This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Membaca Taktik Perang Amerika VS Iran Dalam Kacamata Perang Asimetris Part I

Membaca Taktik Perang Amerika VS Iran Dalam Kacamata Perang Asimetris Part I

Awal Januari 2020 menjadi momentum dari banyak peristiwa mengejutkan baik dari dalam maupun luar negeri. Satu dari isu yang terus menjadi sorotan detik dan menitnya adalah pagelaran perang yang secara tidak resmi dideklarasikan antara Amerika dan Iran ini terjadi akibat dari assasination yang dilakukan AS menggunakan drone yang berhasi membunuh Jenderal berpengaruh di Iran, Qasem Soleimani.

US Drone Used To Kill General Qasem. (dailymail.co.uk)

Meskipun tindak tanduk dan manuver yang dilakukan oleh Presiden Trump tidak sepenuhnya didukung oleh kongres Amerika Serikat, namun ia telah memulai genderang perang kepada Iran yang kini telah beraliansi dengan Iraq. Berbagai spekulasi muncul di ruang siber menerka apa sebenaranya motif Trump melakukan pembunuhan yang ia klaim sebagai “mencegah peperangan”. Isu yang paling kuat adalah untuk mengatrol elektabilitasnya yang kian terpuruk belakangan ini bahkan impeachment telah dan sedang berlangsung untuk memakzulkan dirinya. Memulai perang baru artinya mendapatkan atensi dan perhatian lebih dari masyarakat, sayangnya masyarakat Amerika juga menyadari bahwa perang ini hanya akan membawa kerugian lebih besar bagi Amerika Serikat di waktu resesi global.

Dalam rilisan beberapa media Amerika dinyatakan akan terjadi protest besar menolak peperangan dengan Iran dengan hashtag #NoWarWithIran di 180 titik.

Marches against war with Iran will take place across the U.S. (Image: NoWarWithIran)

“America, this is an emergency. If we spiral into war with Iran, millions could die. We have a short window of time to stop it. We need a massive protest.”(Common Dream)

Gerakan ini terinisiasi setelah Iran secara simbolis mengibarkan bendera Merah di atas Masjid suci Jamkaran di kota suci Qom yang kemudian disusul dengan serangan roket ke base dan juga kedutaan Amerika di Iraq. Belum pasti berapa korban yang jatuh akibat serangan ini berbagai media klaim sudah 80 orang korban jiwa tewas, hal ini segera direspon dengan mengirimkan pasukan sebanyak 3500 personil secara bertahap ke Kuwait.

Meskipun kerugian akan jauh lebih banyak diderita oleh Amerika dalam sudut pandang asimetris, namun dalam perang konvensional Amerika menguasai hampir seluruh spektrum. Untuk memudahkan penulis melampirkan grafik yang dikutip dari kompas.com mengenai perbandingan alutsista kedua negara tersebut.

Perbandingan postur militer AS dan Iran (kompas.com)

Penulis tidak akan banyak menjelaskan mengenai postur pertahanan kedua negara, dikarenakan sudah sangat jelas jika diadu kekuatan antar kedua negara ini, bahkan tanpa bantuan pasukan sekutu Amerika Serikat pun akan dapat meluluhlantahkan Iran dengan serangan totalnya. Sayangnya dalam terminologi perang asimetris, kekuatan pihak yang terlihat sebagai si lemah akan banyak melemahkan si kuat. disinilah seni berperang akan mengubah sejarah untuk selamanya.

———–

Pasca serangan misil ke base dan kantor kedubes AS di Iraq Trump memilih membalas dengan memberikan sanksi ekonomi kepada Iran dan berharap Iran tidak melanjutkan serangan misilnya. Trump menyadari bahwa Amerika Serikat tidak siap dengan perang teluk ke- 2 yang dapat mengorbankan jutaan nyawa. Ia memilih memerangi Iran lewat perang urat syaraf dan economic warfare sambil menunggu serangan lanjutan oleh Iran.  Sebuah pilihan yang bijak dengan wait and see.

Disisi lain Iran juga memperhitungkan segala kemampuan yang ada dalam strategi perang yang sebisa mungkin tidak dapat ditebak oleh Amerika Serikat, setidaknya oleh NSA. Iran memutus agreement internasional tentang pembatas nuklir yang telah disepakati tahun 2015, hal ini jelas mimpi buruk bagi Amerika jika senjata nuklir Iran menjadi last option dalam peperangan ini.

Tentu saja sebelum jauh kesana Iran mencari banyak allies dan dukungan internasional. Negara-negara yang dapat memberi support seperti Russia, Lebanon dan Korea Utara. Seperti yang dikatakan oleh ancient proverb “The enemy of my enemy is my friend“. Menariknya penulis tidak melihat China sebagai allies dari Iran dalam perang ini.

Iran tidak mungkin melakukan perang terbuka terhadap Amerika Serikat terlebih wilayahnya yang dijadikan battlefield dalam perang konvensional. Seperti yang juga disampaikan oleh Clausewitz dalam On War, “Strategy is the necessary response to the inescapable reality of limited resources. No entity, regardless of size, has unlimited resources. Strategy, therefore, is about making choices on how we will concentrate our limited resources to achieve competitive advantage.

All else follows from there.” Jika diartikan secara singkat adalah bagaimana memanfaatkan kemampuan yang terbatas dalam mencapai target yang maksimal. Dari sinilah kita melihat dan memahami bahwa perang asimetris adalah kunci dalam peperangan post-modern jika mengacu pada tatanan perang generasi ke-4.

Tulisan ini akan dilanjutkan dalam part II.

Facebook Comments

About Fahmy Yusuf

Sarjana Humaniora Universitas Indonesia, Magister Pertahanan Universitas Pertahanan. Editorial Ruang Rakyat.