This is the default blog title

This is the default blog subtitle.

Tsar Bomba, Bom Atom Terbesar Yang Pernah Diledakan Manusia di Bumi

Tsar Bomba, Bom Atom Terbesar Yang Pernah Diledakan Manusia di Bumi

Saat masih berlangsungnya perang dingin, pada pagi hari 30 Oktober 1961, seorang pembom Soviet Tu-95 lepas landas dari lapangan terbang Olenya di Semenanjung Kola di ujung utara Rusia.

Bomb Tu-95 adalah versi yang dimodifikasi secara khusus dari jenis yang mulai digunakan beberapa tahun sebelumnya; monster besar, sayap lebar, bermesin empat yang ditugaskan membawa segudang bahan nuklir Rusia.

Dekade terakhir kala itu telah melihat langkah besar dalam penelitian nuklir Soviet. Perang Dunia II telah menempatkan AS dan Uni Soviet di zona yang sama, tetapi periode pasca-perang telah melihat hubungan yang dingin dan kemudian membeku antar dua negara besar tersebut. Dan Soviet, dihadapkan dengan persaingan melawan satu-satunya negara adikuasa nuklir dunia, hanya memiliki satu pilihan – untuk mengejar ketinggalan. Membuat terobosan dengan cepat.

Pada 29 Agustus 1949, Soviet telah menguji perangkat nuklir pertama mereka – yang dikenal sebagai ‘Joe-1’ di Barat – di padang rumput terpencil di tempat yang sekarang bernama Kazakhstan, menggunakan intelijen yang diperoleh dari menyusupnya program bom atom AS. Pada tahun-tahun berikutnya, program pengujian mereka telah meningkat pesat, meledakkan lebih dari 80 perangkat; pada tahun 1958 saja, Soviet menguji 36 bom nuklir.

Tsar Bomba bukan bom nuklir biasa. Itu adalah hasil dari upaya demam oleh para ilmuwan USSR untuk membuat senjata nuklir paling kuat, didorong oleh keinginan Perdana Menteri Nikita Khruschchev untuk membuat dunia gemetar pada kekuatan teknologi Soviet. Itu lebih dari sekadar keburukan logam yang terlalu besar untuk muat di dalam bahkan pada pesawat terbesar – itu adalah perusak kota, senjata pilihan terakhir.

Tupolev, dicat putih terang untuk mengurangi efek dari ledakan bom, tiba di titik sasaran. Novya Zemlya, kepulauan yang jarang penduduknya di Laut Barents, di atas pinggiran utara Uni Soviet yang beku. Pilot Tupolev, Mayor Andrei Durnovtsev, membawa pesawat itu ke Teluk Mityushikha, wilayah uji coba Soviet, pada ketinggian sekitar 34.000 kaki (10 km). Sebuah bomber Tu-16 yang lebih kecil dan dimodifikasi terbang di samping, siap untuk merekam ledakan berikutnya dan memantau sampel udara saat ia terbang dari zona ledakan.

Efek Ledakan

Semua bangunan di desa Severny (baik terbuat dari kayu ataupun bata) yang terletak pada 55km dari lokasi ujicoba ikut hancur. Seorang partisipan yang ikut dalam ujicoba melihat cahaya yang sangat cerah meskipun dia sudah menggunakan kacamata hitam dan merasakan efek gelombang panas bahkan dalam jarak 270 kilometer.

Sebuah gelombang kejut (Shock Wave)  terasa pada jarak 700 kilometer. Panel kaca bahkan pecah pada jarak 900 kilometer. Pemfokusan atmosfer bahkan menyebabkan kerusakan besar pada jarak yang sangat jauh, memecahkan jendela kaca di Norway dan Finlandia.

Gelombang Seismik (Energi yang menyebar kedalam lapisan bumi yang dapat menyebabkan gempa bumi ataupun ledakan) yang ditimbulkan dari ledakan bahkan dapat diukur pada bagian ketiga dari bumi, magnitudo gelombang seismik tersebut sekitar 5 – 5,25. Ledakan dapat terlihat sampai 1.000 km dari tempat peledakan.

Pemimpin Uni Soviet kala itu, Nikita Khrushchev mengatakan, langkah ini merupakan cara untuk menunjukkan kepada negara Barat bahwa Soviet patut menjadi negara adidaya. Atau dalam istilah mereka disebut Kuzkina mat, demikian seperti dimuat situs Gizmodo.

Beberapa pekan sebelumnya, Soviet telah melakukan uji coba peledakkan bom nuklir berkekuatan 30 megaton, namun Khrushchev belum puas.

Ia pun memerintahkan para ahli militer  untuk menciptakan bom yang jauh lebih besar dan efeknya lebih dahsyat.

Uji coba Tsar Bomba ini menuai kecaman dari pihak internasional. Kementerian Luar Negeri Inggris menyatakan bahwa 87 negara menuntut pemimpin Soviet agar menghentikan uji coba dan penggunanan bom 50 megaton yang bisa berdampak parah pada kesehatan jutaan manusia di muka Bumi.

Juru bicara Gedung Putih Amerika Serikat pun mengecam penggunaan bom 50 megaton. “Satu bom dengan kekuatan 100 megaton bisa lebih parah ketimbang 5 bom dengan kekuatan 20 megaton,” kata mereka kala itu.

 

Facebook Comments

About Fahmy Yusuf

Sarjana Humaniora Universitas Indonesia, Magister Pertahanan Universitas Pertahanan. Editorial Ruang Rakyat.