This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Transformasi Kekuatan Militer Cina

Transformasi Kekuatan Militer Cina

Bukan rahasia jika Cina memiliki kekuatan yang sangat diperhitungkan bagi AS. Mengutip tulisan Jonathan Marcus (13/2/2018), saat ini menurut para ahli di International Institute for Strategic Studies (IISS) London, Rusia bukan lagi menjadi tolak ukur AS dalam menilai kemampuan bersenjatanya, melainkan Cina. Terutama kekuatan udara dan laut yang merupakan fokus modernisasi Cina.

Sejak thun 2007, Cina menduduki posisi ke 2 anggaran belanja militer tertinggi. Transformasi militer Cina memang telah berjalan lama. Titik-titik pencapaian Cina pun mulai terlihat. hal ini  yang membuat Cina menjadi “pesaing sejawat” Washington.

Kemampuan Cina secara teknis dinilai luar biasa, dari Rudal Balistik Ultra Konvensional Jarak Panjang ke Jet Tempur Generasi Ke-Lima. Cina juga sedang mengerjakan kapal induk keduanya yang mana salah satunya ditujukan untuk pembenahan struktur komando militer yang diperuntukkan untuk markas besar bersama melibatkan seluruh matra. Dalam konteks artilery, pertahanan udara dan darat memiliki senjata yang mampu menjangkau keluar tehadap serangan apapun dari AS. Di sisi lain, pakar IISS mengungkapkan bahwa Cina tertinggal dalam modernisasi pertahanan darat. Hanya sekitar setengah dari peralatan militer yang bisa digunakan dalam hal pertempuran modern.

Cina memiliki satu tujuan strategis yang selalu menjadi pegangan di mana dalam situasi konflik, pertahanan ditujukan untuk mendorong kekuatan militer AS sejauh mungkin dari pantai, idealnya ke Pasifik. Strategi ini dikenal dengan jargon “anti-access area denial” yang sering disingkat A2AD. Hal Ini menjelaskan fokus Cina pada sistem udara dan maritim jarak jauh yang dapat menahan kelompok-kelompok tempur kapal induk AS yang sangat berisiko.

Cina juga memiliki strategi pertahanan dengan mengejar strategi ekspor senjata secara ambisius. Contohnya adalah drone bersenjata. AS yang merupakan salah satu perintis di bidang ini menjual dengan selektif, menolak menjual drone bersenjata canggih kepada siapa pun kecuali sejumlah sekutu NATO terdekatnya seperti Inggris. Perancis, yang sudah mengoperasikan pesawat reaper yang dipasok AS, juga berencana untuk mempersenjatai drone.

Cina tidak memiliki kendala seperti itu, Cina justru menampilkan kendaraan udara tak berawak yang mengesankan di samping berbagai amunisi yang dapat mereka bawa di pameran senjata di seluruh dunia. IISS Military Balance mengatakan bahwa Cina telah menjual UAV bersenjata ke sejumlah negara termasuk Mesir, Nigeria, Pakistan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Myanmar, antara lain.

Keengganan Washington untuk menjual teknologi ini memberikan lapangan terbuka dan kesempatan emas pada Beijing. Tak terelakkan, penjualan yang dilakukan Beijing berperan dalam penyebaran senjata ini. Hal ini juga mendorong negara lain yang mengoperasikan UAV semata-mata untuk tujuan pengumpulan intelijen dan mencari varian bersenjata.

Eksportir senjata AS dan Barat melihat Cina sebagai ancaman komersial yang terus meningkat. Dibandingkan satu dekade Kehadddiran Cina dianggap semakin serius. Seperti contoh UAV Cina, juga bersedia memasuki pasar yang banyak produsen Barat.

Seperti yang dikatakan para ahli IISS, Cina cenderung menang dalam semua aspek kesepakatan. Biasanya persenjataan Cina akan memberi partner 75% kemampuan teknologi Barat yang tersedia untuk 50% dari harga. Dalam istilah bisnis, hal ini adalah penawaran yang kuat.

Dalam ekspor ground warfare, Tiongkok kurang mengesankan. Mereka masih harus bersaing untuk pelanggan dengan negara-negara seperti Rusia dan Ukraina. Tetapi ketika Kiev tidak dapat memenuhi kesepakatan Tangki sesuai jangka waktu  yang telah ditentukan dengan Thailand pada tahun 2014, orang Thai membeli Tangki VT4 Cina sebagai gantinya. Tahun lalu Thailand kembali membeli Tangki tersebut.

Para pakar IISS mengatakan bahwa Cina juga berusaha mengembangkan persenjataan yang disesuaikan dengan pasar tertentu. Cina merujuk Tangki Ringan misalnya ditujukan untuk negara-negara Afrika, yang jalan dan infrastrukturnya tidak akan mampu mengatasi banyak model yang lebih berat seperti yang ditawarkan oleh orang lain.

Peran Cina dalam “pasar” peralatan pertahanan mungkin menjadi kekhawatiran bagi banyak negara dna juga pemain bisnis. Cina memang memiliki strategi tersendiri untuk mendominasi pasar global termasuk pasar industri pertahanan dan pegaruh Cina semakin meluas dan tidak terelakkan oleh Barat.

Sumber: BBC

Gambar Ilustrasi: Adam Ganesha D.

 

Facebook Comments

About Renni N. S Gumay

Seorang akademisi yang memiliki minat dalam jurnalistik dan tertarik pada isu politik, keamanan, pertahanan dan kemanusiaan.