This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

COVID 19 dan Ancaman Krisis Ekonomi Di Indonesia

COVID 19 dan Ancaman Krisis Ekonomi Di Indonesia

Belum selesai kita melewati bulan ke-3 di awal tahun 2020 ini kita sudah mendapat banyak sekali persoalan negara dan persoalan global yang tentu bukan perkara mudah untuk diselesaikan.

Merefleksi kembali berbagai persoalan pada awal tahun ini diantaranya yang paling menjadi sorotan adalah masalah banjir di ibukota yang cukup besar menyambut  tahun baru 2020, kemudian disusul pula dengan persoalan asuransi Jiwasraya, Asabri dan juga masalah perumusan Omnibuslaw.

Terlebih persoalan global seperti perang dagang yang berlarut dan kemudian pandemik Covid 19 yang menghantam ratusan negara di seluruh dunia.

Pada tahun ini lah kita tidak bisa lagi menutup mata dari ancaman krisis ekonomi yang kapan saja bisa terjadi jika pemerintah dan masyarakat tidak siap menghadapi resesi yang sudah dirasakan secara global ini.

Indeks saham anjlok ke bawah level 4.000, nilai tukar rupiah pun kian mendekati Rp 17.000 per dolar AS, dan yield Surat Utang Negara (SUN) pun cetak rekor tertinggi di 8,308%.

Berbagai formulasi dan paket-paket kebijakan ekonomi digelontorkan dalam mensiasati masa-masa sulit ini. Untuk menjaga keberlangsungan APBN 2020 dan perekonomian nasional dalam menanggulangi covid-19, serta fungsi fiskal lainnya, Banggar mengusulkan agar pemerintah bisa segera menerbitkan Perppu Penggati UU APBN 2020.

Foto: Presiden Joko Widodo saat Conference Call (Biro Pers Sekretariat Presiden/Muchlis J)

Presiden juga memberikan arahan kepada menkeu untuk memberikan kelonggaran dalam permasalahan pajak dan kredit terutama sekali bagi UMKM dan pekerja informal seperti ojek online agar tidak terjadi PHK.

Pengambilan kebijakan yang tidak hanya cepat tapi juga tepat ‘velox et exactus’ dalam detik demi detik ini menentukan perang melawan snow ball effect akibat Covid 19. Bahkan negara-negara yang tergabung dalam G-20 melakukan rapat darurat dalam mencari solusi dan evaluasi dari kebijakan masing-masing negara.

 

Keputusan Yang Tepat

 

Hanya butuh waktu kurang dari tiga bulan sudah berdampak sedikitnya 400ribu orang terjangkit virus mematikan ini dan melumpuhkan beberapa negara hingga kemudian mereka memilih opsi untuk lockdown atau pembatasan wilayah.

COVID 19 Real time Update (26/3)

Jakarta menjadi epicentrum dari Virus Corona di Indonesia sedikitnya sudah ada kasus positif di DKI Jakarta ada sebanyak 472, 27 orang sembuh dan 43 orang meninggal. Data tersebut merupakan data per 26 Maret 2020 pukul 08.00 WIB.

Meski begitu lockdown total tidak menjadi opsi yang tepat atau efektif dengan menutup semua kegiatan terutama di ibukota provinsi DKI Jakarta, dimana sebanyak 80% perputaran uang dan pusat pemerintah ada disini. Ibarat sebuah operating sistem sebuah komputer terkana virus maka langkah Shutdown adalah pilihan terakhir yang ditempuh jika hardware telah rusak. Meski tidak lockdown dibutukan peran serta masyarakat dalam membatasi diri dari kerumunan dan ruang publik selama masa ini.

Setiap orang bebas saja berpendapat mengenai langkah apa yang harus diambil pemerintah, tapi tanpa perhitungan yang tepat bukan tidak mungkin terjadi kepanikan di masyarakat dan efek domino yang jauh lebih berbahaya bahkan dari virus itu sendiri.

Tekanan untuk  melakukan untuk lockdown sama saja melempar negara kita ke jurang yang terlalu dalam. Social distancing saja sangat sulit menimbang budaya masyarakat Indonesia yang suka berkumpul di suatu tempat sulit untuk diedukasi dalam jangka waktu yang sangat cepat.

Jika diberlakukan lockdown total tentu akan sangat berdampak terhadap UMKM dan pekerja informal. Saat ini sebagaian dari mereka sudah menuntut adanya kompensasi dari adanya gerakan work from home yang membuat sepi ibukota Jakarta setidaknya dalam beberapa minggu ini.

Tidak bisa dipungkiri bahwa akan selalu ada saja pihak-pihak yang sengaja memanfaatkan momentum ini untuk mengeret popularitas dan simpatik dari ketakutan di masyarakat. Menurut opini penulis sendiri kesiapan pemerintah sejak awal dalam melihat pandemik ini sangat tidak optimal.

Baik dari segi fasiitas kesehatan, tenaga medis, dan juga anggaran. Hal ini lambat laun baru direspon sangat cepat oleh Presiden Jokowi. Dalam waktu-waktu yang mendesak ia membuat keputusan yang patut diapresiasi sebagai bentuk penanggulangan agar Indonesia tidak separah Itali, Spanyol atau Iran.

Dengan membuat RS khusus Covid 19 di Wisma Atlet yang kini tidak lagi terpakai dan membeli kebutuhan pengobatan yang dibutuhkan pasien hingga alat rapid test untuk mendiagnosis ODP atau orang yang terindikasi dan terpapar virus corona.

 

Strategi Untuk Bertahan

Muncul banyak dugaan seperti virus ini memang diciptakan sebagai senjata biologis, meski hal ini sangat sulit dibuktikan. Memang peperangan di era perang generasi ke empat ini sudah banyak menggunakan medium-medium baru yang justru memiliki dampak kerusakan yang lebih besar dari sekedar perang militer. Penulis tidak menutup mata akan adanya kemungkinan kesengajaan dalam persebaram virus.

Dalam masa karantina yang ditetapkan oleh pemerintah selama 2 minggu ini, hari demi hari saya mencermati bahwa China saat ini sudah sedikit lagi atau 95% menyelesaikan pandemik ini di negaranya.

Chinese President Xi Jinping in Wuhan (CNN World)

Bahkan beberapa kota yang terdapat ribuan penderita sudah Zero Case.  Presiden China Xi Jinping bahkan mengatakan China saat ini menemukan kondisi “New Normal”.  Kedatangan Xi Jinping di Wufan (10/3) membangkitkan semangat tenaga medis dan semua stakeholder dalam menangani Covid 19.

Di Kawasan Eropa wabah ini tidak bisa dikendalikan. Italia dan Spanyol bahkan jatuh korban jiwa jauh lebih banyak dari China. Tercatat (25/3) sudah ada 7500 korban jiwa di italia dan 5ribu jiwa di Spanyol.

Pasien Covid 19 yang tidak tertampung rumah sakit, Italia

Hal ini juga berlaku di negeri Paman Sam, di New York semua kegiatan perkantoran dan perdagangan ditutup kecuali apotek dan swalayan. Bahkan salah seorang teman yang berada disana sangat kesulitan dalam membeli kebutuhan pangan sehari-hari.

Panic Buying New York City (Daily Mail)

Panic buying adalah keniscayaan dari dampak psikologis masyarakat yang menimbun pasokan pangan dan obat-obatan, terlebih masyarakat kelas atas disana tidak tanggung-tanggung.

Bukan berarti hal ini tidak bisa terjadi di Indonesia dalam beberapa waktu ini, posisi Indonesia bergantung terhadap Dolar Amerika dan baran impor dari China membuat sebagian sektor jelas terpukul meskipun secara fundamental ekonomi kita sudah jauh lebih baik saat menghadapi krisis 98 dan 2008.

Tentu untuk menghindari krisis ada dua pilihan yang dapat menjadi pertimbangan pemerintah, yang pertama adalah tentu menyelesaikan Pandemik Corona ini secepat mungkin, karena ketakutan di masyarakat sangat berdampak terhadap kegiatan baik di pasar konvensional maupun di pasar modal.

Kepercayaan masyarakat dibentuk berdasarkan dua hal yakni eksekusi pemerintah dan komunikasi publik yang tepat, tidak boleh terjadi bias dalam penanganan ini baik antara pusat dan daerah dan antar lembaga.

Yang kedua tentu adalah menjaga suplai pangan termasuk juga obat-obatan dan segala kebutuhan medis, serta menjaga kebutuhan energi di masyarakat tidak hanya kebutuhan BBM tetapi juga listrik bahkan sinyal internet. Dengan dua pendekatan ini saya melihat kita kan survive terutama sekali dalam menjaga stabilitas social politik dan ekonomi.

Namun jika Pandemik ini semakin parah tentu sangat berbahaya sekali terhadap demokrasi di negara kita. Bagaimana tidak, saat ini sulit sekali untuk mengadakan audiensi atau kita sebut sebagai musyawarah dengan bertemu banyak pihak.

Gedung DPR MPR Kosong Ketika Masa Reses di Perpanjang

Terjadi kekosongan di beberapa sektor akibat dari program WFH dan karantina. Fungsi fungsi pengawasan menjadi sangat minim karena baik penegak hokum maupun DPR memiliki keterbatasan dari segi sumber daya. Artinya kita harus percaya kepada pemerintah dan juga dalam hal ini BNPB selaku Leading sektor dalam penanganan Covid 19.

Facebook Comments

About Fahmy Yusuf

Sarjana Humaniora Universitas Indonesia, Magister Pertahanan Universitas Pertahanan. Editorial Ruang Rakyat.