This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Ini Yang Harus Kamu Ketahui Tentang Usaha Angkringan

Ini Yang Harus Kamu Ketahui Tentang Usaha Angkringan

Yogyakarta, RuangRakyat — Halo para pembaca  RuangRakyat, kali ini saya mau membahas tentang potensi usaha tempat makan yang hits di kalangan mahasiswa jogja. Yaa… Angkringan, walaupun biasanya hanya berupa gerobak beroda atau meja kecil bertutup terpal,  angkringan mempunyai sebuah cerita menarik dalam perkembangannya. Berikut sekelumit catatan tentang usaha jajanan murah khas rakyat.

Penjaja angkringan dengan modal yang tidak terlalu banyak, dapat berkembang dengan pesat dengan menjadi juragan angkringan. Juragan angkringan merupakan usaha wara laba yang semakin banyak jaringannya. Dalam rekruitmen penjual, seorang juragan hanya mencari orang-orang sekitar lingkungannya, baik saudara ataupun tetangga yang kemudian diberikan modal berupa gerobak. Selain itu juga dengan cara mewariskan usahanya secara kekeluargaan atau turun temurun.

Angkringan sudah menjadi ciri khas bagi kota pelajar Yogyakarta. Angkringan di wilayah Yogyakarta didominasi oleh orang-orang Klaten. Diperkirakan 30.000 orang terlibat dan bergantung dari angkringan, bahkan setiap harinya perputaran uang di bisnis ini mencapai 600 juta rupiah. Sebuah jumlah yang cukup fantastis bagi usaha yang tidak memerlukan modal banyak.

Para pedagang angkringan banyak berasal dari pedesaan terutama daerah sekitar Klaten. Klaten adalah salah satu daerah yang masuk Provinsi Jawa Tengah berbatasan dengan Yogyakarta. Secara geografis beberapa daerah di Klaten cenderung tandus dan kering sehingga tidak cocok untuk pertanian, dan agar dapur tetap mengebul maka banyak yang banting setir menjadi pedagang angkringan. Jadi wajar saja jika angkringan telah menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat desa.

Berawal dari modal pribadi, para penjaja nasi kucing ini mengembangkan usaha angkringannya secara mandiri. Sebagai usaha kecil menengah, angkringan dapat menjadi salah satu opsi mata pencaharian ditengah kondisi sumber air yang tidak memadahi di Klaten. Masyarakat yang tidak biasa dengan kegiatan perdagangan dihadapkan dengan suatu keadaan yang menantang mereka, namun ini juga sekaligus peluang dalam merubah nasib.

Keberhasilan salah satu diantara mereka dapat menjadi motivasi bagi yang lainnya untuk melakukan usaha yang sama. Secara tidak langsung disana sudah terjadi simbiosis mutualisme. Dengan keterampilan memasak yang sederhana seperti menggoreng dan membakar sate, membungkus nasi dengan daun pisang, serta membuat minuman susu jahe membuat masyarakat berdaya ditengah menjamurnya makanan siap saji khas barat.

Penghasilan setiap pedagang mencapai seratus sampai dua ratus ribu perhari, kemudian dikalikan dengan anak buahnya (jumlah gerobak angkringan), adalah hasil yang fantastis dalam perdagangan mikro. Dengan begitu mereka mampu membangun pedesaan.

Di sisi lain usaha kuliner murah ini juga menjadi salah satu saluran mobilitas sosial sehingga status sosial mereka perlahan mengalami perkembangan dari pengangguran mereka dapat memiliki pekerjaan, penjaja biasa menjadi seorang juragan, dan juragan memiliki pengaruh yang luas dalam masyarakat desa sehingga juragan bisa menjadi lurah maupun anggota DPRD kabupaten. Sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa.

(sumber gambar : beritajogja.id)

 

Facebook Comments

About Ardhana Reswari

Seorang Mahasiswa Ilmu Sejarah tingkat akhir di Universitas Gajah Mada. Tutor mahasiswa asing di Inculs UGM. Menjurarai beberapa perlombaan karya tulis tingkat nasional. Memiliki minat dalam penulisan Sejarah kesehatan dan Ekonomi Kerakyatan.