This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Transformasi Ajaran “Ma Lima” dari Aliran Tantra Hindu ke Islam di Jawa

Transformasi Ajaran “Ma Lima” dari Aliran Tantra Hindu ke Islam di Jawa

A. Masuknya Islam ke Nusantara dan Pergeseran Makna Istilah-istilah Hindu Buddha

Bagi saya, salah satu periode yang menarik dalam sejarah Indonesia adalah saat-saat pertama kalinya Islam berkembang di Nusantara.

Mengapa? Karena mereka yang telah mempelajari tentang seluk beluk peradaban Hindu Buddha di Nusantara akan memahami bahwa selama 1 millenium Hindu Buddha berada di Nusantara (bila sejarah Hindu Buddha di Nusantara dianggap dimulai dari saat penulisan prasasti Kutai di abad ke-5 hingga runtuhnya Majapahit di abad ke-15 ), nafas Hindu Buddha telah merasuk ke berbagai aspek kehidupan di masyarakat, mulai dari bahasa, arsitektur, tata busana hingga ke tradisi-tradisi.

Sulit membayangkan, apalagi bila kita hidup di masa keemasan era Hindu Buddha di Nusantara, bahwa masyarakat yang beragama Hindu Buddha itu di kemudian hari secara berbondong-bondong akan berpindah ke keyakinan baru yang memiliki corak amat berbeda dengan keyakinan sebelumnya. Dipeluknya Islam oleh mayoritas bangsa Indonesia seperti saat ini, dari aspek kesejarahan, menurut hemat saya, adalah sebuah pencapaian yang luar biasa karena sama sekali tidak melibatkan invasi oleh suku bangsa awal yang membawa agama tersebut.

Pencapaian tersebut, menurut saya, selain disebabkan oleh kemajuan ekonomi dan militer kesultanan-kesultanan Islam awal di Nusantara, juga turut disebabkan oleh ketepatan strategi pewartaan Islam di Nusantara.

Yang saya perhatikan, para pendakwah pertama Islam di Nusantara memahami betul bahwa masyarakat yang mereka ingin rangkul telah memiliki tradisinya sendiri yang sebagian besar dipengaruhi oleh kepercayaan mereka dan berbeda dengan kepercayaan yang dibawa oleh para pendakwah ini.

Untuk memperkenalkan kepercayaan baru ini, para pendakwah menggunakan tradisi yang sudah ada di masyarakat. Termasuk, untuk memperkenalkan inti-inti ajaran dari kepercayaan baru yang dibawa, para pendakwah pun menggunakan istilah-istilah dari agama yang telah dipeluk oleh masyarakat.

Kata-kata seperti “sembahyang”, “puasa”, “pahala”, “dosa”, “surga”, “bidadari”, ataupun “neraka” yang tadinya berasal dari Hindu Buddha dan telah memiliki maknanya sendiri kini digunakan pula untuk menjelaskan konsep-konsep yang dimiliki Islam dan mengalami pergeseran makna. Tujuan dari semua ini tak lain adalah agar masyarakat tidak kaget dengan keyakinan baru yang dibawa dan merasa bahwa keyakinan baru ini tidak terasa asing buat mereka.

Diantara pergeseran makna ini terjadi pada ajaran “Ma Lima” (disebut juga “Mo Limo”) yang kini dikenal luas oleh orang-orang Islam Jawa, namun sedikit diketahui bahwa sesungguhnya ajaran ini sebelumnya berasal dari Hindu Buddha, khususnya aliran Tantrayana.

B. Mengenal Tantrayana dan Ajaran “Ma Lima”

Agama Hindu dan Buddha meyakini bahwa selama manusia lekat dengan kebodohan dan hawa nafsunya, ia akan terus menerus terlahir ke dunia ini setelah kematiannya (reinkarnasi) dan mengalami kesengsaraan-kesengsaraan yang merupakan ciri utama kehidupan di dunia ini.

Tujuan yang harus dicapai oleh manusia menurut agama Hindu dan Buddha adalah lepas dari segala kemelekatan supaya manusia tersebut bisa moksha/menyatu dengan Tuhan (dalam agama Hindu) atau mencapai Nirvana (dalam agama Buddha) setelah kematiannya dan tidak terlahir lagi ke dunia ini.

Baik agama Hindu dan Buddha menawarkan caranya masing-masing supaya manusia bisa lepas dari segala kemelekatan, meskipun cara-cara yang ditawarkan kedua agama tersebut pada dasarnya sama-sama berlandaskan pada pengendalian dan pengenyahan hawa nafsu.

Meski demikian, dari sekian banyak aliran dalam agama Hindu dan Buddha, ada aliran yang meyakini bahwa manusia tidak perlu menunggu mati dulu untuk mencapai moksha/Nirvana. Moksha/Nirvana telah dapat dicapai sejak manusia berada di dunia ini bila manusia tersebut menjalankan praktek-praktek tertentu yang umumnya melibatkan aktivitas fisik. Aliran yang meyakini hal tersebut adalah Tantrayana.

Secara garis besar, Tantrayana dapat dibagi dua, yaitu yang moderat (disebut juga “daksinacarin”) dan ekstrim (disebut juga “vamacarin”). Tantrayana yang ekstrim, uniknya, pernah memiliki pengikut yang kuat selama peradaban Hindu-Buddha tumbuh subur di Nusantara.

Para pengikut Tantrayana yang ekstrim ini meyakini bahwa moksha/Nirvana dapat dicapai dengan melakukan “Pancamakara” atau dikenal sebagai “Ma Lima” (“Mo Limo”; alias lima hal berawalan “ma-“) oleh para penganut Hindu Buddha di Nusantara, yaitu:

– Mamsa (memakan daging secara berlebihan, termasuk memakan mayat)
– Matsya (memakan ikan secara berlebihan)
– Madya (bermabuk-mabukan)
– Maithuna (bersenggama dengan lawan jenis secara berlebihan)
– Mudra (melakukan sikap tangan tertentu ketika meditasi)

Di era Hindu Buddha, para penganut Tantra ini akan berkumpul di ksetra (kuburan/lapangan tempat masyarakat meletakan mayat secara sementara sebelum dibakar) untuk melakukan ritual-ritual di atas. Mereka akan memakan daging mayat, meminum darah, bermabuk-mabukan dengan minuman keras, lalu bersetubuh dengan lawan jenis, sebelum akhirnya diakhiri dengan meditasi mendalam. Pada saat itulah mereka meyakini merasakan moksha.

Para penganut aliran ini meyakini bahwa moksa/Nirvana dapat dicapai melalui meditasi mendalam, setelah sebelumnya membuat letih panca indera melalui ritual “Ma Lima”.

Oleh para pemeluk agama Hindu Buddha lain pada zamannya, para pengikut Tantra ini cukup ditakuti. Dari kajian arkeologi, diketahui ada beberapa raja di Nusantara yang mengikuti aliran Tantra ini, seperti Kertanegara (Singosari), Adityawarman (Pagaruyung Hindu), dan beberapa raja di Bali pada saat itu.

Sejarah berhasil mencatat bagaimana salah satu raja tersebut melakukan ritual Tantranya. Diceritakan bahwa ketika tentara Kediri menyerbu keraton Singosari, mereka menemukan bahwa raja Kertanegara tengah tidak sadar karena makan-makan dan bermabuk-mabukan bersama para pengikutnya. Padahal di saat yang lain, prasasti-prasasti mencatat bahwa Kertanegara adalah raja yang mendalam pengetahuan agamanya dan taat beragama. Banyak ahli sejarah senior, seperti Soekmono, yang meyakini bahwa sesungguhnya raja Kertanegara pada saat itu tengah melakukan ritual Tantrayana.

Dari penemuan-penemuan artefak yang ada, diketahui bahwa ada 3 aliran Tantrayana ekstrim di Nusantara pada saat itu, yaitu Heruka di Sumatra, Kalacakra di Jawa, dan Bhima di Bali.

Para penganut Tantra yang beragama Hindu pada umumnya memuja Bhairawa, yaitu dewa Siwa dalam perwujudannya yang bengis dengan taring yang menyeringai dan keempat tangannya memegang belati, mangkuk, gendang dan tasbih sambil menginjak tengkorak-tengkorak manusia. Belati tersebut diyakini untuk memotong daging, mangkuknya untuk menampung darah, sementara tasbih dan gendangnya digunakan saat menari di ksetra/kuburan pada saat melakukan ritual Tantra.

Menurut para sejarahwan, banyak raja pada saat itu yang menjadi penganut Tantra dengan tujuan agar menjadi sakti dan bisa mengimbangi kekuatan raja dari kerajaan lain yang juga menganut Tantra.

C. Perubahan Ajaran “Ma Lima” oleh Para Wali Songo

Ketika para pendakwah Islam berinteraksi dengan masyarakat Jawa, tentunya mereka juga menemukan para penganut aliran Tantra di antara masyarakat. Namun oleh para Wali Songo, ajaran Ma Lima ini diberi isi yang baru.

Bila sebelumnya “Ma Lima” adalah lima hal berawalan “ma-” yang harus dilakukan (oleh para penganut Tantra), kini menjadi lima hal berawalan “ma-” yang harus dijauhi oleh masyarakat Jawa yang telah memeluk Islam, yaitu:

– Main (berjudi)
– Maling (mencuri)
– Madat (menggunakan candu)
– Minum (bermabuk-mabukan)
– Madon (main wanita/zina)

Ritual berkumpul dengan membentuk lingkaran di ksetra untuk memakan daging mayat pun digantikan oleh tradisi berkumpul untuk membaca tasbih, tahmid dan tahlil yang diakhiri dengan makan nasi tumpeng bersama oleh masyarakat Jawa yang dikenal sebagai “selamatan” atau “kendurian”.

Sejarahwan Islam, KH Agus Sunyoto, menjelaskan bahwa tradisi selamatan ini pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Bonang di desa Singkal, Nganjuk (Jawa Timur) untuk memerangi ritual Tantra. Ritual baru ini pun kemudian menyebar ke daerah-daerah lainnya di Jawa.

Masyarakat Islam Indonesia saat ini mungkin tidak lagi mengetahui asal-muasal ajaran “Ma Lima” ataupun tradisi selamatan/kendurian yang telah menjadi bagian dari keseharian mereka. Meski demikian, sejarah telah menunjukkan bahwa keberhasilan dipeluknya Islam di Indonesia antara lain ditunjang oleh keberhasilan para pendakwah Islam untuk menggunakan istilah-istilah agama dan tradisi-tradisi yang telah ada di tengah-tengah masyarakat dan memberinya makna yang baru yang kemudian diteruskan oleh generasi selanjutnya.

Referensi lebih lanjut:
http://damar-shashangka.blogspot.co.id/…/ajaran-shiwa-bhair…

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Panchamakara

http://perjalanankesadaran.blogspot.co.id/…/ajaran-tantraya…

http://www.sacred-texts.com/tantra/

http://m.viva.co.id/…/668989-ritual-minum-darah-dan-bersetu…

http://www.hariansejarah.id/…/pelaksanaan-tahlilan-pertama-…

oleh: M. Arief Wibowo

 

Facebook Comments

About Redaksi Ruang Rakyat

RuangRakyat memberikan ruang bagi kamu yang ingin menuangkan gagasan ke seluruh rakyat Indonesia.