This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Manfaat Jahe Merah dalam Menangkal Pandemik Corona

Manfaat Jahe Merah dalam Menangkal Pandemik Corona

 

Seiring dengan merebaknya Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau virus corona, pemerintah melakukan upaya peminimalisasian penyebaran virus melalui imbauan kepada banyak kantor, sekolah, univeritas dan pabrik dihimbau untuk melakukan aktivitasnya di rumah (Work From Home/Study From Home).

Masyarakat diminta melakukan physical distancing dengan menghindari kerumunan, membatasi kontak fisik, tetap tinggal dirumah, menjaga kualitas daya tahan tubuh, dan menjaga kebersihan diri.

Selain hal-hal tersebut, kita perlu mengingat pernyataan Charles Darwin pada 1809 bahwa “It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent, but the one most responsive to change.”
“Bukanlah spesies yang paling kuat ataupun paling cerdas yang akan bertahan hidup, namun makhluk yang akan bertahan hidup adalah mereka yang mampu merespons perubahan secara tepat.”

Berdasarkan hal tersebut, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu penentu utama keberlanjutan kehidupan. Dalam konteks kehidupan manusia, yang mencerminkan survival of the fittest ini tentu saja manusia dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya.

Corona adalah virus yang menjadi sebuah pandemik. Kita ketahui bahwa sebuah virus ditetapkan sebagai pandemik jika penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut telah menyerang banyak orang di seluruh dunia dalam waktu yang berdekatan. Namun, corona bukanlah pandemic baru yang pernah terjadi, beberapa pandemik penyakit dunia sebelumnya pernah terjadi, di antaranya seperti Justinian Plaque (541-542), The Black Death (1347-1351), Kolera (1852-1860), Flu Spanyol (1918-1919), Flu Asia (1956-1958), Flu Hong Kong (1968-1970), HIV/AIDS (1980-sekarang), SARS (2002-2003), Flu Babi (2009-2010), dan Ebola (2014-2016).

Masyarakat mulai melakukan penyesuaian dengan lingkungan, menghadapi tekanan lingkungan yang kini tengah berisiko terpapar Virus Corona, untuk dapat bertahan hidup. Salah satu caranya yaitu menjaga kualitas daya tahan tubuh melalui pemanfaatan makanan/minuman bergizi. Beberapa waktu lalu sempat beredar informasi terkait khasiat jahe merah (Zingiber officinale roscoe) yang disebut dapat menyembuhkan penderitanya. Masyarakat kemudian mulai memburu jahe merah yang menyebabkan permintaan menjadi tinggi dan harga ahe merah melonjak.

Di Indonesia, terdapat tiga jenis jahe yaitu jahe putih (jahe kuning besar, jahe gajah, jahe badak atau jahe kombongan), jahe putih kecil (jahe sunti atau jahe emprit), dan jahe merah. jahe tersebut banyak dibudidayakan secara intensif di daerah Rejang Lebong (Bengkulu), Bogor, Magelang, Yogyakarta, dan Malang.

Jahe adalah tanaman rempah yang berasal dari Asia Selatan, dan sekarang telah tersebar ke seluruh dunia. Masyarakat China telah memanfaatkan jahe sebagai penyedap makanan bahkan sejak abad ke 6 S.M., dan para pedagang Arab telah mengenalkan jahe dan rempah-rempah lainnya sebagai bumbu masakan ke kawasan Mediterania sebelum abad 1 Sesudah Masehi, dan selanjutnya dikenalkan ke Eropa sebagai bumbu masakan.

Di Yunani, jahe digunakan pertama kali sebagai obat herbal untuk mengatasi penyakit vertigo, mual-mual, dan mabuk perjalanan (Goulart, 1995; Reader’s Digest, 2004). Pada abad ke 16, di Inggris Raja Hendry ke VIII merekomendasikan jahe untuk mengatasi wabah penyakit (Plague).

Jahe merah mempunyai komponen volatile (minyak atsiri) dan non volatile (oleoresin) paling tinggi jika dibandingkan dengan jenis jahe yang lain yaitu kandungan minyak atsiri sekitar 2,58-3,90% dan oleoresin 3% (Hapsoh et al., 2012). Komponen inilah yang bermanfaat bagi kesehatan.

Ternyata, jahe merah memang dapat meningkatkan daya tahan tubuh namun bukan berfungsi sebagai penyembuh atau antivirus, khususnya virus corona SARS-CoV-2. Jahe merah hanya dapat membantu meringankan gejala yang ditimbulkan.

Hal ini disebabkan karena beberapa senyawa dalam oleoresin jahe, termasuk gingerol, shogaol, dan zingeron memberikan aktivitas farmakologi dan fisiologis antara lain seperti efek antiinflammasi (anti radang), analgesik (pereda nyeri), antikarsinogenik (pembatas dan pencegah kanker), dan antioksidan (melawan radikal bebas) (Tjendraputra et al., 2001; Giriraju and Yunus, 2013; Ozougwu et al., 2016).
Dengan demikian, jahe merah baik untuk dikonsumsi sebagai penyesuaian diri agar daya tahan tubuh tetap terjaga. Mengonsumsi jahe merah dalam jumlah wajar adalah hal bijak, guna mencukupi kebutuhan diri dan mencegah kelangkaan di masa mendatang.

 

Referensi:
Hapsoh, Yaya H, Elisa J. (2012). Budidadya dan teknologi pasca panen jahe. Medan: USU Press.

Goulart, F.S. (1995). Super Healing Foods. Reward Books, a member of Penguin Putnam Inc. New York.

Tjendraputra, E., Tran V.H., Liu-brennan D., Roufogalis B.D., Duke C.C., (2001). Effect of ginger constituents and synthetic analogues on cyclooxygenase-2 enzyme in intact cells. Bioorg Chem, 163 (2001).
Ozougwu, J.C., Elom M.O., Obimba K.C., Obiukwu C.E., Usanga V.U. (2016). Ameliorative effects of Zingiber officinale extracts against experimentallyinduced hepatotoxicity in rats. Am.-Eurasian J. Toxicol. Sci., 8(2).

Giriraju, A. and Yunus, G.Y. (2013). Assessment of antimicrobial potential of 10% ginger extract against Streptococcus mutans, Candida albicans, and Enterococcus faecalis : An in vitro study. Indian J. Dent. Res, 24(4).

Facebook Comments