernuansa kelam dan serius persis nuansa triloginya Nolan.

Di tangan Nolan, kesan kelam dan gelap dalam trilogi Batman terasa begitu pas dan pantas, tetapi ketika sutradara lain mengikutinya, justru malah membuat pecinta film adaptasi komik menjadi tidak nyaman menontonnya. Apalagi tidak hanya Man of Steel yang mengikuti gaya gelap Nolan, film “Batman V Superman: Dawn of Justice (2016)” dan “Justice League (2017)” pun bernasib sama, karena keduanya dipegang oleh Snyder.

Batman V Superman adalah film yang sebenarnya sudah ditunggu-tunggu para penggemar komik karena di film itu Batman akhirnya bertemu dengan Superman. Terlebih lagi film Justice League yang notabene adalah film tempat berkumpulnya semua jagoan komik DC, seperti The Avengers. Tetapi lagi-lagi publik tidak memberikan apresiasi yang besar terhadap kedua film itu. Untung saja posisi film “Wonder Woman (2017)” sebagai film superhero perempuan pertama bisa menyelamatkan merosotnya pamor film-film DC. Di tengah kondisi DC yang dianggap kurang bersemangat untuk memproduksi film-film adaptasi komik, ada satu karakter jagoan DC yang memang sudah jauh-jauh direncanakan akan dibuat film solonya, yakni Aquaman.

Obrolan untuk membawa karakter Aquaman ke layar lebar sudah dimulai sejak tahun 2004 oleh pihak Warner Bros. Wacana itu berlanjut hingga tahun 2013 ketika Warner Bros merilis Man of Steel (The Hollywood Reporter, 2013). Pengembangan film Aquaman mengalami pasang surut sejalan dengan berbagai kritik yang datang kepada DC seperti yang disebutkan di atas. Pemilihan sutradara menjadi hal penting dan keputusan yang besar di industri perfilman.

Jika keputusan DC dianggap salah oleh publik, maka film Aquaman akan menjadi film “gagal” DC yang lainnya. Di tahun 2015, Warner Bros mengumumkan bahwa akan menggaet James Wan untuk menggarap Aquaman. James Wan adalah sutradara yang terkenal dengan film-film horornya, seperti Saw 1-7, Jigsaw, Insidious 1-3, The Conjuring 1-2, Annabelle 1-2, Light Out,  dan The Nun yang baru-baru ini heboh menghantui bioskop tanah air dengan karakter Valak yang terkenal. Semua film-film horornya sukses di pasaran. Tidak berhenti di film horor, James Wan pun merambah ke film action dan menggarap Furious 7, franchise ketujuh film The Fast and Furious yang juga sukses di pasaran global.

Mengetahui hal itu, publik tidak serta merta yakin bahwa James Wan bisa membawa Aquaman menjadi salah satu film penutup tahun 2018 yang patut diperhitungkan. Komentar-komentar miring pun bermunculan di dunia maya, biasanya paling banyak ditemukan di akun-akun media sosial yang memang khusus memposting informasi tentang superhero maupun di kolom komentar trailer-trailer film superhero di Youtube.

Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Aquaman dijadwalkan rilis secara global pada tanggal 12 Desember 2018 dan rilis di tanah Paman Sam pada tanggal 21 Desember 2018. Bagaimana reaksi publik penikmat film? Benar-benar diluar dugaan! Tidak salah bila dikatakan kalau Aquaman adalah ‘kuda hitam’ dari DC.

Seperti film Venom keluaran Marvel-Sony yang diragukan publik karena mengangkat kisah origin karakter Venom yang notabene adalah karakter jahat musuh Spider-man. Kritik-kritik tidak menyenangkan datang dari kritikus film Amerika Serikat, metascore di RottenTomatoes pun hanya 4.4/10. Namun karena banyaknya orang yang penasaran kenapa film Venom berating rendah, film Venom justru menarik banyak penonton dan berhasil meraup keuntungan besar serta menjadi box office (Deadline Hollywood, 2018) (Box Office Mojo, 2018).

Artinya, meski dari alur cerita Venom dinilai biasa saja tetapi dari segi industri, Venom berhasil “balik modal” untuk Sony Entertainment, dengan budget pembuatan sekitar 100 juta dolar dan pendapatan sebesar 850 juta dolar, Venom berhasil membuktikan diri sebagai film yang patut diperhitungkan dan mendapatkan sekuel.

Tidak terlalu beda dengan Venom, Aquaman juga mendapat sambutan yang luar biasa dari penikmat film. Pada minggu pertamanya, Aquaman berhasil meraup keuntungan 750 juta dolar secara global, mengalahkan Justice League yang hanya mendapatkan 657 juta dolar setelah beberapa minggu (The Warp, 2018).

Aquaman disebut-sebut sebagai penyelamat DC yang sudah kepalang tanggung disebut sebagai penghasil film superhero dengan gaya yang kaku. James Wan berhasil memanjakan mata para penikmat film dengan animasi mewah yang menggambarkan suasana Atlantis secara tajam.

Latar Film Aquaman

Tidak hanya itu, ada satu isu yang menarik yang dibawa di dalam film ini. Tanpa bermaksud menyebarkan spoiler, saya akan mengutip kalimat salah satu karakter dalam film ini yang kurang lebih seperti ini:

“Kenapa kita harus membiarkan manusia yang telah merusak lautan dan membunuh bangsa Atlantis..” – King Orm

Dilansir dari Indianaexpress, James Wan sendiri mengatakan bahwa Aquaman adalah superhero yang bisa membawa isu besar yang nyata, yakni polusi di lautan.

“It was something which was important for me from early on because i felt he was, for the first time, a superhero that can actually talk about the environment and the environment is such a big real life issue.. It is only getting worse, as we see climate change affecting all of us. So it just naturally and organically became a part of the story.”

Seperti yang diinginkan Wan, mengingat bahwa Aquaman bercerita tentang seorang superhero berdarah campuran antara dunia daratan dan lautan, maka film yang dibuatnya mau tidak mau akan memasukkan unsur realita kehidupan laut saat ini. Yang menarik adalah, Wan menjadikan karakter King Orm yang antagonis sebagai pemantik isu tersebut.

“You kind of understand why King Orm is angry at us for what we do at the surface and i think it gives it more texture.”

King Orm adalah adalah adik dari Aquaman, hasil perkawinan antara Ratu Atlantis dan Raja Atlantis. Sedangkan Aquaman sendiri yang bernama Arthur, adalah anak hasil dari perkawinan Ratu Atlantis dengan seorang penjaga mercusuar yang telah menyelamatkan nyawa Ratu Atlantis. Terjadinya hubungan “gelap” antara Ratu Atlantis dengan manusia biasa, membuat Ratu Atlantis dieksekusi secara adat.

Hal ini membuat King Orm membenci kakaknya dan menyalahkan eksistensi kakaknya yang menjadi penyebab ibunya dihukum. Ada satu scene di mana King Orm memberi peringatan kepada Aquaman bahwa dirinya akan menyerang penduduk daratan dengan mengirimkan kembali semua sampah-sampah dan polusi yang sudah puluhan tahun di dalam air ke daratan, termasuk bangkai-bangkai kapal yang pernah tenggelam. Adegan itu begitu terasa menyesakkan bagi saya, ketika belum lama ini ada peristiwa ditemukannya bangkai ikan paus di Wakatobi, dan didapati isi perutnya berisi hampir 6 kg sampah plastik.

Lihat: https://regional.kompas.com/read/2018/11/20/14571691/sampah-plastik-59-kg-ditemukan-dalam-perut-paus-yang-mati-di-wakatobi

Lihat: https://regional.kompas.com/read/2018/11/21/19073131/17-ton-sampah-plastik-ditemukan-di-sekitar-laut-tempat-paus-mati

Hal itu menjadi pukulan bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat yang kegiatan sehari-harinya bergerak di bidang lingkungan, terlebih lagi untuk pemerintah saat ini yang sedang menggalakkan poros maritim dunia.

Andaikan para penghuni laut bisa bicara, mungkin mereka akan memberi saran kepada Bapak Presiden bahwa sebelum menggapai cita-cita menjadi negara poros maritim dunia, maka ada baiknya negara membuat suatu kebijakan maupun program yang bisa secara nyata membuat masyarakat Indonesia sadar akan kondisi lautnya. Revolusi Mental Maritim!! Tentu yang akan menjadi perhatian utama negara adalah sektor industri yang menghasilkan limbah.

Pemerintah harus bisa memberikan peraturan yang tegas terhadap sektor industri, dari lini yang paling kecil seperti industri rumah tangga hingga lini terbesar seperti perusahaan multinasional, dalam hal pengelolaan hasil limbahnya agar tidak merusak alam. Setelah itu yang perlu dilakukan adalah revitalisasi sungai-sungai yang melewati pemukiman warga, sekaligus memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa sungai bukanlah tempat membuang limbah/kotoran, tetapi sumber kehidupan yang paling penting bagi ekosistem yang ada.

Bukankah sejak kecil kita diajarkan bahwa nenek moyang kita seorang pelaut? Artinya sejak dahulu masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang bergantung kepada dunia air untuk keperluan sehari-harinya. Sebelum budaya makan daging (sapi) masuk karena bangsa Belanda yang menularkan, bangsa kita adalah bangsa yang memakan lauk (ikan). Kebiasaan ini dilanjutkan oleh pemerintah hingga di periode Orde Baru, negara mengimpor sapi dari luar negeri—khususnya Australia, untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Akhirnya budaya makan ikan sungai dan ikan laut kita jadi terkikis. Pastinya banyak dari kita yang tahu bahwa mengonsumsi ikan sangatlah bermafaat. Namun karena sungai-sungai yang ada menjadi kotor, dangkal, dan jumlahnya berkurang akibat pembangunan, begitu pun wilayah pesisir yang tercemar akibat industri dan reklamasi, akhirnya masyarakat susah untuk mendapatkan sumber ikan yang bersih dan gratis.

 

Bahkan belum lama ini, Menteri KKP, Ibu Susi Pudjiastuti, yang selama ini dikenal sebagai sosok yang tegas dalam mengurusi illegal fishing, ternyata bisa mengizinkan dilaksanakannya reklamasi di Teluk Benoa, Bali. Lantas, bagaimana pemerintah masih bisa menggalakkan cita-cita menjadi ‘Poros Maritim Dunia’ ketika ada beberapa kebijakan pemerintah yang tidak mendukung kedaulatan laut kita?

Teringat ketika saya masih berkuliah, dosen saya menyampaikan apa yang pernah dikatakan oleh pakar maritim Indonesia/Asia, A.B. Lapian, bahwa selama laut masih dianggap sebagai pemisah pulau-pulau (bukan pemersatu), dan laut dianggap bagian terluar (bukan terdepan) dari kehidupan bermasyarakat, selama itu pula budaya maritim kita belum bisa menjadi kuat, sekuat zaman nenek moyang kita di masa dahulu. Maka dari itu, masyarakat kita saat ini perlu diajarkan kembali untuk menyelami budaya maritim pada masa lalu melalui pendidikan sejarah.

Selain itu, penopang sektor ekonomi kelautan kita, yakni para nelayan, harus diperhatikan kesejahteraannya. Bagi saya, membangun tanah air adalah membangun kesejahteraan untuk para petani (tanah) dan para nelayan (air) yang selama ini telah menghidupi bangsa dan negara tanpa menuntut sesuatu yang berarti. Harus kita bangun sarana dan prasarana yang menunjang bidang pertanian dan perairan melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan cara itu, kita telah berterima kasih kepada Ibu Pertiwi, dengan mengapresiasi jasa nelayan dan petani.

 

Ditulis Oleh : Muhammad Luthfi – PMB LIPI

Facebook Comments

About Redaksi Ruang Rakyat

RuangRakyat memberikan ruang bagi kamu yang ingin menuangkan gagasan ke seluruh rakyat Indonesia.