This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Belajar Toleransi dari Kampung Sawah Bekasi (Sebuah Catatan Penelitian), bagian 1

Belajar Toleransi dari Kampung Sawah Bekasi (Sebuah Catatan Penelitian), bagian 1

Pada tahun 2018, Setara Insititute merilis daftar kota-kota di Indonesia yang secara survey dianggap memiliki sikap toleransi yang tinggi. Ada 10 nama kota yang dirilis, di antara 10 kota tersebut terdapat nama Kota Bekasi yang dicanangkan sebagai kota yang toleran. Menarik untuk diketahui lebih jauh, mengapa Bekasi menjadi kota yang lebih toleran dibandingkan kota-kota sahabatnya yakni Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang. Padahal bisa dibilang Kota Bekasi merupakan kota besar yang memiliki heterogenitas masyarakat yang terdiri dari berbagai latar belakang. Namun ternyata Kota Bekasi bisa menjadi kota yang harmoni. Rasa penasaran saya menggiring saya untuk mencari informasi lebih dalam mengenai toleransi di Kota Bekasi. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah terdapat satu perkampungan betawi di Kota Bekasi yang disebut banyak media sebagai Kampung Toleransi. Kampung tersebut bernama Kampung Sawah Bekasi.

Secara geografis wilayah ini tercakup ke dalam kelurahan Jati Murni, Jati Melati, dan Jati Warna kecamatan Pondok Melati Kota Bekasi. Perkampungan tersebut dikenal pula sebagai “Kampung Toleransi” karena warganya dinilai berhasil melestarikan dan mengembangkan tradisi toleransi dan menjaga keharmonisan agama secara turun-temurun dari nenek moyang mereka. Sebutan Kampung Sawah muncul karena pada awalnya adalah daerah perkampungan yang diselingi persawahan. Ceritanya jauh di era kolonial, menurut kisah para sesepuh di sana bahwa wilayah itu merupakan daerah hutan yang dibuka untuk markas para prajurit Mataram (Kerajaan penguasa mayoritas tanah Jawa masa itu) yang hendak menyerang VOC di Batavia, sekaligus tempat persinggahan bagi para prajurit Mataram yang tidak kembali ke Yogyakarta. Seiring waktu dan perkampungan itu semakin ramai, karena daerah itu termasuk subur, warga kampung banyak yang membuka sawah dan memilih menjadi petani sebagai ladang mata pencaharian utama. Jadilah kampung itu Kampung Sawah, perkampungan yang diselingi sawah-sawah, dan kontur Kampung Sawah menjadi berbukit-bukit, di mana daerah yang tinggi merupakan perkampungan dan daerah yang rendah merupakan persawahan.

Tahun 90-an hingga 2000-an, perubahan demografis terjadi di Kampung Sawah seiring dengan pesatnya laju pembangunan infrastruktur di Bekasi. Perubahan demografi terjadi karena banyaknya warga pendatang bukan keturunan asli warga Kampung Sawah. Hal itu karena banyak warga Kampung Sawah yang memilih menjual aset tanahnya sehingga membuka peluang masuknya warga pendatang. Komposisi yang sebelumnya masih didominasi warga asli, kini cukup berbanding dengan jumlah pendatang. Hal ini tentu membawa konsekuensi budaya tersendiri. Para pendatang baru lebih dekat dengan budaya urban yang cenderung ekslusif, dan di antara mereka tentu tidak mengenal secara mendalam “inklusivitas budaya asli” Kampung Sawah.

Seiring pesatnya pembangunan kota, kini Kampung Sawah tidak lagi identik dengan sawah-sawah yang subur seperti cerita masa lalu, karena telah berubah menjadi perkampungan yang padat. Namun masyarakat Kampung Sawah dengan segala keunikan dan keragaman budayanya masih berusaha mempertahankan karakteristik budayanya di tengah berbagai tantangan dari arus modernitas, terutama perubahan infrastruktur dan geografi. Dalam dinamika pergeseran budaya urban, Kampung Sawah masih mempertahankan bahkan mengembangkan budaya toleransi sebagai satu-satunya kekuatan budaya yang dipertaruhkan dan diharapkan masih mengikat keberagaman, kekerabatan, dan persaudaraan mereka.

Dari Kampung Tiga Agama menjadi Kampung Pancasila

Dalam konteks keagamaan, Kampung Sawah dikenal sebagai area segi tiga emas hubungan agama Islam, Katolik dan Protestan. Ketiganya paling dominan di sana, sehingga Kampung Sawah sering disebut juga “Kampung Tiga Agama”. Namun jika menunjuk pada realitasnya, sepertinya istilah tersebut tidak tepat karena tidak mencerminkan keragaman yang sesungguhnya. Sebab secara kuantitatif, mayoritas penduduk memang beragama Islam, tetapi empat minoritas terdiri dari Katolik, Protestan, selain ada pula Hindu dan Budha. Masyarakat Kampung Sawah sendiri bersama-sama stakeholder daerah justru mencanangkan identitas Kampung Sawah sebagai “Kampung Pancasila”. Istilah ini barangkali lebih tepat dan lebih pas untuk disematkan daripada “Kampung Tiga Agama”, mengingat bahwa mereka memiliki keragaman baik dari sisi suku, ras dan agama tetapi mereka bisa tetap saling bertoleransi dan menjaga kerukunan antar umat beragama sehingga mencerminkan persatuan dalam perbedaan (Bhinneka Tunggal Ika). Di samping pula, istilah “Kampung Tiga Agama” terkesan mengkooptasi keagamaan hanya pada tiga identitas agama saja.

Tidak ada kesamaan data persis berapa jumlah penduduk menurut kategori agama. Namun mayoritas warga adalah muslim, dan minoritas terdiri dari Nasrani (Katolik dan Protestan), Budha dan Hindu. Dilihat dari komposisi penduduk, dilansir dari Tirto.id., mayoritas warga Kampung Sawah adalah muslim (43.314 jiwa), dan minoritas agama terdiri dari Nasrani (Katolik dan Protestan) (9.736 jiwa), Budha (274 jiwa) dan Hindu (164 jiwa). Jumlah tempat ibadah 27 masjid, 38 musholla, dan 15 gereja. Dilihat dari sisi jumlah tempat ibadah juga relatif beragam. Rumah ibadah berdiri di samping Masjid sudah menjadi pemandangan biasa di Kampung sawah. Namun yang menarik, pendirian rumah ibadah nyaris tidak ada kendala atau tidak menimbulkan konflik, hal yang kontras dengan pemandangan di beberapa pendirian rumah ibadah di Kota Bekasi dan kota-kota lain yang mendapat reaksi keras dari warga sekitarnya yang berbeda agama. Menariknya lagi, bangunan rumah ibadah tersebut saling berdekatan. Pusat wilayah sekaligus menjadi penanda bagi identitas Kampung Sawah adalah titik di mana tiga rumah ibadah saling berdampingan, yaitu Gereja Katolik Santo Servatius, Gereja Kristen Pasundan Jemaat Kampung Sawah, dan Masjid Besar Yayasan dan Pondok Pesantren Fisabilillah (YASFI).

Karena belum ada Pura, Wihara, dan Klenteng yang secara resmi berdiri di Kampung Sawah, mereka beribadah ke tempat ibadah di luar Kampung Sawah. Namun tetap ada kegiatan ritual keagamaan bagi umat Hindu yang berpusat di Balai Banjar Hitakarma yang terletak di Jati Melati. Balai Banjar merupakan tempat yang selama ini dijadikan tempat pertemuan resmi keagamaan dan juga tempat pendidikan ilmu agama Hindu pada hari Minggu . Di wilayah Bekasi sendiri terdapat 2 Pura dan 9 vihara, kemungkinan peribadatan mereka terpusat di luar Kampung Sawah . Terlepas dari hubungan mayoritas dan minoritas, dan masih adanya keterbatasan infrastruktur peribadatan minoritas, tetapi uniknya, identitas keagamaan begitu cair di Kampung Sawah. Salah satu keunikannya adalah secara kasat mata baik dalam interaksi sehari-hari atau dalam acara-acara formal, sulit membedakan mana orang Islam dan mana orang Kristen, sebab sekat-sekat identitas agama di antara mereka telah pudar. Mereka tidak tampak membedakan identitas agama. Dalam rangka menjalin toleransi beragama dan menghargai keberagaman serta menjaga adat istiadat, mereka tidak lagi melihat latar belakang agama.

Sistem Kekerabatan: Mencairkan Sekat Mayoritas-Minoritas dalam Hubungan Antar-Iman

Mayoritas warga Kampung Sawah adalah muslim, dan minoritasnya Kristen, Hindu dan Budha. Namun kategori mayoritas dan minoritas ini sepertinya tidak relevan lagi di sana, karena mereka telah menganggap satu sama lain sebagai “saudara” dan menempatkan identitas agama semata-mata urusan privat. Mereka menjalin hubungan yang “egaliter”, membaur dalam suatu ruang kehidupan “pluralisme” yang memiliki keragaman tetapi hanya diikat satu visi toleransi bagi kedamaian dan keharmonisan. Masyarakat Betawi Kampung Sawah sama-sama berangkat dari semangat inklusivisme. Mereka memiliki sejumlah nilai, norma dan budayanya yang dan sistem keyakinan atau agama. Namun antara adat-tradisi-budaya dan agama telah berinteraksi dengan sangat cair tanpa eksklusivitas satu sama lain. Faktor penyangga toleransi di Kampung Sawah utamanya adalah persaudaraan dan kekerabatan. Mereka bertoleransi bukan karena toleransi itu sendiri, melainkan karena mempertahankan ikatan kekerabatan sebagai saudara satu kerabat. Bagaimana pun, toleransi Kampung Sawah tidak dapat dilepaskan dari sistem kekerabatan. Ada beberapa faktor terjadinya harmoni dan kerukunan di sana. Faktor agama nampaknya justru tidak menjadi penentu terjadinya integrasi yang ada di Kampung Sawah, tetapi lebih disebabkan oleh faktor lain seperti sistem kekerabatan, ikatan yang sama untuk melesatarikan budaya Betawi.

Mirip seperti adat di Nagari budaya Minangkabau, kekerabatan masih sangat kental di mana dalam satu desa terdapat beberapa suku. Tetapi di Kampung Sawah, meski ada kekerabatan, pola politik dan tata kelola pemerintahan mengikuti sistem dinas, bukan sistem adat, sehingga tidak ada perkumpulan perwakilan suku sebagai satu institusi adat dan politik tertentu dan pengaruh kekerabatan juga tidak terlalu dominan dalam infrastruktur politik. Kerabat dan marga sifatnya hanya sebagai pelestarian adat keluarga. Meski demikian, tetap ada tokoh-tokoh desa yang dianggap senior dan dihormati. Hubungan kerabat itu bukan saja dihasilkan dari hubungan darah atau keturunan, melainkan juga merupakan hasil dari jalur perkawinan. Banyak terjadi kawin silang antar agama berbeda. Ada yang mempertahankan identitas agamanya, tapi banyak juga yang melebur ke agama pasangannya. Ada juga yang bertahan pada agama masing-masing. Keturunannya pun akhirnya diberi kebebasan menentukan agama yang dianutnya.

Orang Betawi Kristen dan Betawi Islam di Kampung Sawah adalah keluarga yang satu dengan yang lain masih terikat hubungan persaudaraan atau kekerabatan. Sejarah yang berlangsung lama telah mengikat kohesivitas mereka sebagai sebuah keluarga besar, meski hubungan persaudaraan itu tidak dapat diidentifikasi secara pasti kecuali dengan sistem marga. Secara alamiah, jika diruntut satu dengan yang lainnya, mereka berasal dari keturunan yang sama baik dari pihak kakek maupun nenek. Istilah mereka “berasal dari satu pu’un” . Walaupun warga Kampung Sawah bukan etnis Batak tetapi mereka memiliki sistem kekerabatan dengan menggunakan nama marga seperti halnya dijumpai dalam etnis Batak. Etnis Sunda dan Betawi sendiri pada dasarnya tidak mengenal sistem kekerabatan dengan menggunakan nama marga. Mereka mengklaim bahwa nama marga yang mereka pakai tidak diadopsi dari marga dalam batak. Marga yang dimaksud adalah salah satu bentuk pengikat keturunan mereka berdasarkan garis orang tua yang diberi sejak lahir, terutama garis bapak atau ayah. Kemudian memberi nama bapaknya diakhir dari nama depan seseorang itu, maka itulah dia marganya.

Penamaan marga dalam sistem kekerabatan masyarakat Kampung Sawah ini sudah ada dan terjaga sejak zaman kolonial Belanda. Jika dihitung-hitung sejak asal-usul nama marga ini ada, hingga sampai sekarang sudah turun-temurun sekitar 6-7 generasi. Nama-nama marga yang sering ditemui di Kampung Sawah antara lain: Napiun, Pepe, Kelip, Baiin, Kaiin, Kuding, Senen, Noron, Rikin, Kuding, Kaiin, Oyan, Biran, Seran, Rimin, Niman, Minan, Modo, Halim, Kadiman dan Nathanael . Buah dari sistem kekerabatan yang multi-religius tersebut dapat dijumpai sekarang berupa keluarga yang beragam identitas keagamaan dalam satu atap rumah tangga, sebut saja “keluarga multi-religius”. Satu keluarga dengan ragam identitas agama banyak dijumpai di sini. Anak dan bapak bisa jadi berbeda agama, begitu pula cucu dan kakek atau nenek. Tidak ada paksaan dalam memilih keyakinan agama. Pilihan identitas agama yang dipeluk ditentukan secara mandiri. Mereka tidak pernah mempersoalkan perbedaan identitas agama, dan tidak pernah melakukan permusuhan atau konflik karena perbedaan agama. Justru dalam perbedaan yang ada seringkali mereka saling mengisi, saling asah dan asuh sesama saudara, saling menghormati, saling mendukung dan saling menjaga silaturahmi sehingga terjadi kerukunan yang hangat antar mereka di tingkat keluarga. Hal itu tidak saja terjadi di keluarga biasa, tetapi juga di keluarga para tokoh-tokoh agama sendiri. Dengan demikian, mulai dari tingkat keluarga, mereka sudah mengajarkan toleransi beragama kepada anak-anak mereka, sebuah pengalaman kehidupan yang luar biasa. Dengan semangat menjaga kualitas persaudaraan itu pula, baik dalam arti biologis maupun ideologis, kuantitas dan sekat-sekat mayoritas dan minoritas agama menjadi tidak terlalu relevan lagi karena sesungguhnya ekspresi toleransi telah mendapatkan justifikasi yang lebih kokoh dan alamiah.

— bersambung —

Facebook Comments

About ML Khair

Young historian.