This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Mengenal Limbah B3 Covid-19 dan Pengelolaannya

Mengenal Limbah B3 Covid-19 dan Pengelolaannya

Pasien sembuh  penyakit Corona Virus Disease (Covid-19) di Indonesia semakin bertambah, dimana data per 1 Mei 2020 pukul 12.00 WIB menunjukkan terdapat 10.551 kasus, 800 meninggal, dan 1591 sembuh. Penanganan pasien covid-19 tidak terlepas dari limbah medis infeksius/Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dihasilkan dan tentu berpotensi menimbulkan masalah apabila limbah tersebut tidak terkelola dengan baik. Hal ini terutama menyangkut potensi penyebaran virus yang dapat mengancam kesehatan masyarakat dalam lingkup luas. Kondisi semakin perlu diwaspadai mengingat saat ini banyak rumah sakit yang belum memiliki teknologi pengelolaan limbah medis B3 yang memadai. Secara umum, limbah B3 seharusnya dikelola dengan menerapkan prinsip:

  1. Polluter pays principle

Semua penghasil limbah secara hukum dan finansial bertanggungjawab menggunakan metode pengelolaan limbah yang aman dan ramah lingkungan.

  1. Pre cautionary principle

Prinsip kunci yang mengatur perlindungan kesehatan dan keselamatan melalui upaya penanganan yang secepat mungkin dengan asumsi risiko yang dapat terjadi secara signifikan.

  1. Proximity principle

Prinsip kedekatan dalam penanganan limbah berbahaya untuk meminimalisasi risiko pada pemindahan.

  1. Duty of principle

Prinsip kewaspadaan bagi yang menangani atau mengelola karena secara etik bertanggungjawab untuk menerapkan kewaspadaan tinggi

Prinsip-prinsip tersebut bersifat saling berkaitan dan membentuk siklus. Guna mencapai penerapan prinsip tersebut, hal yang dapat dilakukan adalah dengan mengenal jenis limbah B3 dan melakukan pengelolaannya dengan tepat.

Limbah medis B3 meliputi limbah cair dan padat. Limbah cair seperti air cucian linen, sisa disinfektan, air cucian alat kerja dan alat makan/minum pasien, cairan dari mulut/hidung pasien, air kumur pasien, dan lain-lain. Pengelolaan limbah cair ini, harus melalui alat saniter, saluran tertutup, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), disinfeksi (klorinasi).

Limbah padat seperti masker, sarung tangan, penutup kepala bekas, hand towel bekas, APD yang digunakan saat dekontaminasi ruangan dan ambulance, kapas bekas, alat suntik bekas, set infuse bekas, perban bekas, alat minum dan makan yang telah digunakan pasien, APD yang digunakan saat pemulasaran jenazah, dan lain-lain. Pengelolaannya meliputi pewadahan, pengumpulan, penyimpanan, pengangkutan, dan pengolahan. Adapun berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan P.56/Menlhk-Sekjen/2015, limbah padat medis dari rs/fasyankes harus dikemas tertutup menggunakan kemasan warna kuning, penyimpanan maksimal 2 hari pada suhu normal, serta nantinya dimusnahkan dengan fasilitas incinerator atau di fasilitas Autoclave dengan shredder (alat pencacah). Autoclave adalah alat yang digunakan untuk mensterilkan peralatan dan perlengkapan dengan menundukkan material untuk uap tekanan tinggi. Untuk pengolahan sampah medis, autoclave biasanya dilengkapi dengan shredder. Menurut data KLHK, hanya 20 rumah sakit rujukan Covid-19 di Indonesia yang memiliki insinerator berizin dari 132 rumah sakit yang ditunjuk pemerintah untuk merawat pasien Covid 19. Sementara itu hanya terdapat 14 perusahaan berizin yang menyediakan jasa pengolahan limbah B3 yang memiliki incinerator. Menghadapi lonjakan jumlah limbah medis Covid-19 yang harus segera diproses, KLHK mempersilakan rumah sakit dengan insinerator dalam proses perizinan untuk mengolah limbah medis yang dihasilkan dari perawatan pasien Covid-19.

Langkah selanjutnya, melalui Prioritas Nasional APBN KLHK, KLHK menciptakan Rencana Pembangunan Fasilitas Pengelolaan Limbah B3 Fasyankes tahun 2020-2024 secara bertahap, yakni di 5 faskes (2020), 6 faskes (2021), 7 faskes (2022), 7 faskes (2023), dan 7 faskes (2024) (Soemiarno, 2020). Dengan demikian, hal yang perlu dipersiapkan yaitu sinergitas kerjasama lintas sektor dan dukungan dari masyarakat serta pihak swasta. Lahan yang sesuai tata ruang tentu menjadi syarat mutlak bagi terwujudnya fasilitas pengelolaan limbah B3 di fasyankes. Selain itu, penyediaan dokumen lingkungan (proses pengkajian dan perizinan lingkungan), komitmen pemerintah daerah untuk keberlanjutan operasioanl dengan pengelolaan yang baik, serta kelembagaan unit pengelola fasilitas pun menjadi hal yang penting untuk dipersiapkan mulai saat ini.

 

Referensi:

Soemiarno, S.S (2020). Penanganan Limbah B3 Infeksius Corona Virus Disease (Covid-19. Webinar Bappenas dan Ikatan Alumni Teknik Lingkungan ITB.

Sumber Foto: Antara

Facebook Comments